
Nenek tua berkonde perak itu geram. Acara makan siang nya menjadi kacau karena ulah murid murid Padepokan Gunung Hijau dan Perguruan Pedang Perak. Dengan gusar, dia menendang patahan kayu meja.
Dhaassss...
Sisa potongan kayu meja melesat cepat kearah tempat pertikaian. Si lelaki bertubuh gempal dari Perguruan Pedang Perak langsung menarik tangan si wanita berbaju putih sesaat sebelum potong meja yang melayang cepat itu menghantam ke arah mereka.
Brrruuuaaaaakkkkh!
Para murid Perguruan Pedang Perak masih sempat menghindar, namun beberapa murid Padepokan Gunung Hijau yang tidak melihat lesatan potongan kayu meja langsung tersungkur terkena potongan kayu yang di tendang dengan tenaga dalam tingkat tinggi itu.
Macan Wungu mendengus keras. Matanya segera mencari tahu asal serangan yang berhasil menjatuhkan 3 orang anak murid Padepokan Gunung Hijau. Dia melihat seorang nenek tua berpakaian abu-abu dengan memegang tongkat kayu berukir ular tengah menatap tajam ke arah mereka. Seorang gadis muda berwajah manis berdiri di samping nenek tua berkonde perak.
"Nenek peyot!
Kau berani ikut campur urusan kami. Ingin cepat berangkat ke neraka kau rupanya ha?", hardik Macan Wungu dengan lantang.
Bukannya takut, nenek tua berkonde perak itu malah berjalan mendekati kerumunan mereka diikuti oleh gadis muda yang menggunakan pakaian berwarna abu-abu.
"Kutu busuk!
Kau pikir aku takut dengan mu ha? Kau mau mengancam ku? Guru mu saja, Si tua Mahesa Bicak akan berpikir seribu kali untuk mengusik ku, Dewi Ular Siluman", balas nenek tua itu tak kalah sengit.
Mendengar ucapan nenek tua berkonde perak yang menyebut nama Dewi Ular Siluman semua orang di tempat itu terkejut bukan main.
Dewi Ular Siluman, tokoh besar dunia persilatan aliran hitam yang terkenal kejam dan menakutkan bagi semua pendekar. Pendekar wanita itu tersohor dengan ilmu Tapak Ular Siluman nya yang sanggup membantai satu perguruan silat dengan cepat. Jangankan dari mereka yang dari aliran putih, yang beraliran hitam pun memilih untuk tidak menyinggung perasaan ataupun mengganggu perempuan kejam itu daripada menanggung masalah besar.
Mendengar nama besar Dewi Ular Siluman, sontak para murid Padepokan Gunung Hijau mundur selangkah. Mereka saling" berpandangan satu sama lain. Mereka gentar mendengar nama besar yang di sebut nenek tua berkonde perak itu.
Seorang anggota Padepokan Gunung Hijau segera berbisik pada Macan Wungu.
"Kakang Wungu,
Bagaimana ini? Sebaiknya kita mundur Kakang", ucap kawan Macan Wungu dengan cepat.
"Jangan takut gertakan perempuan tua itu. Dia hanya menakut-nakuti kita dengan nama pendekar besar. Lagipula dia hanya berdua saja dengan muridnya itu.
Apa yang bisa mereka lakukan?", Macan Wungu segera menoleh ke arah nenek tua berkonde perak itu sambil bersiap untuk menyerang.
"Nenek peyot!
Jangan kira dengan gertak sambal mu bisa membuat ciut nyali murid Padepokan Gunung Hijau.
Kawan kawan, kita sikat nenek peyot itu lebih dulu. Serang dia!", teriak Macan Wungu sambil melesat cepat kearah Dewi Ular Siluman.
Tebasan pedang Macan Wungu menyambar ke arah kepala Dewi Ular Siluman.
Whhhuuuggghhhh
Nenek tua berkonde perak itu menghindari tebasan pedang Macan Wungu sambil menendang ujung bawah tongkat kayu berukir ular itu. Ujung tongkat langsung melayang ke arah perut Macan Wungu.
Lelaki bertubuh gempal itu langsung tarik serangan nya untuk menangkis tusukan tongkat kayu Dewi Ular Siluman yang mengincar perutnya.
Thrrraaannnnggggg!!
