Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Tiga Resi


__ADS_3

"Hehehehe...


Nah kau sudah bisa melihat makhluk halus bukan? Itulah kegunaan Ajian Mata Dewa. Dengan ilmu ini kau bisa mengatasi lawan yang menggunakan ilmu hitam, Arya Pethak..


Ilmu ku hebat bukan? Hehehehe", Resi Sunyaluri terkekeh sambil sedikit menyombongkan diri di hadapan kedua saudara seperguruan nya.


"Lantas bagaimana bisa mengalahkan bangsa siluman seperti mereka, Guru Resi? Bukankah mereka tidak mempan dengan ilmu kanuragan biasa?", tanya Arya Pethak sambil menatap ke arah Resi Sunyaluri.


Huahahahahahaha


Resi Jathayu dan Resi Bagaspati langsung tertawa terpingkal-pingkal mendengar pertanyaan Arya Pethak. Sedangkan Resi Sunyaluri langsung menggaruk kepalanya.


"Ilmu ajaran mu tidak berguna jika kau tidak mengajarkan ilmu untuk memusnahkan makhluk halus, Adhi Sunyaluri..


Jangan setengah-setengah dalam membekali Arya Pethak", ujar Resi Bagaspati sambil tersenyum simpul.


Hemmmmmm..


"Benar juga omongan mu, Kakang Bagaspati..


Arya Pethak, selain Ajian Serat Jiwa dari Kakang Jathayu, kau punya ilmu kanuragan apa lagi?", Resi Sunyaluri mengalihkan pandangannya pada Arya Pethak.


"Dari ayah angkat, saya mendapat Ajian Langkah Dewa Angin dan Ajian Tapak Brajamusti Guru Resi..


Kalau dari Gusti Patih Pranaraja, saya diturunkan Ilmu Lembu Sekilan", jawab Arya Pethak dengan jujur.


Resi Sunyaluri langsung tersenyum lebar.


"Bocah Bagus,


Ajian Tapak Brajamusti itu sudah sanggup untuk membantai bangsa lelembut yang kau hadapi.


Sekarang coba kau buru siluman yang ada di balik pohon besar itu. Pergunakan Ajian Mata Dewa mu, lalu gabungkan dengan Ajian Tapak Brajamusti", perintah Resi Sunyaluri segera. Arya Pethak menghormat pada ketiga Resi sepuh itu, lalu melesat cepat kearah pohon besar menggunakan Ajian Langkah Dewa Angin.


Satu kali tarikan napas, Arya Pethak telah sampai di pohon besar. Sesosok makhluk hitam bermata merah menyala menatap tajam ke arah Arya Pethak.


"Mau apa kau bangsa manusia?! Ingin menjadi santapan ku ha?", hardik makhluk hitam itu dengan garang. Arya Pethak pura-pura tak mendengar gertakan si makhluk halus itu.


Phuihhhh..


'Rupanya aku benar-benar bisa melihat makhluk halus dengan ajian ini', batin Arya Pethak yang segera menghantamkan tangan kanannya yang tiba-tiba berwarna biru terang ke arah makhluk hitam besar penunggu pohon besar.


Si makhluk halus yang biasa disebut genderuwo itu langsung terkejut. Buru-buru dia menghindar dari hantaman tangan kanan Arya Pethak.


Blllaaammmmmmmm!!


Ajian Tapak Brajamusti langsung menghantam batang pohon besar itu karena si penunggu pohon menghindari serangan Arya Pethak. Pohon besar itu langsung berderak keras karena separuh batang nya hancur terkena Ajian Tapak Brajamusti.


"Keparat!


I-itu Ajian Tapak Brajamusti.. Akan ku bunuh kau manusia laknat", teriak genderuwo sambil menghantamkan tangan kanannya. Arya Pethak merunduk sedikit menghindari tangan genderuwo lalu tangan pemuda tampan itu segera menghantam dada si genderuwo.


Bhhhuuuuuuggggh...


Bllaaaaaaaarrrrrr!!!


Si genderuwo langsung terpelanting ke belakang. Meski Arya Pethak menggunakan separuh tenaga dalam nya, si genderuwo muntah darah berwarna hijau kehitaman. Matanya nanar menatap ke arah Arya Pethak.


"Kau kau bisa melihat ku?!", tunjuk si genderuwo dengan ketakutan.


"Tentu saja. Kalau tidak mana mungkin aku bisa menghantam dada mu baru saja. Sekarang waktunya kau aku musnahkan", ujar Arya Pethak sambil tersenyum tipis. Tangan kanannya kembali memancarkan sinar biru terang Ajian Tapak Brajamusti.


