
Belum sempat Arya Pethak menjawab, Paramita segera menyahut omongan Adipati Gajah Panggung.
"Mohon ampun Gusti Adipati..
Kakang Pethak belum sepenuhnya sembuh. Masih butuh waktu barang 1 atau 2 hari agar keadaan nya pulih seperti sedia kala.
Mohon Gusti Adipati sedikit bersabar menunggu untuk berbicara dengan Kakang Pethak", ujar Paramita sembari membungkukkan badannya sebagai tanda penghormatan kepada Adipati Gajah Panggung.
Hemmmmmmm..
"Benar juga omongan mu, Tabib Paramita..
2 hari lagi aku akan mengunjungi pendekar muda ini untuk berbicara empat mata dengan nya. Dan itu lebih baik jika dia sudah benar benar sehat..
Kalau butuh bahan obat, kau langsung minta saja pada dua tabib istana ku ya..
Nah pendekar muda,
Silahkan kau memulihkan kesehatan mu. Aku permisi dulu", ujar Adipati Gajah Panggung yang langsung memutar badannya, kembali ke istana pribadi nya di belakang balai paseban agung Kadipaten Anjuk Ladang.
Paramita, Sekarwangi dan Anjani langsung menghormat pada Adipati Gajah Panggung saat penguasa Kadipaten Anjuk Ladang itu melangkah pergi.
Berita sadarnya Arya Pethak juga sampai ke telinga Bekel Regol. Perwira menengah itu merasa bersalah karena mendorong Arya Pethak ke arena sayembara yang nyaris merenggut nyawanya. Meskipun Arya Pethak berhasil membunuh Begawan Pasopati dan Tumenggung Jaran Sembrani, tetapi luka dalam yang di deritanya sangat membahayakan nyawanya.
Siang itu, di temani Bekel Simo Bogang, Bekel Regol melangkah masuk ke balai tamu kehormatan Kadipaten Anjuk Ladang.
"Salam hormat ku, Pendekar Pedang Setan..
Bagaimana keadaan mu? Ku dengar kau sudah siuman setelah pingsan beberapa hari", tanya Bekel Regol yang duduk di kursi kayu yang ada di samping ranjang tidur Arya Pethak.
"Aku sudah lebih baik dari tadi pagi, Gusti Bekel..
Terimakasih banyak karena sudah mengkhawatirkan kondisi ku", jawab Arya Pethak segera. Meski terlihat bibirnya masih memucat, tapi secara keseluruhan keadaan tubuh Arya Pethak baik baik saja. Hanya perlu memulihkan kesehatan beberapa hari saja.
"Aku benar-benar merasa bersalah kepada mu Pendekar Pedang Setan.
Jika kemarin aku tidak mendorong mu, mungkin kau tidak perlu menderita luka dalam seperti ini. Aku sungguh sungguh minta maaf", ucap Bekel Regol sembari membungkukkan badannya pertanda dia tulus minta maaf kepada Arya Pethak.
"Sudahlah Gusti Bekel.
Yang penting saat ini aku masih hidup. Itu sudah cukup buat aku sekarang. Persahabatan kita adalah yang terpenting saat ini. Aku tidak menyalahkan mu untuk semua yang terjadi", Arya Pethak tersenyum tipis.
"Kau sungguh berhati besar Pendekar Pedang Setan. Aku mengagumi mu", ujar Bekel Regol sembari membungkukkan badannya.
Mereka terus berbincang dengan hangat hingga sore tiba.
Dua hari kemudian, kesehatan Arya Pethak telah pulih. Meski belum sepenuhnya sehat tapi pemuda tampan itu sudah bisa beraktivitas seperti biasa nya.
Sesuai kesepakatan, Adipati Gajah Panggung kembali mengunjungi Arya Pethak di balai tamu kehormatan hari itu. Ikut bersamanya Dewi Retno Wulan yang setiap hari selalu mengunjungi Arya Pethak dengan membawakan makanan dan buah-buahan segar. Anjani, Sekarwangi dan Paramita selalu menekuk wajahnya saat putri bungsu Adipati Gajah Panggung itu datang mengunjungi Arya Pethak.
Hari ini Arya Pethak tengah berbincang dengan Klungsur dan Anjani di serambi balai tamu kehormatan saat Adipati Gajah Panggung datang.
"Wah, benar benar tubuh yang hebat. Dalam dua hari saja kau sudah nampak sehat Pendekar muda", puji Adipati Gajah Panggung sambil tersenyum lebar.
"Ini semua karena kebaikan hati Gusti Adipati yang sudah memberikan banyak bantuan pengobatan untuk hamba.
