
Soca Birawa menyeringai lebar. Sudah lama dia tidak mendapat lawan tangguh. Kali ini pasti akan membuat nya bersemangat.
Setelah berteriak lantang untuk memompa semangat nya, Soca Birawa melesat cepat kearah Arya Pethak dengan kedua tangan terbuka lebar untuk menyerang.
Satu hantaman tangan kanan dia layangkan ke arah Arya Pethak. Pemuda tampan itu berkelit ke samping kanan. Namun tangan kiri Soca Birawa yang membentuk cakar langsung terayun ke arah Arya Pethak berkelit.
Pemuda itu segera merunduk sedikit lalu menyapu kaki Soca Birawa dengan cepat. Dengan satu hentakan keras, Soca Birawa melenting tinggi ke udara kemudian melayang turun dengan kepala di bawah. Ketua Perguruan Pedang Setan itu segera melayangkan pukulan tapak bertubi-tubi ke arah Arya Pethak yang segera menyambut serangan itu dengan kedua tapak tangan kanan kiri nya.
Jlaaarr jlaaarr!!!
Dua ledakan keras terdengar saat kedua tapak tangan beradu dan kedua nya sama sama terdorong mundur beberapa langkah. Soca Birawa merasakan tangan nya panas saat beradu tenaga dalam dengan Arya Pethak. Pun pemuda itu merasakan hal yang sama, pertama mereka memiliki tenaga dalam yang sama tingginya meskipun Arya Pethak hanya menggunakan separuh tenaga dalam nya. Arya Pethak memang sengaja menyimpan tenaga dalam nya.
'Pemuda ini tidak bisa di anggap remeh. Aku tidak boleh main-main lagi', batin Soca Birawa sambil menatap tajam ke arah Arya Pethak.
Perlahan dia mencabut Pedang Setan di punggungnya. Senjata bergagang kayu dengan ujung berukir kepala tengkorak manusia itu memiliki bilah pedang berwarna hitam serta mengeluarkan bau busuk yang menusuk hidung.
Arya Pethak yang mencium bau busuk menyengat itu segera mundur selangkah setelah melihat Soca Birawa melesat ke arah nya.
Begitu Arya Pethak masuk jangkauan pedangnya, Soca Birawa segera babatkan Pedang Setan ke arah leher lawan.
Shreeeeettttthhh...!!
Putra angkat Mpu Prawira itu melompat mundur selangkah hingga sabetan pedang hanya menyambar udara sejengkal dari lehernya.
Dengan cepat ia hantamkan tangan kirinya kearah perut Soca Birawa. Angin panas hawa tenaga dalam berdesir kencang kearah perut Soca Birawa.
Ketua Perguruan Pedang Setan itu langsung memutar tubuhnya lalu membabatkan pedang nya ke tangan kiri Arya Pethak. Seketika Arya Pethak tarik serangan lalu melompat mundur beberapa langkah.
Bau busuk menusuk hidung dari Pedang Setan benar-benar mengganggu konsentrasi pemuda itu.
Soca Birawa tak kendurkan serangan. Lelaki bertubuh gempal itu segera hentakkan kaki ke tanah lalu melesat cepat kearah Arya Pethak.
Sabetan Pedang Setan berhasil di hindari oleh Arya Pethak, namun tendangan keras kaki kiri Soca Birawa membuat Arya Pethak terpental ke belakang. Dadanya sesak dan darah segar menetes dari sudut bibirnya.
Putra angkat Mpu Prawira itu segera berdiri saat Soca Birawa kembali menyerangnya dengan jurus jurus maut Pedang Setan.
Pertarungan sengit antara mereka terus terjadi. Hampir 15 jurus berlalu namun belum ada tanda tanda pertarungan antara mereka akan berakhir.
Di sisi lain, para prajurit Katumenggungan Kurawan terus mengepung tempat itu dengan senjata terhunus. Tumenggung Jaran Gandi baru saja menghabisi nyawa seorang anggota Perguruan Pedang Setan, langsung melesat cepat kearah Kuda Amerta yang keteteran di serang anak buah Soca Birawa.
Sementara itu, Ragil Kuning dan Paramita yang baru saja sampai di tempat itu langsung mencabut pedang mereka masing-masing. Tanpa basa-basi mereka langsung menyerang Karnataka yang baru mematahkan leher seorang prajurit Katumenggungan.
Arya Pethak melenting tinggi ke udara menghindari tusukan Pedang Setan yang mengincar dadanya. Namun Soca Birawa tak tinggal diam, buru buru mengejar Arya Pethak dengan sabetan pedang yang mengarah ke perut Arya Pethak usai pemuda itu mendarat di tanah.