Si genderuwo langsung bersujud kepada Arya Pethak. Dia tahu bahwa melawan orang yang bisa melihat makhluk halus yang menggunakan Ajian Tapak Brajamusti pasti tidak akan menang. Ajian Tapak Brajamusti adalah ajian yang mampu membunuh makhluk halus juga bisa menghancurkan mahkluk berbadan kasar.


"Ampuni nyawa ku Ndoro, aku berjanji akan menjadi budak mu seumur hidup ku jika kau mengampuni nyawa ku", ujar si genderuwo dengan cepat.


Arya Pethak langsung menghentikan langkahnya. Pemuda tampan itu tampak berpikir keras.


Hemmmmmmm...


"Bagaimana cara aku memanggil mu jika aku butuh bantuan mu?", tanya Arya Pethak sambil menatap ke arah makhluk halus di hadapannya itu.


"Ndoro tinggal menjentikkan jari saja sambil menyebut nama hamba Dawuk Ireng maka hamba pasti akan datang memenuhi panggilan Ndoro", ujar genderuwo dengan penuh hormat.


"Baiklah,


Kali ini ku lepaskan kau. Jika berani menipu ku, akan ku kirim kau ke neraka", ucap Arya Pethak sambil menatap tajam ke arah genderuwo.


"Hamba tidak berani. Hamba tidak berani. Mulai sekarang hamba adalah budak Ndoro", kata si genderuwo yang bernama Dawuk Ireng itu segera.


"Kau boleh pergi", ujar Arya Pethak sambil tersenyum.


Dawuk Ireng menghormat pada Arya Pethak lalu tubuhnya menghilang dari pandangan.


Arya Pethak segera melesat kembali ke serambi kediaman para resi Pertapaan Giri Lawu.


Resi Sunyaluri segera mendekati Arya Pethak usai pemuda itu sampai di serambi.

__ADS_1


"Bagaimana Arya Pethak? Hebat kan ilmu ku?", tanya Resi Sunyaluri sambil tersenyum lebar.


"Ilmu ajaran Guru Resi sungguh luar biasa. Arya Pethak berterimakasih kepada Guru Resi", jawab Arya Pethak sambil menghormat pada Resi Sunyaluri.


"Tuh kakang lihat bukan? Bocah bagus ini saja mengakui kehebatan ilmu dari ku", ujar Resi Sunyaluri sambil tersenyum pada kedua saudara seperguruan nya.


"Aku besok juga akan menurunkan ilmu untuk Arya Pethak..


Besok pagi, lihat saja Adhi Sunyaluri", Resi Bagaspati merasa kesal dengan sikap adik seperguruan nya yang terlihat mengejek pada nya.


Usai berkata demikian, Resi Bagaspati segera berlalu menuju ke arah tempat peristirahatan nya sementara Resi Sunyaluri terkekeh kecil karena merasa menang dari kakak seperguruan nya itu.


Sedangkan Resi Jathayu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat ulah kedua adik seperguruan nya yang seolah bersaing adu ilmu kanuragan mereka.


Malam semakin larut. Suasana dingin menyelimuti lereng Gunung Lawu apalagi malam ini kabut tebal menutupi seluruh lereng gunung.


Arya Pethak bersemedi dengan tenang di dalam bilik tidur yang di berikan oleh Resi Jathayu kepadanya. Dia bersemedi sambil menata tenaga dalam dan aliran nafasnya.


Ayam jantan berkokok lantang dari kandang menandakan pagi telah tiba di lereng Gunung Lawu. Langit timur mulai memerah, menyambut hadirnya sang mentari pagi sang penguasa siang hari.


Suara kokok ayam jantan serta merta membangunkan Arya Pethak dari semedi nya. Pemuda tampan itu bergegas turun dari ranjang tidur nya menuju ke sebuah sumber air kecil di barat sanggar pamujan. Kabut tebal yang masih menutupi tempat itu tak menghalangi Arya Pethak melangkah ke sumber air.


Saat Arya Pethak baru selesai mencuci muka, sebuah bayangan putih dengan cepat melesat ke arah nya sambil mengayunkan tongkat kayu kearah kepala Arya Pethak.


Whuuthhh..


Angin dingin berdesir kencang membuat Arya Pethak tersadar bahwa dia dalam bahaya. Dengan cepat Arya Pethak merunduk menghindari pukulan tongkat kemudian menghantamkan tangan kanannya ke arah si bayangan putih. Namun tangan bayangan putih dengan cepat memapak serangannya dengan tapak tangan nya.


Blllllaaaarrrrrr!!


