Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Supit Urang


__ADS_3

Mulai dari saat itu, para pendukung Nay Kemuning dan Arya Pethak mulai menyusun kekuatan untuk melawan pemerintahan Adipati Warok Singo Ludro. Dengan cepat, mereka mengumpulkan dukungan dari para penduduk Pakuwon Sendang terutama dari Desa Girimulyo dan Desa Biting. Desa desa yang lain juga mengirimkan para pemuda mereka untuk ikut latihan perang sebagai persiapan untuk menghadapi para prajurit Wengker di bawah pimpinan Raden Ronggo.


Para prajurit Pakuwon Sendang yang telah menyerah pun, ikut bersumpah setia mendukung perjuangan Nay Kemuning dan suaminya. Mereka yang selama ini menerima perlakuan tak menyenangkan dari Akuwu Surenggono, benar benar bersyukur atas kematian sang penguasa lalim itu.


Satu persatu dukungan terus mengalir dari sekitar wilayah Pakuwon Sendang. Beberapa Akuwu pun bahkan sudah menyatakan diri bahwa mereka mendukung Nay Kemuning sebagai penguasa sah Tanah Mandala Wengker yang di wakilkan pada Arya Pethak sebagai suaminya. Ini semakin memperkuat kedudukan Arya Pethak sebagai pimpinan tandingan di wilayah barat Tanah Wengker.


Dari dukungan yang berdatangan, akhirnya setelah hampir 1 purnama kemudian, terbentuk sebuah pasukan besar yang berjumlah sekitar sepuluh ribu orang. Mereka terbagi menjadi 5 bagian kekuatan yang masing masing terdiri 2 ribu prajurit. Masing-masing di pimpin oleh seorang perwira yang di angkat langsung oleh Arya Pethak.


Ki Simo Biru dan Subrata, memimpin satu pasukan dari Pakuwon Granti. Satu pasukan lagi di pimpin langsung oleh Arya Pethak di bantu para istri dan Klungsur serta Nirmala. Tiga pasukan lainnya di pimpin oleh Mpu Wikarto, Kebo Jinanda dari Pakuwon Slahung dan Gagar Mayang putra Akuwu Gajah.


Di beberapa daerah yang mendukung pergerakan Akuwu Sendang yang baru, menyiapkan lumbung padi mereka sebagai syarat utama untuk melakukan pergerakan. Ini dilakukan dengan rapi dan nyaris tak terdengar oleh para mata mata Raden Ronggo yang banyak di sebar di seluruh Wilayah Tanah Mandala Wengker.


Berbagai persiapan ini dilakukan dengan rapi dan tersembunyi di lereng Gunung Wilis untuk mencegah terjadinya kebocoran dalam rencana pemberontakan mereka.


Namun serapi-rapinya mereka menyembunyikan rencana mereka, ada kekhawatiran yang menyelimuti hati para pendukung Arya Pethak dan Nay Kemuning. Setengah purnama lagi ada pisowanan rutin di Pendopo Agung Tanah Mandala Wengker. Ini yang membuat para pendukung Arya Pethak mulai gelisah dan ingin segera melakukan pemberontakan. Sebab jika sampai Akuwu Sendang tidak hadir di Istana Wengker, bisa di cap sebagai pemberontak dan para prajurit Wengker akan di kerahkan untuk menyerbu ke arah Pakuwon Sendang. Bagi para pendukung Arya Pethak dan Nay Kemuning, lebih baik menyerang lebih dulu agar mereka tidak memiliki persiapan sama sekali.


Hemmmmmmm...


Terdengar hembusan nafas panjang dari Arya Pethak sembari duduk di singgasana Pakuwon Sendang setelah mendengar desakan dari para pendukungnya untuk segera bergerak.


"Hamba setuju dengan pendapat dari semua orang yang ada di tempat ini, Gusti Pangeran..


Kalau sampai Istana Wengker mengerahkan seluruh tenaga prajurit mereka untuk menyerbu kemari, kita yang akan kerepotan. Jumlah pasukan mereka sekitar 15 ribu prajurit. Dari hitung hitungan ini, kita kalah jumlah dengan mereka. Tapi jika kita menyerbu lebih dulu, mereka tidak akan punya cukup waktu untuk mengumpulkan para prajurit mereka", ujar Mpu Wikarto sembari menghormat pada Arya Pethak.


"Aku sebenarnya sependapat dengan mu, Mpu Wikarto.