Shrraaaakkkkhhhh
Meski berhasil menghindar, sabetan Pedang Setan tetap berhasil merobek baju putih Arya Pethak.
Melihat baju kesayangan nya robek, Arya Pethak marah besar. Dia segera melepas bajunya dan menjadikan nya sebagai penutup hidung nya agar bau menyengat hidung dari Pedang Setan tidak menggangu konsentrasi nya.
Arya Pethak segera merapal mantra Ajian Lembu Sekilan nya. Sebuah sinar kuning keemasan yang tipis segera menutupi seluruh tubuh Arya Pethak hingga saat Soca Birawa membabatkan Pedang Setan, Arya Pethak sudah bersiap untuk memberikan serangan balasan.
Shreeeeettttthhh..
Mata Soca Birawa melotot lebar saat senjata pusaka nya tidak mampu menembus kulit Arya Pethak. Malah dia gelagapan saat Arya Pethak menghantam dada nya dengan keras.
Dhhheeeppppphhh..
Aaauuuuggggghhhhh!!
Soca Birawa meraung keras. Tubuh nya terpental sejauh 2 tombak dan menghujam keras ke tanah. Pemimpin Perguruan Pedang Setan itu merasakan sakit yang luar biasa pada dada nya.
Huooooggghhhh!!
Usai muntah darah kehitaman, Soca Birawa berdiri sembari mengusap sisa darah di bibirnya yang hitam. Pria berusia 4 warsa itu segera memusatkan seluruh tenaga dalam nya pada Pedang Setan di tangan kanannya. Dia merapal Ajian Pembelah Langit kemudian menyalurkannya kepada Pedang Setan di tangan kanannya.
Sinar biru bercampur asap hitam bergulung gulung di Pedang Setan di tangan Soca Birawa. Soca Birawa ingin mengadu nyawa dengan Arya Pethak.
Arya Pethak diam-diam mengheningkan cipta sebentar lalu dari dadanya muncul Keris Mpu Gandring yang memancarkan pamor kuning kemerahan yang menakutkan.
Soca Birawa melotot lebar saat melihat keris pusaka di tangan Arya Pethak. Meski sempat ciut nyalinya, Soca Birawa terus melesat cepat kearah Arya Pethak sembari membabatkan Pedang Setan yang bersinar biru kehitaman.
Tanpa tedeng aling-aling, Arya Pethak menangkis sabetan pedang dari lawan dengan Keris Mpu Gandring miliknya.
Thrrriiinnnggggg...
Dhuuaaaaaaarrrrrr!!!
Ledakan dahsyat terdengar. Soca Birawa melayang mundur dengan cepat. Tubuh pemimpin Perguruan Pedang Setan itu menghantam dinding tembok Katumenggungan Kurawan dengan sangat keras.
__ADS_1
Di akhir napas hidupnya, Soca Birawa sempat menunjuk pada Arya Pethak sebelumnya akhirnya diam untuk selamanya. Dari mulut, mata, hidung dan telinga Soca Birawa mengeluarkan darah pertanda seluruh organ dalam tubuh nya hancur. Dia tewas dengan mata melotot lebar.
Melihat lawannya tewas, Arya Pethak kembali menyimpan Keris Mpu Gandring di dalam tubuhnya.
Tapi Tumenggung Jaran Gandi yang sempat melihat Arya Pethak menghabisi nyawa Soca Birawa memakai Keris Mpu Gandring sedikit terperanjat melihat pusaka di tangan Arya Pethak. Berjuta pertanyaan melintas di kepala perwira tinggi prajurit Kadipaten Kurawan itu.
Usai menyimpan Keris Mpu Gandring di dalam tubuhnya, Arya Pethak langsung menyambar Pedang Setan yang menancap di tanah. Segera dia melesat ke arah Sekarwangi dan Paramita yang mengeroyok Karnataka.
Satu sabetan pedang terarah pada leher Karnataka. Angin dingin berbau busuk ikut mengiringi sabetan Pedang Setan yang kini sudah menjadi senjata Arya Pethak.
Shreeeeettttthhh!!
Karnataka yang merasakan angin dingin bahaya langsung merunduk sedikit untuk menghindari sabetan pedang dari Arya Pethak, namun dia lupa dengan Paramita yang jurus-jurus nya cukup merepotkan nya tadi.
Pertahanan Karnataka yang terbuka lebar di manfaatkan oleh Paramita sebaik-baiknya. Dengan memanfaatkan pundak Sekarwangi yang baru saja mundur sebagai tumpuan, sabetan pedang Sekarwangi langsung mengarah ke dada Karnataka.
Shrraaaakkkkhhhh...
Aaaarrrgggggghhhhh!!