Arya Pethak sangat berterima kasih", jawab Arya Pethak sambil menghormat pada Adipati Gajah Panggung.
"Di bandingkan dengan yang sudah kau lakukan, itu bukan apa apa pendekar muda.
Kau sudah melenyapkan duri dalam daging bagi keamanan dan tegaknya hukum di Kadipaten Anjuk Ladang. Kematian Begawan Pasopati dan Tumenggung Jaran Sembrani adalah hal yang benar-benar di butuhkan oleh Istana Anjuk Ladang.
Karena kau sudah mengorbankan seluruh kemampuan mu maka aku ingin memberikan hadiah sebagai ucapan terima kasih kepada mu, Arya Pethak", ujar Adipati Gajah Panggung sambil tersenyum lebar.
"Hadiah?
Maksud Gusti Adipati bagaimana? Mohon di jelaskan. Arya Pethak kurang paham", Arya Pethak sama sekali tidak mengerti maksud ucapan Adipati Gajah Panggung. Pemuda tampan itu langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kau adalah pemenang sayembara yang aku adakan. Sudah sepantasnya jabatan Senopati Anjuk Ladang ku serahkan pada mu", ucap Adipati Gajah Panggung sambil tersenyum.
"Dan lagi, ku lihat kau sudah cukup umur untuk menikah. Aku ingin menjodohkan mu dengan putri bungsu ku, Dewi Retno Wulan dengan mu", imbuh Adipati Gajah Panggung segera.
Raut muka Dewi Retno Wulan langsung memerah mendengar ucapan Adipati Anjuk Ladang itu. Dia sudah menyukai Arya Pethak sejak pertama kali melihatnya di gelanggang sayembara tempo hari. Klungsur dan Anjani langsung saling berpandangan mendengar ucapan Adipati Gajah Panggung. Sejuta pertanyaan melintas di kepala mereka masing-masing.
Mendengar penuturan Adipati Gajah Panggung, Arya Pethak tersentak. Dia benar-benar kaget dan tidak tahu harus berkata apa untuk sesaat. Setelah menghela nafas panjang, Arya Pethak memberanikan diri untuk bicara.
"Mohon ampun Gusti Adipati, bukan hamba menolak titah Gusti Adipati.
__ADS_1
Namun hamba masih memiliki tujuan untuk mencari pembunuh kedua orang tua hamba. Sekaligus mencari tahu siapa jati diri hamba.
Jika Gusti Adipati tidak keberatan, hamba mohon waktu 2 tahun untuk mencari pembunuh kedua orang tua hamba sebelum memenuhi permintaan Gusti Adipati.
Jika memang Gusti Adipati keberatan dengan syarat dari hamba, mohon ampun sebesar-besarnya hamba tidak bisa memenuhi apa yang menjadi keinginan Gusti Adipati", ujar Arya Pethak sembari menyembah pada Adipati Gajah Panggung.
Mendengar jawaban Arya Pethak, Adipati Gajah Panggung langsung menoleh ke arah Dewi Retno Wulan yang duduk di sebelahnya. Meski sedikit kecewa dengan sikap Arya Pethak, Dewi Retno Wulan mengangguk perlahan pertanda menyetujui persyaratan Arya Pethak.
"Hehehe...
Anak muda kau benar-benar tegas. Aku suka dengan sikap mu yang jujur dan terbuka. Baiklah, aku beri waktu kau waktu dua tahun untuk menuntaskan apa yang menjadi keinginan mu. Selepas itu, kau harus kembali ke istana Anjuk Ladang untuk menikahi putri ku", Adipati Gajah Panggung tersenyum simpul.
"Terimakasih atas pengertiannya Gusti Adipati.
Hamba benar benar bersyukur", ucap Arya Pethak sambil tersenyum tipis.
"Oh iya, sebagai calon mantu ku besok kau harus ikut aku menghadiri undangan dari salah seorang pedagang yang merupakan rekanan Kadipaten Anjuk Ladang.
Aku tidak mau ada penolakan untuk ini", titah Adipati Gajah Panggung segera.
"Arya Pethak bersedia Gusti Adipati", jawab Arya Pethak sambil menghormat.
Mereka terus berbincang mengenai banyak hal termasuk perekrutan calon perwira baru Anjuk Ladang sepeninggal Tumenggung Kebo Biru, Tumenggung Jaran Sembrani dan Senopati Gagak Rimang.
****
Seorang lelaki bertubuh kekar nampak terus mengikuti langkah dua orang wanita tua muda yang tengah berjalan menuju ke tapal batas kota Kadipaten Anjuk Ladang dari kejauhan.