Tapi aku masih menunggu hasil penjajakan yang di lakukan Ki Simo Biru dan Subrata ke Pakuwon Karangrejo. Bagaimanapun juga kita butuh sedikitnya 2 ribu orang prajurit lagi untuk menjalankan rencana yang kita susun selama ini", jawab Arya Pethak sembari mengusap dagunya. Nay Kemuning yang duduk menemaninya pun terlihat mengusap bahu Arya Pethak, mencoba untuk menenangkan pikiran sang suami.


Mpu Wikarto pun terdiam mendengar jawaban Arya Pethak. Bagaimanapun juga, pasukan mereka akan menghadapi musuh yang berjumlah besar dan kekuatan mereka saat ini belum bisa dianggap setara dengan para prajurit Wengker.


Suasana Pendopo Pakuwon Sendang menjadi sunyi untuk beberapa saat. Para petinggi prajurit dan pimpinan pasukan semuanya terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.


Tapi keheningan itu hanya berlangsung beberapa saat saja setelah Ki Simo Biru dan Subrata yang di tugaskan untuk ke Pakuwon Karangrejo memasuki Pendopo Pakuwon Sendang bersama dengan seorang lelaki paruh baya yang memakai pakaian layaknya seorang bangsawan dan seorang pemuda berbadan kekar berkumis tebal. Segera Ki Simo dan Subrata menyembah pada Arya Pethak dan diikuti oleh dua orang yang mengikuti nya. Mereka segera duduk bersila di lantai Pendopo Pakuwon Sendang.


"Mohon ampun hamba sedikit terlambat, Gusti Pangeran, Gusti Ayu..


Kami terpaksa melewati jalan memutar untuk menghindari patroli para anak buah Raden Ronggo yang menyisir wilayah di dekat Hutan Jati. Ini adalah Akuwu Lembu Sukmo dari Karangrejo dan putranya, Lembu Kangko. Kata mereka, Pakuwon Karangrejo mendukung penuh rencana Gusti Pangeran dan Gusti Ayu untuk merebut kembali hak atas tahta Tanah Mandala Wengker", lapor Ki Simo Biru sembari menghormat pada Arya Pethak dan Nay Kemuning.


"Apa benar yang dikatakan oleh Ki Simo Biru ini, Akuwu Lembu Sukmo?", tanya Arya Pethak segera.


"Benar sekali apa yang di katakan oleh Ki Simo Biru ini, Gusti Pangeran..


Singgasana Wengker harus kembali pada yang berhak. Adipati Warok Singo Ludro sudah menciderai adat istiadat yang dipegang oleh para leluhur selama ratusan tahun.


Hamba telah menyiapkan para pemuda yang terlatih dan prajurit Pakuwon Karangrejo sebanyak 2 ribu orang. Kami berharap agar Gusti Pangeran dan Gusti Ayu bersedia menerima para prajurit Pakuwon Karangrejo sebagai bagian dari pasukan Gusti Pangeran untuk mendapatkan hak atas singgasana Tanah Mandala Wengker", ucap Akuwu Lembu Sukmo segera.


Mendengar jawaban itu, senyum manis segera terukir di wajah tampan Arya Pethak. Dia segera berdiri dari tempat duduknya dan menggenggam lengan kanan dengan tangan kiri di belakang pinggang sembari berjalan ke tengah Pendopo Agung Pakuwon Sendang dimana seluruh pengikutnya duduk bersila dengan tertib.

__ADS_1


"Karena yang kita harapkan sudah datang, maka besok kita akan berangkat ke Wengker untuk menuntut keadilan!"


Mendengar ucapan Arya Pethak, Mpu Wikarto langsung berteriak keras sembari mengepalkan tangannya erat-erat keatas kepala sembari berkata, "Hidup Gusti Pangeran Arya Pethak ! Hidup Gusti Ayu Nay Kemuning!".


Teriakan penggugah semangat ini langsung bersahutan di Pendopo Agung Pakuwon Sendang. Arya Pethak dan Nay Kemuning langsung tersenyum lebar melihat semangat para pendukungnya.


Dan demikianlah... Keesokan harinya, mereka mulai bergerak menuju ke arah Kota Wengker. Dengan menggunakan taktik Supit Urang, Arya Pethak membagi pasukannya menjadi dua bagian. Satu bagian besar yang terdiri dari 9 ribu para prajurit biasa yang di pimpin langsung oleh nya, bergerak dari sisi selatan dengan tujuan untuk memberikan rasa takut kepada para penduduk Wengker agar tidak membantu pasukan Wengker.