Tangan Macan Wungu bergetar hebat saat pedangnya berbenturan dengan ujung tongkat kayu Dewi Ular Siluman. Pedangnya nyaris terlepas dari genggaman nya andai dia tidak segera merapatkan pegangannya.
Dewi Ular Siluman segera memutar tubuhnya layaknya seekor ular bergerak. Satu sapuan kaki kanan nya mengincar pinggang Macan Wungu.
Whuuussshh..
Macan Wungu langsung melenting tinggi ke udara menghindari sapuan kaki Dewi Ular Siluman.
Seorang kawan Macan Wungu langsung membabatkan pedang nya kearah bahu Dewi Ular Siluman namun lagi lagi nenek tua berkonde perak berkelit dengan lincah sembari menghantamkan tongkat kayu berukir ular kearah orang yang membokong nya.
Dhassssss!
Auuuggghhhhh!!
Kawan Macan Wungu langsung terjungkal ke depan. Hantaman keras Dewi Ular Siluman mematahkan tulang rusuk nya. Dia langsung muntah darah segar. Melihat kawan nya tersungkur, dua kawan Macan Wungu yang lain langsung menyabetkan pedang mereka kearah Dewi Ular Siluman dari dua sisi yang berbeda. Satu menebas leher dan satunya membabat kaki.
Shreeeeettttthhh...!
Nenek tua berkonde perak itu langsung melenting diantara dua senjata yang mengincar bagian tubuh nya. Dua sabetan pedang anak murid Padepokan Gunung Hijau itu hanya mampu menebas angin kosong.
Usai menghindari sabetan pedang, Dewi Ular Siluman langsung hantamkan tangan kiri nya kearah penyerang di sebelah kiri.
Serangkum angin dingin berbau busuk menyertai sinar kehitaman menerabas cepat kearah anak murid Padepokan Gunung Hijau yang baru saja menyerang.
Whuuussshh..
Blllaaaaaarrr!!
Anak murid Padepokan Gunung Hijau itu hanya bisa melotot lebar saat sinar kehitaman berbau busuk itu menghantam tubuhnya yang langsung terpental dan menabrak dinding kayu warung makan itu dengan keras. Dia langsung tewas dengan dada gosong bergambar lima jari tangan.
Semua orang di tempat itu langsung terkejut melihat kemampuan ilmu kanuragan nenek tua berkonde perak itu.
Arya Pethak yang sedari tadi hanya diam mengamati situasi sedikit terkejut dengan hal itu. Sekarwangi dan Paramita sedari awal pertarungan antara murid-murid Padepokan Gunung Hijau dan Perguruan Pedang Perak sudah bersiaga dengan menggenggam gagang pedang mereka masing-masing.
__ADS_1
Sedangkan para pendekar berbaju putih dari Perguruan Pedang Perak pun turut bersiaga melihat kemampuan Dewi Ular Siluman.
Melihat kawan mereka tewas, anak murid Padepokan Gunung Hijau semakin marah. Di pimpin Macan Wungu mereka mengepung Dewi Ular Siluman yang terus memutar tongkat kayu berukir ular itu.
Sesuai dengan isyarat Macan Wungu, mereka langsung menusukkan pedangnya kearah pinggang Dewi Ular Siluman.
Nenek tua berkonde perak itu segera menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi ke udara. Usai memutar tubuhnya dia melesat turun sambil memutar tongkat kayu berukir ular kearah para murid Padepokan Gunung Hijau.
Delapan larik sinar hitam berangin kencang dan berbau busuk menyebar ke arah 8 orang anak murid Padepokan Gunung Hijau.
Whuuussshh whuuussshh!!
Blammmmm blammmmm!!!
Mereka yang bertenaga dalam rendah langsung terpental saat sinar hitam berbau busuk itu menghantam mereka.Mereka langsung tewas menyusul kawan mereka. Macan Wungu dan seorang kawannya yang memiliki tenaga dalam cukup tinggi langsung muntah darah kehitaman usai menghantam dinding warung makan.
Dewi Ular Siluman tidak berhenti sampai disitu saja. Perempuan tua langsung melesat cepat kearah Macan Wungu dan ujung tongkat kayu berukir ular yang lancip langsung menusuk batang tenggorokan Macan Wungu.
Chhreepppppph..
Macan Wungu langsung kelojotan saat ujung tongkat di cabut dari lehernya. Dia tewas bersimbah darah. Usai membantai Macan Wungu, perempuan tua itu langsung menendang kepala kawan Macan Wungu yang masih bernapas.