Karnataka menjerit keras sembari melompat mundur beberapa langkah ke belakang. Bajunya robek dan sebuah garis tipis terlihat di dadanya. Tak berapa lama kemudian darah mulai keluar dari luka potong yang dia terima.
Secepat mungkin Karnataka menotok beberapa titik nadi untuk menghentikan pendarahan pada luka nya kemudian meraih obat tabur ke luka akibat sabetan pedang Paramita.
Mata Karnataka nyalang kearah Paramita dan Arya Pethak yang berhasil melukai dadanya.
"Kalian bangsat!
Tak akan ku ampuni dosa kalian", teriak Karnataka sembari memutar pedang di tangan kanannya. Pria bertubuh kekar yang berjuluk Pedang Kegelapan itu langsung melesat ke arah Arya Pethak dengan pedang nya yang berwarna hitam menebas ke arah leher Arya Pethak.
Shreeeeeetttt...
Menggunakan Pedang Setan, Arya Pethak segera menangkis sabetan pedang Karnataka.
Thhraaaangggggggg...
Bunga api kecil tercipta dari benturan dua senjata itu. Tangan kiri Karnataka menghantam ke arah kepala Arya Pethak dengan cepat, pemuda tampan itu merunduk sedikit.
Karnataka terus memburu dengan ayunan pedang hitam nya. Gerakan keduanya sama-sama cepat karena Arya Pethak yang menggunakan Ajian Langkah Dewa Angin mampu mengimbangi ilmu meringankan tubuh Karnataka.
Setiap serangan Karnataka selalu berhasil di hindari maupun di tangkis oleh Arya Pethak hingga membuat wakil pimpinan Perguruan Pedang Setan itu semakin murka. Sudah lebih dari 20 jurus namun dia belum bisa menundukkan murid Mpu Prawira itu.
Karnataka melompat mundur sejauh 2 tombak. Nafasnya mulai ngos-ngosan karena terlalu lama bertarung.
Dengan cepat, Karnataka mengangkat pedang nya di atas kepala, sedangkan tangan kirinya berada di depan dada. Dia ingin mengalahkan Arya Pethak dalam satu serangan saja. Perlahan sinar merah melingkupi bilah pedang hitam nya. Lantas dia menebaskan pedangnya kearah Arya Pethak secepat mungkin.
Whhhuuuuuttttthhhh...
Selarik sinar merah menyala seperti api menerabas cepat kearah Arya Pethak. Pemuda tampan itu langsung berguling ke tanah untuk menghindari sinar merah menyala dari pedang hitam Karnataka.
Blllaaammmmmmmm!!
Arya Pethak dengan satu hentakan keras di tanah yang dia gunakan sebagai pijakan, melesat cepat kearah Karnataka dengan Ajian Langkah Dewa Angin nya.
Dengan gerakan yang susah diikuti oleh mata biasa, Arya Pethak menebaskan Pedang Setan kearah Karnataka yang terlambat menghindar.
Chrraaasssshhh!!
AAAARRRGGGGGGHHHHH!!
Karnataka menjerit keras saat Pedang Setan di tangan Arya Pethak memotong lengan kiri nya. Lelaki berumur 3 warsa lebih itu segera menotok jalan darah nya agar darah yang mengalir keluar segera berhenti.
Sambil meringis menahan rasa sakit, Karnataka yang terluka parah akibat tebasan Pedang Setan di tangan Arya Pethak melirik ke kiri dan kanan. Dia memikirkan cara untuk melarikan diri dari tempat itu.
Dengan menggeram keras, Karnataka ayunkan pedang hitam yang diliputi oleh sinar merah itu kearah Arya Pethak, Sekarwangi dan Paramita.
Melihat bahaya mengancam, Arya Pethak segera memapak serangan Karnataka dengan Pedang Setan di tangan kanannya.
Blllaaammmmmmmm!!!
Arya Pethak langsung menyambar tubuh Sekarwangi dan Paramita untuk menghindari gelombang kejut yang muncul dari ledakan dahsyat itu.
Mereka mendarat di samping Tumenggung Jaran Gandi yang masih berjaga jaga di samping Kuda Amerta yang tengah luka dalam.
Saat asap mulai menghilang, Karnataka dan Si Pedang Terbang telah menghilang dari pandangan semua orang di tempat itu.
"Mereka sudah pergi, Gusti Tumenggung. Sepertinya mereka mempunyai tujuan tertentu dengan menyerang ke Katumenggungan ini", ujar Arya Pethak sambil menatap ke sekeliling tempat itu.
Hemmmmmmm..
__ADS_1
Tumenggung Jaran Gandi mendengus dingin. Pikiran nya langsung terpaku pada keris pusaka yang di miliki oleh Arya Pethak.
