
Anjani yang melihat pergerakan Gendrawana langsung merogoh kantong baju nya. Gadis cantik itu segera melemparkan 2 jarum sebesar lidi sepanjang 1 jari yang berwarna merah kebiruan kearah Gendrawana.
Shhhrriinggg shriingg!!
Gendrawana yang hampir mencakar Arya Pethak sontak langsung urungkan niatnya saat melihat 2 jarum merah kebiruan yang melesat cepat kearah nya. Sekali hentak, Gendrawana langsung melompat ke belakang untuk menghindari jarum beracun Anjani. Hebatnya jarum berwarna merah kebiruan itu segera berbalik arah dan kembali mengarah ke arah Gendrawana.
'Bangsat!
Ini Jarum Penghancur Sukma. Bila aku sampai terkena goresan sedikit saja, semua ilmu kesaktian ku akan lumpuh', maki Gendrawana sambil berjumpalitan menghindari Jarum Penghancur Sukma yang bergerak sendiri seolah memiliki nyawa. Padahal sebenarnya gerakan jari Anjani lah yang menggerakkan jarum beracun itu.
Setelah Gendrawana cukup jauh, Anjani menggerakkan jemari tangannya hingga Jarum Penghancur Sukma melesat kembali ke tuan nya.
Shuuutt shhutt!!
Dengan sigap Anjani menangkap dua Jarum Penghancur Sukma lalu segera menyimpan benda itu ke balik bajunya.
Gendrawana mendengus keras sambil menatap tajam ke arah Arya Pethak dan kawan-kawan nya.
"Bocah keparat!
Kau berani membunuh murid kesayangan ku. Jangan panggil aku Gendrawana jika aku tidak membuat perhitungan dengan kau", Gendrawana menunjuk pada Arya Pethak.
"Jadi kau guru dari pangeran sesat ini rupanya. Dia sudah menculik murid ku, Arya Pethak membunuh nya dengan cepat itu sudah termasuk berbaik hati padanya.
Kalau aku yang melawan nya, pasti dia akan ku siksa dulu sebelum aku bunuh", sahut Nyi Sawitri yang geram setengah mati pada Raden Margapati.
"Hahahaha..
Jadi kalian kemari untuk menyelematkan gadis itu ya? Terlambat !! Gadis itu sudah kena kutuk pasu yang aku pasang. Kalian tidak akan bisa melepaskan nya jika bukan aku sendiri yang membukanya hahahaha...
Mulanya aku ingin menyelesaikan ritual persetubuhan setan ini agar Raden Margapati bisa menguasai Ajian Iblis Neraka sepenuhnya, hingga aku memasang kutuk pasu agar dia tidak bisa lepas dari alam roh sampai ritual ini selesai.
Tapi karena Raden Margapati sudah tidak ada, lebih baik biarkan gadis itu tetap dalam kutuk pasu selamanya hahahaha", Gendrawana tertawa lepas karena merasa menang dari Arya Pethak dan kawan-kawan.
"Saudara Randu Para, Nini Dewi..
Kalian cepat masuk ke dalam puri kecil ini untuk menyelamatkan Rara Larasati dan Seta Wahana. Aku akan menghadapi iblis tua ini.
Begitu aku bergerak, kalian langsung masuk ke dalam", bisik Arya Pethak sambil bersiap untuk menghadapi Gendrawana.
Randu Para dan Nyi Sawitri mengangguk mengerti. Mereka segera bersiap untuk masuk ke dalam puri kediaman Raden Margapati.
"Klungsur, Anjani..
Jaga Raden Wira Ganggeng. Jangan lengah", perintah Arya Pethak dengan cepat.
"Kami mengerti Ndoro", ujar Klungsur dan Anjani bersamaan.
Usai semua bersiap, Arya Pethak menghirup udara sebanyak mungkin lalu melesat cepat kearah Gendrawana. Dengan cepat ia mengayunkan Pedang Setan di tangan kanannya ke arah Gendrawana.
Bersamaan dengan gerakan cepat Arya Pethak, Nyi Sawitri dan Randu Para melesat masuk ke dalam puri kediaman Raden Margapati untuk mencari Rara Larasati dan Seta Wahana.
Whhuuuuuuuggggh...
Melihat kecepatan gerak Arya Pethak, Gendrawana cukup kaget. Dengan langkah cepat, Raja Iblis dari Gunung Damalung itu mundur selangkah sambil menyentilkan selarik sinar hijau kemerahan ke arah Arya Pethak.
Putra angkat Mpu Prawira yang kini di juluki sebagai Pendekar Pedang Setan itu segera menggerakkan pedangnya menangkis sinar hijau kemerahan yang mengincar kepala nya.
Jllaaaaaarrrr!!!