Dhaaaasssshhh!!
Kepala kawan Macan Wungu langsung berputar ke belakang. Dia tewas mengenaskan.
Usai menghabisi nyawa anak murid Padepokan Gunung Hijau, Dewi Ular Siluman mengalihkan pandangannya pada ketiga orang Perguruan Pedang Perak. Pandangan nya yang menakutkan membuat para murid Perguruan Pedang Perak serta merta bersiaga.
"Siapa diantara kalian yang melempar murid Mahesa Bicak ke meja ku?
Cepat jawab!", teriak Dewi Ular Siluman sambil mendelik tajam ke arah para murid Perguruan Pedang Perak.
Salah seorang diantara mereka bertiga yang merupakan perempuan muda yang cantik langsung maju sambil menghormat pada Dewi Ular Siluman.
"Aku yang melakukannya Dewi..
Mohon maafkan kelakuan ku yang tidak sopan pada Dewi Ular Siluman", ujar si perempuan cantik itu dengan cepat.
Phuihhhh..
"Kau pikir dengan minta maaf semua masalah jadi beres? Akan ku potong sebelah tangan mu untuk menebus kesalahan mu", ucap Dewi Ular Siluman dengan bengis.
"Keparat!
Putri pimpinan kami sudah merendahkan diri dengan meminta maaf kepada mu atas kesalahan yang tak di sengaja.
"Lalu kenapa? Kau tidak suka?
Majulah, biar ku hancurkan batok kepala mu itu", tatapan mata penuh kebencian tergambar jelas di wajah Dewi Ular Siluman.
"Bangsat!
Kau benar benar tidak bisa diajak bicara nenek peyot! Bersiaplah untuk mati!", usai berkata demikian murid tertua Perguruan Pedang Perak melesat cepat sembari mencabut pedangnya.
Dewi Ular Siluman langsung memutar tongkat nya dan menyongsong sabetan pedang dari anak murid Perguruan Pedang Perak.
Thrrraaannnnggggg...
Tongkat kayu berukir ular yang terbuat dari galih asem ratusan tahun itu mampu menahan sabetan pedang dari lawan.
Tak banyak bicara, Dewi Ular Siluman kembali hantamkan tangan kiri nya yang berwarna kehitaman berlapis sinar hitam yang berbau busuk ke arah anak murid Perguruan Pedang Perak.
Pria berumur ini tak sempat menghindar hanya bisa menyilangkan pedang nya yang berwarna putih keperakan serta menyalurkan tenaga dalam nya untuk menghadang serangan Dewi Ular Siluman yang mengincar dadanya.
Whuuutt...
Blllaaammmmmmmm!!
Anak murid Perguruan Pedang Perak langsung terpental jauh ke belakang dan menghantam meja makan warung. Pedangnya patah dan dia muntah darah kehitaman.
Dua orang kawannya langsung membuat nya.
"Kakang Wondo,
Bertahanlah kakang", ujar anggota perempuan Perguruan Pedang Perak sambil nanar menatap kearah Wondo yang mengenaskan.
"La...ri... Gus..ti...Pu...tri....", hanya itu yang terucap dari bibir Wondo sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Dia tewas dengan dada gosong.
Seorang lelaki muda yang menyertai mereka langsung mencabut pedang nya dan melesat kearah Dewi Ular Siluman.
Namun dedengkot pendekar golongan hitam itu langsung merunduk sedikit sembari hantamkan tongkat kayu berukir ular kearah pinggang lawan yang menyerangnya.
Dhiesshhhhhhh..
Aaaarrrgggggghhhhh!!
Anggota Perguruan Pedang Perak itu langsung terpental jauh keluar dari ruangan warung makan itu. Dia menyusruk tanah dan diam tak bergerak lagi.
__ADS_1
Perempuan muda berbaju putih itu menjerit keras melihat kematian dua orang pengiringnya. Dia segera melompat ke arah Dewi Ular Siluman dan menghantamkan tangan kanannya yang di liputi oleh sinar putih keperakan karena Ajian Awan Perak.
Whuuussshh..
Dewi Ular Siluman menyeringai lebar melihat itu. Tangan kiri nenek tua berkonde perak itu langsung memapak serangan gadis cantik berbaju putih itu.
Blllaaaaaarrr!