Sedangkan ada pasukan lebih kecil yang terdiri dari para pendekar yang memiliki kemampuan beladiri cukup tinggi berjumlah sekitar 3 ribu orang, di pimpin oleh Ki Simo Biru dan Subrata bergerak diam diam dari arah Utara. Mereka bergerak cepat namun nyaris tanpa suara sedikitpun.


Di pasukan besar yang dipimpin oleh Arya Pethak, bende dengan umbul umbul aneka warna menjadi ciri khas dari kehadiran mereka karena mereka ingin menarik perhatian seluruh pandangan masyarakat Wengker.


Hanya dalam waktu dua hari, pasukan besar yang di pimpin oleh Arya Pethak telah mendekati Kota Wengker dari arah selatan hingga membuat para penduduk Tanah Wengker memilih untuk tidak berbuat apa-apa karena takut.


Dan ini berhasil membuat geger kalong Istana Mandala Wengker.


Raden Ronggo yang sedang asyik menikmati keindahan tubuh pasangan mesumnya, harus menghentikan kenikmatan sesaat nya karena Bango Rowo mengetuk pintu kamarnya dengan keras.


Thok thookkk thok !!


"Gusti Pangeran Gusti Pangeran Raden Ronggo...


Ada berita besar Gusti!", teriak Bango Rowo sembari terus mengetuk pintu kamar tidur Raden Ronggo.


"Bangsat tak tahu di untung!


"Ini hamba Gusti Pangeran, Bango Rowo..


Tolong cepat keluar Gusti Pangeran. Ada masalah besar sedang bergerak menuju ke Wengker!", teriak Bango Rowo dengan penuh kepanikan.


Mendengar penuturan Bango Rowo, sambil terus memaki-maki, Raden Ronggo dengan cepat memakai pakaian nya setelah melompat turun dari atas ranjang. Pasangan nya pun turut menutupi seluruh tubuh nya yang telanjang bulat tanpa sehelai benangpun dengan selimut. Perempuan cantik nan jelita ini langsung beringsut seolah bersembunyi di balik pojok ranjang tidur sang pangeran Wengker.


Dengan sedikit kasar, Raden Ronggo langsung membuka pintu kamar tidur nya. Matanya merah menahan amarah yang tinggi itu mendelik kereng pada Bango Rowo yang berdiri dengan wajah memucat.


"Sekarang katakan pada ku ada apa, Bango Rowo?


Kalau yang kau sampaikan tidak penting, kepala mu akan ku penggal saat ini juga", ucapan penuh ancaman keluar dari mulut Raden Ronggo.


.


"Mohon ampuni nyawa hamba, Gusti Pangeran. Tapi ini benar benar penting.


Ada pasukan besar bergerak cepat dari arah selatan Kota Wengker. Dalam waktu kurang dari setengah hari, mereka akan sampai di luar tembok Kota Wengker. Dari laporan para telik sandi, mereka tak kurang dari 10 ribu prajurit Gusti Pangeran", lapor Bango Rowo dengan cepat.


APAAAAAAA??!!!!!


Kaget Raden Ronggo mendengar laporan Bango Rowo. Selama sepekan ini, tidak ada laporan yang mengabarkan adanya pergerakan mencurigakan di seluruh wilayah Tanah Mandala Wengker. Jika tiba tiba saja muncul pasukan besar yang menyerbu ke arah gerbang utama Kota Wengker yang ada di selatan, tentu ini adalah berita kejutan besar.

__ADS_1


"Ba-bagaimana bisa ada masalah sebesar ini? Apa saja yang di lakukan telik sandi kita? Tidak mungkin menarik seluruh prajurit Wengker yang aku sebar di seluruh wilayah dalam waktu setengah hari..


Ini gawat!", keringat dingin mulai membasahi dahi Raden Ronggo.


"Bango Rowo, Cangak Biru..


Kumpulkan semua punggawa dan pimpinan prajurit Wengker yang ada! Suruh mereka kemari sekarang juga! Cepat !!", perintah Raden Ronggo yang sedang di landa kepanikan luar biasa.


"Baik Gusti Pangeran!", setelah menyembah pada Raden Ronggo, Bango Rowo dan Cangak Biru langsung mundur dari hadapan Raden Ronggo untuk melaksanakan tugas.