Ledakan terjadi saat sinar hijau kemerahan itu membentur Pedang Setan. Bilah Pedang Setan bergetar hebat dan pedang nyaris terlepas dari tangan Arya Pethak andai pemuda itu tidak menggenggam erat gagang pedang nya. Arya Pethak sampai terdorong mundur beberapa langkah.
'Tenaga dalam iblis tua ini tidak boleh dianggap remeh. Aku harus berhati-hati', batin Arya Pethak sembari meningkatkan tenaga dalam nya. Jika tadi dia menggunakan sepertiga tenaga dalam nya, kini dia menggunakan dua pertiga bagian tenaga dalam nya.
Kini dia bisa menggunakan beberapa Ajian kanuragan sekaligus tanpa harus kelelahan usai bertarung. Arya Pethak dengan cepat merapal mantra Ajian Lembu Sekilan sebagai persiapan untuk perlindungan dan Ajian Langkah Dewa Angin untuk pergerakan cepat menyerang Gendrawana.
Selarik sinar biru terang terpancar dari tapak tangan kiri Arya Pethak.
Satu jejak kaki kanan keras membuat Arya Pethak melesat cepat bagai kilat ke arah Gendrawana. Kecepatan tinggi nya membuatnya tiba-tiba muncul di hadapan Gendrawana. Kakek tua itu benar benar tak menyangka melihat peningkatan kecepatan Arya Pethak yang memakai Ajian Langkah Dewa Angin.
Satu tusukan Pedang Setan mengincar perut Gendrawana. Pada jarak sedemikian dekat, kakek tua itu tak bisa mengelak dari tusukan Pedang Setan.
Jleeeeppppph!!
Kuatnya tusukan pedang membuat bilah Pedang Setan menembus perut hingga ke punggung Gendrawana. Namun guru Raden Margapati itu menyeringai lebar dan menghantam dada Arya Pethak dengan tangan kanan nya yang berwarna merah kehitaman dari Ajian Pencabut Nyawa.
Blllaaammmmmmmm!!!
Arya Pethak terpental ke belakang dan jatuh ke tanah dengan keras. Namun pemuda itu segera bangkit dari tempat jatuhnya dan tersenyum lebar. Gendrawana melotot lebar melihat Arya Pethak yang baru menerima pukulan Ajian Pencabut Nyawa bisa langsung berdiri seolah tidak terjadi apa-apa.
Pertarungan sengit antara pasukan pemberontak dan para prajurit Kadipaten Kembang Kuning telah mendekati akhir. Satu persatu pimpinan yang tersisa, terbunuh dalam perang malam hari itu.
__ADS_1
Hemmmmmmm..
'Lembu Sekilan rupanya. Pemuda tengik ini punya ilmu yang merepotkan. Aku tidak boleh gegabah jika tidak ingin mati konyol', gumam Gendrawana sambil tangannya merogoh sesuatu di udara. Sebuah pedang aneh yang bergagang tulang berpilin dengan pangkal bilah berbentuk tengkorak dengan mulut terbuka ada di tangan Gendrawana.
Pedang itu adalah senjata pusaka yang tersohor di dunia persilatan Tanah Jawadwipa dengan nama Pedang Tulang Iblis. Salah satu dari 7 pusaka dunia persilatan yang sempat menjadi rebutan para pendekar ratusan tahun silam.
Saat Arya Pethak dan Gendrawana tengah bersiap, dari dalam Nyi Sawitri dan Randu Para keluar sambil menggendong Rara Larasati dan Seta Wahana. Rara Larasati seperti tertidur sedang Seta Wahana dalam keadaan sadar.
"Arya Pethak,
Bunuh iblis tua itu. Hanya dengan begitu kutuk pasu nya akan hilang dari tubuh Larasati", teriak Nyi Sawitri dengan keras. Mendengar itu, Arya Pethak mendengus keras lalu melesat cepat kearah Gendrawana yang sudah bersiap dengan Pedang Tulang Iblis di tangan nya.
Secepat kilat, Arya Pethak mengayunkan Pedang Setan ke arah kepala Gendrawana.
Shreeeeettttthhh...
Raja Iblis dari Gunung Damalung itu langsung menangkis sabetan Pedang Setan dari tangan Arya Pethak.
Thrrriiinnnggggg!!!
Sembari menangkis, Gendrawana melompat mundur sembari hantamkan tangan kiri nya kearah Arya Pethak. Pendekar muda itu berkelit ke samping sembari mengayunkan pedangnya kearah kaki Gendrawana.
Whhhuuuuuttttthhhh...
Kakek tua bertubuh gempal itu terus berusaha membuat jarak dengan Arya Pethak, namun putra angkat Mpu Prawira itu terus memburu nya dengan kecepatan tinggi.