Gadis muda itu langsung terpental jauh. Tenaga dalam nya jauh di bawah Dewi Ular Siluman. Hanya rasa amarah yang meluap-luap saja yang membuat dia berani menyerang tokoh besar dunia persilatan itu.
Sebuah bayangan berkelebat cepat menyambar tubuh si gadis muda itu sebelum jatuh menghantam dinding kayu warung makan yang sudah porak poranda akibat pertarungan yang terjadi.
Gadis cantik itu langsung muntah darah kehitaman pertanda dia menderita luka dalam yang serius. Si bayangan yang tidak lain adalah Arya Pethak langsung menotok beberapa jalan darah dan titik nadi si gadis muda itu segera. Kemudian menyalurkan tenaga dalam nya. Rasa hangat menyeruak masuk ke dalam tubuh gadis muda itu. Perlahan dia membuka mata nya dan menatap ke arah Arya Pethak yang menolong nya.
"Terimakasih atas bantuannya Kisanak", ujar gadis cantik itu dengan lemah. Bibirnya masih memucat akibat luka dalam yang di deritanya.
"Simpan terima kasih mu untuk nanti saja Nisanak.. Akan ku urus dulu nenek tua itu", jawab Arya Pethak sambil perlahan berdiri menghadap Dewi Ular Siluman.
"Dewi Ular Siluman,
Apa belum cukup pembantaian yang kau lakukan? Orang orang yang menyinggung perasaan mu sudah mati kau bunuh. Apa kau belum merasa puas?", Arya Pethak menatap tajam ke arah Dewi Ular Siluman.
Chuuiiiiiiihhhh..
"Peduli setan dengan kutu busuk seperti mereka. Kau tidak perlu ikut campur dalam urusan ku.
Atau kau juga ingin mampus seperti mereka ha?", hardik Dewi Ular Siluman sambil melotot lebar ke arah Arya Pethak.
"Mati itu keputusan Hyang Tunggal, bukan atas kehendak manusia.
Jangan terlalu jumawa untuk menjadi dewa kematian bagi nyawa orang lain", ujar Arya Pethak dengan tenang.
"Bangsat,
Kecil kecil mulut mu beracun juga. Jangan salahkan nasib sial mu karena bertemu dengan Dewi Ular Siluman hari ini.
Bersiaplah untuk mati", umpat Dewi Ular Siluman sambil melompat tinggi ke udara sambil mengayunkan tongkat kayu berukir ular kearah kepala Arya Pethak.
Putra angkat Mpu Prawira itu langsung mencabut Pedang Setan di punggungnya dan menangkis hantaman tongkat kayu Dewi Ular Siluman.
Thrrraaannnnggggg..
Blllaaammmmmmmm!!!
Benturan dua senjata berlapis tenaga dalam itu menciptakan ledakan dahsyat dan gelombang kejut yang mengerikan. Arya Pethak terdorong mundur beberapa langkah sedangkan Dewi Ular Siluman terpental namun tokoh besar aliran hitam itu dengan cepat bersalto turun ke lantai warung makan untuk menghentikan laju tubuh nya.
Mata Dewi Ular Siluman langsung mendelik tajam ke arah Arya Pethak. Dia kaget lelaki semuda itu memiliki tenaga dalam yang seimbang dengan nya, bahkan seurat lebih tinggi.
'Bocah ini tidak bisa di anggap remeh. Aku tidak boleh gegabah', batin Dewi Ular Siluman.
"Pantas kau jumawa bocah tengik, rupanya kau berisi juga.
Katakan siapa guru mu?", tanya Dewi Ular Siluman sambil memutar-mutar tongkat kayu nya.
"Aku adalah murid Mpu Prawira dari Bukit Kahayunan. Apa kau tahu siapa dia?", jawab Arya Pethak sambil bersiap untuk menghadapi Dewi Ular Siluman.
Terkejut Dewi Ular Siluman mendengar Arya Pethak menyebutkan nama Mpu Prawira dari Bukit Kahayunan. Dia sangat mengenal Mpu Prawira karena lelaki itu pada masa mudanya sangat terkenal di dunia persilatan.
"Kau.. Kau murid Si Tapak Kilat?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yang masih ngedukung author untuk melanjutkan cerita ini mana suaranya?🤣
Tetap semangat jangan lupa bahagia
IG author : ebez 2812
__ADS_1