'Brengsek, dua perempuan itu bukan orang sembarangan. Aku nyaris kehilangan jejak mereka', rutuk si lelaki bertubuh kekar itu sembari mengikuti langkah dua orang tua muda yang berjalan mendekati tapal batas kota. Meski kelihatannya pelan tapi karena mereka berilmu tinggi tetap saja langkah kaki mereka seperti tidak menapak tanah.
Dua orang wanita tua muda itu seakan memang sengaja mempermainkan si penguntit itu.
"Guru,
Lelaki itu terus mengikuti kita selepas keluar dari dermaga penyeberangan. Apa sebaiknya kita hajar saja dia?", si wanita muda itu menoleh ke arah seorang wanita paruh baya yang ada di depannya.
"Biarkan saja Larasati..
Asal tidak menggangu perjalanan kita, buat apa capek capek bertarung. Ayo kita harus cepat sampai di rumah Boja Sampil sebelum keburu sore. Lihat matahari sudah mulai tergelincir ke ke barat ", Si perempuan sepuh menunjuk ke arah bayangan tubuh mereka yang sudah melenceng ke timur pertanda bahwa sudah lewat tengah hari.
Kedua orang wanita tua muda itu segera mempercepat langkah kaki mereka dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam mereka. Alhasil mereka melesat cepat kearah tepi kota Anjuk Ladang sebelah timur.
"Brengsek!!
Aku kehilangan jejak mereka. Akan ku cari mereka sampai ketemu", gumam si penguntit sambil terus mengikuti jalan di depannya.
Perempuan paruh baya itu menghentikan langkah kaki nya di sebuah rumah besar di tepi timur kota. Dari rumah itu terlihat bahwa sang pemilik adalah orang yang cukup berada di wilayah itu.
Di halaman rumah itu nampak puluhan orang tengah menghias rumah. Sepertinya akan ada hajatan besar di rumah itu melihat dari penjor dan janur kuning yang di bentuk beraneka ragam sebagai penghias acara keramaian. Di tengah halaman nampak sebuah panggung pertunjukan di buat dengan menggunakan batang bambu yang di tata sedemikian rupa.
Beberapa orang terlihat menata gamelan di belakang panggung, juga tampak ada yang menghiasi panggung pertunjukan itu dengan janur kuning.
Boja Sampil adalah bekas murid Padepokan Padas Putih yang kembali ke masyarakat usai menamatkan pembelajaran nya di bawah asuhan Nyi Sawitri alias Dewi Bukit Lanjar. Dia membuka usaha perdagangan yang cukup berhasil menaikkan taraf hidupnya. Sekarang dia adalah salah satu juragan palawija terkaya di timur kota Anjuk Ladang.
Dua perempuan tua muda itu adalah Nyi Sawitri alias Dewi Bukit Lanjar dan muridnya Rara Larasati. Mereka datang ke tempat itu atas undangan Boja Sampil yang ingin guru nya membantu menjaga keamanan acara yang sebentar lagi di adakan.
Kedatangan Nyi Sawitri dan Rara Larasati langsung di sambut oleh Boja Sampil yang tak sengaja melihat kedatangan guru dan adik seperguruan nya itu.
"Selamat datang di kediaman saya Guru, Boja Sampil menghaturkan hormat", ujar Boja Sampil sembari menghormat pada Nyi Sawitri.
"Hehehehe, kau sekarang jadi tambah gemuk mirip babi guling saja Sampil..
Tambah makmur sepertinya hidup mu", jawab Nyi Sawitri sambil terkekeh kecil melihat muridnya yang kini semakin gendut, beda jauh dengan saat di Padepokan Padas Putih.
"Aku jarang berlatih Guru, setiap hari hanya sibuk mengurusi dagangan ku ke istana Kadipaten.
Urusan keamanan juga sudah di urusi oleh orang orang ku. Setiap ada begal atau rampok, cukup mereka yang bertindak. Makanya tubuh ku melar seperti ini", ujar Boja Sampil yang mengeluhkan tentang kehidupannya.
Usai berbincang sebentar, Boja Sampil mengajak guru dan adik seperguruan nya itu ke dalam untuk di perkenalkan dengan putri nya baru di nikahkan tadi pagi. Memang Boja Sampil menggelar hajatan pernikahan putri sulungnya yang menikah dengan dengan putra Samgat atau sejenis hakim di Kadipaten Anjuk Ladang. Malam ini adalah acara hiburan yang mengundang rombongan penari tayub dari Kadipaten Ngrowo yang terkenal di seantero negeri Singhasari, Karawitan Langen Sari.
Menjelang senja para penari tayub yang berparas cantik itu mulai berdandan, satu persatu penonton mulai memadati halaman rumah Boja Sampil yang luas.