Anjani yang baru saja menyalurkan tenaga dalam pada Raden Wira Ganggeng, menatap pertarungan sengit antara Arya Pethak dan Gendrawana dengan takjub.
"Kemampuan Ndoro Pethak memang meningkat jauh usai bertapa di Goa Selomangleng kemarin ya, Anjani?
Majikan ku ini benar benar hebat", puji Klungsur sambil terus menatap ke arah pertarungan.
"Tumben kau bisa berkata benar Sur, biasanya mulut mu itu suka asal bicara", sahut Anjani yang berdiri di samping Raden Wira Ganggeng.
"Ngomong ku dari dulu selalu benar ya An, kau saja yang selalu salah paham", omel Klungsur membela diri.
"Kalian jangan ribut!
Tetap waspada, perang masih belum berakhir", ujar Nyi Sawitri yang baru saja sampai dengan menggendong Rara Larasati. Klungsur dan Anjani langsung terdiam lalu mengedarkan pandangannya ke pertempuran yang terjadi. Para prajurit Kadipaten Kembang Kuning terus mendesak hingga akhirnya pasukan pemberontak yang tersisa sebagian kecil kabur dan sisa nya memilih untuk menyerah.
Pimpinan prajurit Kadipaten Kembang Kuning, Tumenggung Surontanu langsung mendekati Raden Wira Ganggeng yang masih terduduk di tanah karena luka dalam nya belum sepenuhnya sembuh.
"Raden Wira Ganggeng,
"Perintahkan kepada kepala kelompok prajurit untuk menghitung jumlah pasukan kita yang gugur.
Selain itu minta mereka bermalam di sini sebagai persiapan untuk mengumpulkan mayat mayat anggota kita. Kau mengerti?", perintah Raden Wira Ganggeng dengan cepat.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", jawab Tumenggung Surontanu dengan sigap. Perwira tinggi prajurit Kembang Kuning itu segera berlalu dari hadapan sang pangeran untuk menjalankan tugas.
Sementara itu pertarungan sengit antara Arya Pethak dan Gendrawana telah mencapai jurus ke 50. Perbedaan usia dan tenaga dalam mulai terlihat di pertarungan ini. Gerakan Gendrawana mulai berantakan dan lambat, beberapa sayatan pedang terlihat menghiasi pakaiannya.
Gendrawana melompat beberapa tombak ke belakang. Nafas kakek tua itu mulai ngos-ngosan.
'Bangsat tengik ini rupanya ingin menguras tenaga ku. Sialan, kalau begini terus bisa bisa aku terbunuh oleh nya', gumam Gendrawana sambil mengusap peluh yang membasahi dahinya.
Tangan kakek tua itu segera menangkup di depan dada. Dia merapalkan Ajian Pencabut Nyawa nya meski tahu ajian itu tidak akan bisa membunuh Arya Pethak. Tapi dia akan menggunakan nya untuk pergi dari tempat itu mumpung hari masih malam. Kegelapan malam akan membantu pelariannya.
Selarik sinar hijau kemerahan bergulung gulung di kedua tangannya Gendrawana. Dengan cepat ia menghantamkan nya ke arah Arya Pethak.
Shhhiiiuuuuuuutttt!!!
Arya Pethak dengan cepat menyambut sinar hijau kemerahan itu dengan tapak tangan kiri nya yang berwarna biru terang karena sinar Ajian Tapak Brajamusti.
Blllaaammmmmmmm!!!
Ledakan keras terdengar. Debu dan asap beterbangan setelah ledakan dahsyat terjadi. Namun Gendrawana telah menghilang dari pandangan semua orang.
"Bocah keparat!
Suatu hari dendam kematian Margapati akan ku balas! Tunggu saja!"
Sayup sayup terdengar suara Gendrawana dari kejauhan. Raja Iblis dari Gunung Damalung itu kabur. Semua orang tak menyangka bahwa tokoh besar aliran hitam itu melarikan diri dari pertarungan melawan Arya Pethak.
"Bangsat! Iblis tua bangka keparat!
Kau pengecut!!", maki Nyi Sawitri yang geram karena Rara Larasati muridnya masih belum sadarkan diri.
Raden Margapati dengan bantuan Gambir Anom abdi setia nya berdiri lalu mendekati Arya Pethak dan kawan-kawan nya.
"Nini Dewi..
__ADS_1
Sebaiknya kita bawa murid mu ke Kota Kadipaten Kembang Kuning. Aku punya kenalan seorang brahmana yang bisa membuat murid mu sadar kembali.
Apa kalian bersedia? Anggap saja ini adalah balas budi ku karena bantuan kalian semua", ujar Raden Wira Ganggeng sambil memegang dadanya yang terasa sesak. Putra Adipati Wiraprabu itu batuk batuk kecil usai berbicara.