Si bayangan putih terdorong mundur begitu pula Arya Pethak.


"Bagus bagus Arya Pethak..


Rupanya kau cepat juga menanggapi serangan dari belakang. Kau memang harus waspada terhadap setiap kemungkinan serangan yang datang dari segala arah", ujar si bayangan putih yang tak lain adalah Resi Jathayu.


Arya Pethak segera memberi hormat kepada gurunya itu.


"Guru Resi kenapa mengagetkan ku? Untung saja aku masih menahan separuh tenaga dalam ku", Arya Pethak menatap wajah sepuh Resi Jathayu segera.


"Di dunia persilatan, kau harus waspada terhadap segala situasi. Aku menyerang mu bukan untuk mencelakai mu, Bocah Bagus..


Tapi lebih pada melatih kesigapan mu dalam setiap kemungkinan yang mungkin terjadi.


Ingatlah pesan ku ini", wejang Resi Jathayu sambil tersenyum tipis.


"Tempat ini sangat dingin kalau pagi buta seperti ini. Ayo kita berdiang dulu sambil menunggu kabut ini pergi", ajak Resi Jathayu ke arah dapur pertapaan yang ada di samping rumah tinggal nya.


Arya Pethak mengikuti langkah sang guru. Ternyata disana Resi Bagaspati dan Resi Sunyaluri sudah lebih dulu menghangatkan badan dengan duduk melingkar di depan perapian.


Singkong rebus hangat menjadi menu sarapan mereka pagi itu sambil menunggu kabut menghilang.


Saat matahari pagi mulai memancarkan sinar hangat nya, perlahan kabut yang menutupi lereng Gunung Lawu menghilang. Resi Bagaspati segera membawa Arya Pethak ke kebun bunga di samping halaman tempat tinggal mereka.


"Mau apa kau ajak Arya Pethak ke situ Kakang Bagaspati?


Mau kau ajari jadi petani bunga? Hehehehe", Resi Sunyaluri tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah masam Resi Bagaspati karena ejekannya.


"Jangan dengar ocehan Adhi Sunyaluri, Bocah Bagus..


Sekarang perhatikan aku", ujar Resi Bagaspati sambil mengambil selembar daun lalu Resi Bagaspati segera meniupnya. Hebatnya terdengar suara siulan melengking tinggi.


Tak berapa lama kemudian ribuan ekor tawon berkumpul di atas kepala Resi Bagaspati. Dengan menggoyangkan jari telunjuknya, ribuan hewan mematikan itu mengikuti perintah Resi Bagaspati. Mereka seperti memiliki kemampuan mengerti dan bisa di kendalikan oleh Resi Bagaspati.


"Dengan Ajian Madukara ini kau bisa mengendalikan lebah lebah sesuka hati mu, Bocah Bagus..


Dalam arti, kau memiliki pasukan khusus yang bisa membantu mu mengatasi musuh mu jika jumlah mereka terlalu banyak.


Apa kau tertarik dengan ilmu ini Arya Pethak?", tanya Resi Bagaspati sambil tersenyum simpul.


"Tentu saja Guru Resi,


Ilmu ini akan sangat membantu jika aku di keroyok oleh puluhan musuh", jawab Arya Pethak dengan cepat.


"Bagus, kau memang cerdas.


Sekarang bersiaplah untuk menerima Ajian Madukara Arya Pethak", ujar Resi Bagaspati sambil meraih bumbung bambu kecil yang ada di pinggangnya. Resi Bagaspati membuka tutup bumbung bambu. Aroma manis dan segar menguap di udara. Jari telunjuk Resi Bagaspati segera menusuk ke dalam bumbung bambu, kemudian mengoleskan cairan kuning kental ke bibir Arya Pethak.


Rasa hangat bercampur dengan aroma manis dan segar menyelusup ke dalam bibir Arya Pethak. Tangan Resi Bagaspati segera memegang dahi Arya Pethak dan sebuah hawa panas merambat ke seluruh tubuh pemuda itu.


Resi Bagaspati menghela nafas panjang.


"Sekarang coba kau bersiul Bocah Bagus", pinta Resi Bagaspati segera.


Arya Pethak segera mengambil selembar daun dan meniup nya dengan keras.


Suuuuiiiiiiiitttttt......

__ADS_1


Ribuan lebah langsung berkumpul di udara. Arya Pethak sendiri sampai kaget melihat banyaknya hewan penyengat itu diatas kepala nya.


"Sekarang coba kendalikan mereka dengan jari telunjuk mu ke kiri", perintah Resi Bagaspati yang membuat Arya Pethak menggerakkan jari telunjuknya ke kiri. Ribuan tawon melesat cepat kearah Resi Sunyaluri.