Di depan halaman, satu rombongan pasukan Anjuk Ladang berhenti di depan kediaman Boja Sampil. Pintu kereta kuda mewah yang berhiaskan bendera kebesaran Kadipaten Anjuk Ladang di kawal puluhan prajurit terbuka. Dari dalam nya melangkah turun Adipati Gajah Panggung dan Arya Pethak.
"Jadi ini maksud Gusti Adipati mengajak hamba menghadiri undangan pernikahan? Untuk melihat rombongan penari?", tanya Arya Pethak setengah berbisik pada Adipati Gajah Panggung.
"Sssssttttttttt...
__ADS_1
Ini adalah hiburan kaum lelaki. Makanya aku tidak mengijinkan perempuan ikut kemari. Sudah kau diam saja, ikuti aku", balas Adipati Gajah Panggung sambil tersenyum penuh arti.
Arya Pethak hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan penguasa Kadipaten Anjuk Ladang itu.
Kedatangan mereka langsung di sambut dengan penuh hormat oleh Boja Sampil. Juragan palawija terkaya di timur kota Kadipaten Anjuk Ladang itu langsung membawa mereka ke dalam sebelum menuju ke kursi kehormatan.
Rara Larasati langsung melebar matanya saat melihat Arya Pethak yang duduk di samping Adipati Gajah Panggung di kursi tamu kehormatan. Dia hendak menyapa Arya Pethak namun kedatangan para penari tayub dari Kadipaten Ngrowo langsung membuat heboh para penonton yang memadati halaman rumah Boja Sampil hingga desak desakan penonton terjadi.
Susah payah Rara Larasati keluar dari kerumunan penonton yang memadati halaman. Rara Larasati celingukan mencari keberadaan gurunya. Saat melihat perempuan sepuh itu di samping para penabuh gamelan, Rara Larasati langsung mendekati nya.
"Guru,
Aku melihat Kakang Pethak", ujar Rara Larasati begitu sampai di dekat Nyi Sawitri.
Suara tabuhan gamelan yang bising membuat suara Rara Larasati tidak bisa di dengar oleh Nyi Sawitri dengan jelas.
"Kau bilang apa? Suara tidak jelas", jawab Nyi Sawitri alias Dewi Bukit Lanjar dengan cepat.
Merasa tidak mungkin mengulangi omongannya, Rara Larasati menarik tangan Dewi Bukit Lanjar menjauh dari panggung para penabuh gamelan. Melihat Dewi Bukit Lanjar menjauh, sang penabuh gong menoleh ke arah seorang kawannya yang berada paling dekat dengan kursi kehormatan.
Diam diam mereka mencabut sebilah pedang pendek yang tersembunyi rapi di bawah tatanan gamelan. Satu isyarat dari sang penabuh gong, 4 orang penabuh gamelan lainnya langsung melesat cepat kearah Adipati Gajah Panggung yang tengah asyik menikmati irama gamelan yang mendayu-dayu.
"Mampus kau, Adipati keparat!", teriak orang paling depan sembari mengayunkan pedangnya.
Arya Pethak yang waspada, langsung menendang kursi Adipati Gajah Panggung hingga kursi kayu jati itu terdorong mundur sejauh 2 tombak.
Dengan cepat Arya Pethak menendang meja kecil yang berisi beraneka ragam jajan pasar yang di suguhkan untuk tamu kehormatan.
Bhhhuuuuuuggggh...
Meja kecil itu langsung melayang cepat kearah para penyerang. Mereka yang tidak siap langsung terhantam meja kecil itu hingga terjatuh ke tanah. Mereka segera bangkit dan segera mengepung Adipati Gajah Panggung dan Arya Pethak.
Suasana keramaian itu langsung berubah menjadi kekacauan. Bekel Simo Bogang yang bertugas mengawal Adipati Gajah Panggung dengan gerak cepat langsung membuat barisan pengamanan.
Para penonton tari tayub langsung berhamburan menyelamatkan diri masing-masing. Hingga menyisakan rombongan penari tayub dari Kadipaten Ngrowo yang ternyata berniat untuk membunuh Adipati Gajah Panggung. Mereka semua memegang senjata dan mengepung para prajurit Kadipaten Anjuk Ladang yang melindungi sang pemimpin.
Boja Sampil yang baru dari belakang langsung menunjuk ke arah pimpinan Karawitan Langen Sari, Kartoyudho yang memegang pedang pendek.
"Kartoyudho,
Apa maksud semua ini ha?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan mudah percaya dengan orang yang baru di kenal, waspada terhadap segala sesuatu itu penting.
__ADS_1
Selamat bermalam senin kawan ✌️✌️😁😁