Karena tidak punya pilihan lain, rombongan Arya Pethak memilih untuk mengikuti omongan Raden Wira Ganggeng demi kesembuhan Rara Larasati.
Malam itu juga mereka membawa Rara Larasati ke Desa Pohjajar sebelum berangkat ke arah Kota Kadipaten Kembang Kuning keesokan paginya.
Pagi menjelang tiba di wilayah Desa Pohjajar. Cahaya matahari pagi menghangatkan suasana di desa itu setelah melewati malam dingin yang mencekam bagi semua warga desa di kaki Gunung Damalung itu.
Dengan menggunakan kereta kuda, Rara Larasati di bawa ke Kota Kadipaten Kembang Kuning bersama Nyi Sawitri, Randu Para dan Seta Wahana. Bocah itu tertidur pulas di gendongan Randu Para yang seakan tak mau melepaskan Seta Wahana barang sekejap saja. Raden Wira Ganggeng yang sedang terluka dalam pun ikut ke dalam kereta kuda yang di kawal oleh ratusan prajurit Kadipaten Kembang Kuning.
Sementara itu Arya Pethak, Klungsur dan Anjani memilih untuk berkuda di belakang mereka.
Menjelang tengah hari, rombongan itu sampai di Kota Kadipaten Kembang Kuning. Mereka di sambut sorak sorai nan meriah karena mereka merupakan pahlawan yang membasmi kelompok pemberontak Semanding.
Adipati Wiraprabu menyambut sendiri kedatangan putra sulungnya dari istri keduanya Niken Pandini itu dengan penuh sukacita.
"Kau hebat anak ku, ayah bangga pada mu", ujar Adipati Wiraprabu setelah memeluk tubuh Raden Wira Ganggeng dengan erat.
"Bukan aku yang hebat Kanjeng Romo, tapi mereka lah yang berjasa besar dalam upaya kita memberantas pemberontakan Kakang Margapati..
Mari ku perkenalkan Kanjeng Romo. Yang berbaju putih ini Arya Pethak, dialah yang bisa menghabisi nyawa Raden Margapati juga mengusir guru nya, Si Raja Iblis Gendrawana.
Ini Nyi Sawitri, yang berbaju biru itu Anjani, yang sebelahnya Klungsur, sedangkan dia adalah Randu Para. Mereka semua saling bahu membahu untuk membantu kita menumpas para pemberontak itu", ujar Raden Wira Ganggeng yang membuat Adipati Wiraprabu manggut-manggut mengerti.
"Aku berterimakasih kepada kalian semua atas bantuan yang kalian berikan kepada putra ku untuk membasmi pemberontak itu.
Sebagai hadiah nya, kalian boleh minta apa saja. Jika aku mampu maka akan aku berikan", Adipati Wiraprabu berbicara dengan ramah.
"Terimakasih atas kemurahan hati mu, Gusti Adipati.
Tapi kedatangan kami kemari untuk meminta Raden Wira Ganggeng memenuhi janji nya mencari seorang brahmana yang bisa membantu murid ku", sahut Nyi Sawitri sambil menghormat pada Adipati Wiraprabu.
"Brahmana?
Siapa yang kau maksud Wira Ganggeng?", Adipati Wiraprabu mengalihkan pandangan ke arah Raden Wira Ganggeng segera.
"Murid Nyi Sawitri terkena kutuk pasu dari Gendrawana, Kanjeng Romo. Di Kadipaten Kembang Kuning hanya seorang saja yang mungkin bisa melepaskan murid Nyi Sawitri dari kutuk pasu Gendrawana", ujar Raden Wira Ganggeng sembari menghembuskan nafas panjang.
"Benar sekali omongan mu, putra ku. Selain dia, tidak seorang pun yang mampu melepaskan ilmu hitam seperti itu.
Dia adalah harapan satu-satunya untuk masalah kutuk pasu ini", Adipati Wiraprabu menatap ke arah langit barat yang berwarna biru cerah.
Rombongan Arya Pethak menarik nafas lega karena mendengar ucapan Adipati Wiraprabu tentang kemungkinan Rara Larasati terselamatkan.
"Siapa brahmana yang kau maksud, Raden Wira Ganggeng? Kita harus segera pergi mencari nya", tanya Nyi Sawitri dengan cepat. Keselamatan Rara Larasati adalah keinginan terbesarnya saat ini. Raden Wira Ganggeng tersenyum tipis sebelum menjawab.
"Kita tidak perlu repot-repot mencari nya, Nini Dewi. Orang itu adalah kakek ku sendiri.
Resi Jati Waluyo".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Tetap up meski lagi sibuk karena up episode selanjutnya sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari hehehehe..