'Pasti mereka mengincar pusaka punya pemuda ini', batin Tumenggung Jaran Gandi.
"Kejadian ini akan ku laporkan pada Gusti Adipati Lembu Panoleh. Mereka berani menyatroni Katumenggungan Kurawan itu sama saja menantang Kadipaten Kurawan secara keseluruhan.
Sekarang kau bantu aku untuk menolong Kuda Amerta, Arya Pethak. Aku yakin kau bisa melakukannya", ujar Tumenggung Jaran Gandi sambil tersenyum tipis.
Gajah Wiru dan Arya Pethak segera memapah Kuda Amerta ke kamarnya sementara seorang pelayan Katumenggungan segera memanggil tabib istana Kurawan untuk mengobati Kuda Amerta.
Malam itu para prajurit Katumenggungan bersiaga penuh takut dengan serangan susulan yang mungkin terjadi.
Klungsur yang ketiduran di dipan kayu dekat kandang kuda, celingukan mencari tahu tentang apa yang telah terjadi.
"Memang apa yang baru saja terjadi Ndoro Pethak?
Sepertinya baru saja terjadi pertarungan", tanya Klungsur pada Arya Pethak yang duduk di depan kamar tidur nya.
"Kau ini tidur apa pingsan?
Semua kawan menghadapi para penyusup yang ingin mengacau di Katumenggungan. Bisa bisa nya kau tidak bangun dari tidur mu padahal suaranya keras sekali", omel Arya Pethak sambil menatap ke arah Klungsur.
"Lha saya kecapekan gara gara tadi siang loh Ndoro, jadi harap maklum kalau tidur nyenyak", alasan Klungsur sambil tersenyum malu-malu di samping Arya Pethak.
"Dasar kamu saja yang tidur mirip kebo. Masih untung orang nya kabur sebelum mengamuk, coba dia lihat kamu tidur terus di serang apa kamu gak mampus jika dalam keadaan tidur?", Arya Pethak melengos pergi menuju ke tempat tidur nya. Meninggalkan Klungsur yang tersenyum kecut sambil garuk-garuk kepalanya.
Suara kokok ayam jantan bersahutan dari kandangnya menandakan bahwa pagi telah tiba. Langit timur mulai terang karena sinar matahari pagi akan segera menerangi jagat raya.
Berita mengenai kejadian penyerangan Katumenggungan Kurawan langsung menyebar ke seluruh wilayah kota Kadipaten Kurawan. Berita itu menyebabkan Adipati Lembu Panoleh mengunjungi Katumenggungan Kurawan untuk memastikan keselamatan para warga Katumenggungan.
Di serambi Katumenggungan, Adipati Lembu Panoleh beserta Patih Lembu Peteng duduk bersila di hadapan Tumenggung Jaran Gandi dan Arya Pethak.
"Jadi benar kau yang menghabisi nyawa Soca Birawa, anak muda?", tanya Lembu Panoleh pada Arya Pethak segera.
"Hamba tidak tahu siapa itu Soca Birawa, Gusti Adipati. Yang jelas dia membawa pedang bergagang kepala tengkorak ini waktu menyerang kemari", jawab Arya Pethak sambil meletakkan Pedang Setan ke hadapan Adipati Lembu Panoleh.
"Itu adalah senjata Soca Birawa, anak muda.
Berarti Kelompok Kelabang Ireng mulai bergerak karena berani menyerang.
Paman Patih,
Apa saran mu untuk menghadapi masalah ini? Kita tidak boleh berdiam diri terlalu lama. Cepat atau lambat mereka pasti menyerang Kadipaten Kurawan jika di biarkan", Adipati Lembu Panoleh menatap ke wajah sepuh Patih Lembu Peteng.
"Kita harus mendahului langkah mereka Gusti Adipati. Menurut hamba, hanya Senopati Dandang Mangore saja yang mampu melawan Ronggo Geni, pemimpin Kelompok Kelabang Ireng di wilayah kita.
Menurut telik sandi kita, mereka bermarkas di lereng Gunung Lawu tepatnya di barat Kali Ulo", ujar Patih Lembu Peteng sembari menghormat pada Adipati Lembu Panoleh.
Adipati Lembu Panoleh manggut-manggut mendengar saran Patih Lembu Peteng.
"Kalau begitu, persiapkan para prajurit Kurawan yang sudah terlatih. Biar nanti Senopati Dandang Mangore saja yang memimpin", ucap Adipati Lembu Panoleh yang lalu segera menoleh ke arah Arya Pethak.
"Dan kau harus ikut".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya 😁
__ADS_1
Yang suka silahkan tinggalkan jejak dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁
Selamat membaca 🙏😁😁🙏