Sembari menunggu para punggawa prajurit berkumpul, Raden Ronggo mondar mandir sembari terus memikirkan tentang siapa mereka dan apa tujuan dari pasukan besar ini sebenarnya. Semakin Raden Ronggo berpikir, semakin ruwet pula pikiran nya.


Para punggawa istana dan perwira tinggi prajurit Wengker datang dengan tergopoh-gopoh. Panggilan dadakan Raden Ronggo benar benar mengagetkan mereka. Salah satu dari mereka adalah Patih Macan Putih. Lelaki paruh baya bertubuh gempal itu segera duduk bersila di lantai Keputran Wengker yang menjadi tempat tinggal Raden Ronggo di Istana.


"Kalian tahu apa sebabnya aku panggil kalian semua kemari dadakan seperti ini?",tanya Raden Ronggo segera.


"Kami sama sekali tidak tahu, Gusti Pangeran. Mohon keterangan nya", jawab Patih Macan Putih seraya menghormat pada Raden Ronggo yang merupakan Panglima perang Tanah Wengker, sebuah jabatan di bawah Patih namun saat perang terjadi maka seluruh nya akan patuh pada perintah nya termasuk Patih Tanah Mandala Wengker.


Raden Ronggo dengan cepat menjelaskan situasi yang terjadi saat ini kepada mereka. Para perwira tinggi prajurit Wengker juga para punggawa istana langsung tersentak mendengar penuturan Raden Ronggo. Kasak kusuk langsung terdengar dari mulut mereka.


"Sekarang aku tanya, berapa banyak jumlah prajurit Wengker yang masih berdiam di sekitar Kota Wengker ini?", tanya Raden Ronggo segera.


"Ampun Gusti Pangeran..


Di dalam kota hanya ada 2 ribu prajurit penjaga gerbang kota dan istana. Kalau dengan yang ada di sekitar Kota mungkin bisa di kumpulkan sekitar 7 ribu prajurit dalam waktu setengah hari", jawab Tumenggung Mahesa Jumena sembari menghormat pada Raden Ronggo.


Raden Ronggo langsung menepuk jidatnya sendiri dengan keras.


"Gawat ini gawat...


Sekarang kumpulkan semua prajurit yang bisa kita panggil dalam waktu setengah hari ke arah kota. Begitu sampai, tutup gerbang kota ! Lalu tata sedemikian rupa agar mereka siap untuk berperang!


Dengan ini aku nyatakan kita dalam keadaan darurat!", teriak Raden Ronggo dengan keras.


"Kami mengerti, Gusti Pangeran!"


Setelah berkata demikian, para punggawa dan perwira prajurit Wengker langsung bubar untuk melaksanakan tugas yang sudah di berikan oleh Raden Ronggo.


Bunyi titir kentongan bertalu-talu sebagai tanda peringatan bahaya terdengar keras. Pasar Kota Wengker yang sedang ramai dikunjungi mendadak langsung buyar seketika dengan adanya peringatan tanda bahaya. Semua sibuk menyelamatkan diri masing-masing. Para penduduk Kota Wengker langsung menutup pintu dan jendela rumah setelah anggota keluarga mereka masuk.


Beberapa prajurit yang bisa berkuda cepat di tugaskan oleh Tumenggung Mahesa Jumena agar memanggil para prajurit patroli yang sedang bertugas jauh dari istana untuk kembali. Sedangkan yang ada di dekat Istana, langsung bergerak masuk ke Kota Wengker sebagai pasukan pertahanan.


Setelah para prajurit Wengker berhasil dikumpulkan sebanyak 9 ribu prajurit, pintu gerbang Kota Wengker langsung di tutup. Suasana Kota Wengker berubah menjadi tegang dan mencekam.


Lewat tengah hari, sebuah pasukan besar mendekati tembok Kota Wengker. Bunyi bende yang di pukul berirama di tambah umbul umbul warna warni, juga tak lupa bendera mereka membuat nafas para prajurit pertahanan seperti terhenti beberapa saat.


Dari atas tembok kota Wengker, terlihat dua putra Rajamandala Wengker Adipati Warok Singo Ludro yaitu Raden Ronggo dan Raden Singomenggolo berdiri menatap ribuan orang prajurit yang terus mendekati tembok Kota Wengker. Raden Singomenggolo segera menoleh ke arah Raden Ronggo sembari bertanya,

__ADS_1


"Siapa mereka, Dhimas Ronggo?"


__ADS_2