Pertapa tua itu kaget bukan main melihat ribuan tawon menyerbu ke arah nya. Resi Sunyaluri langsung mengerahkan ilmu meringankan tubuh nya untuk menjauh dari kumpulan lebah yang menakutkan. Namun tawon tawon itu seakan tak mau melepaskan Resi Sunyaluri.


Resi Jathayu dan Resi Bagaspati terpingkal pingkal melihat Resi Sunyaluri yang ketakutan di kejar gerombolan tawon.


"Bocah edan..


Cepat hentikan tawon sialan ini", teriak Resi Sunyaluri dengan keras.


"A-aku tidak tahu caranya Guru Resi", ujar Arya Pethak sambil kebingungan dengan apa yang harus dilakukan nya.


Resi Bagaspati yang tidak tega melihat adik seperguruan nya menderita akibat kejaran tawon Arya Pethak, langsung mendekati Arya Pethak dan membisikkan sesuatu di telinga Arya Pethak. Putra angkat Mpu Prawira itu segera melaksanakan omongan Resi Bagaspati. Mendadak tawon tawon itu membubarkan diri dan menghilang dari tempat itu.


Resi Sunyaluri tersengal sengal nafasnya lalu mendekati Arya Pethak dan Resi Bagaspati segera. Raut muka kakek tua itu penuh kekesalan.


"Kau kau sengaja ya Kakang Bagaspati? Sengaja mengerjai ku kan?", tanya Resi Sunyaluri sambil menunjuk ke arah Resi Bagaspati yang senyum senyum saja.


"Aku tidak melakukan apa-apa Adhi Sunyaluri. Tanya saja sama Arya Pethak", jawab Resi Bagaspati dengan entengnya.


Resi Sunyaluri kehabisan kata-kata untuk berdebat dengan Resi Bagaspati. Kakek tua itu memilih untuk pergi dari tempat itu sambil menggerutu.


Saat matahari sepenggal naik, Resi Jathayu berpamitan kepada dua saudara nya untuk mengantar Arya Pethak ke Kota Kurawan sesuai janji nya pada Senopati Dandang Mangore tempo hari.


Resi Bagaspati dan Resi Sunyaluri melepas kepergian Arya Pethak dengan haru. Walaupun pemuda itu hanya singkat berada di Pertapaan Giri Lawu, tapi dia memberikan warna tersendiri bagi hidup mereka.


Arya Pethak melesat cepat menuruni lereng Gunung Lawu mengikuti langkah Resi Jathayu.


"Resi Guru tidak jadi menguji kemampuan ku?", tanya Arya Pethak pada Resi Jathayu di sela sela gerakannya yang begitu ringan diantara pepohonan yang tumbuh di hutan lereng Gunung Lawu.


"Aku sudah menguji mu tadi pagi. Itu sudah cukup buat ku. Ayo kita cepat ke kota Kurawan", jawab Resi Jathayu sambil menambah kecepatan ilmu meringankan tubuh nya.


Arya Pethak terus mengekor di belakang Resi Jathayu.


Di dalam istana Katumenggungan, Klungsur sedang duduk di bawah pohon nangka di samping halaman depan Katumenggungan.


Sekarwangi dan Paramita pun hanya diam saja. Jujur mereka mulai bosan tinggal di tempat itu tanpa melakukan apa apa.


"Ndoro Putri,


Ndoro Pethak kapan to datang nya? Katanya 5 hari. Ini sudah 5 hari kog gak pulang pulang", tanya Klungsur pada Sekarwangi yang sedang memandang langit biru di atas Kadipaten Kurawan.


"Aku juga tidak tahu Sur..


Aku mulai bosan dengan Katumenggungan Kurawan. Kalau Kakang Pethak tidak pulang juga hari ini, besok aku mau pamit pulang ke Kadiri", jawab Sekarwangi dengan nada putus asa. Perempuan cantik itu benar-benar tidak memiliki semangat tanpa kehadiran Arya Pethak di dekatnya.


Dua bayangan putih berkelebat cepat dan turun di halaman Katumenggungan. Salah satu bayangan itu langsung bicara dengan lembut,


"Yakin Gusti Putri pulang sendiri ke Kadiri?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Mumpung author lagi tidak ada pekerjaan lapangan, puas2in dulu lah nulis kelanjutan Arya Pethak 😁😁😁😁


Yang ingin berteman dengan author silahkan kontak di IG author : ebez2812


Salam sehat selalu

__ADS_1


__ADS_2