Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Rampok Bajing Ireng


__ADS_3

"Alasan saja, kau itu memang ceroboh", Arya Pethak mendengus dingin.


"Sumpah Ndoro, aku tidak bohong..


Hoooyyyy...


Siapa sih yang buang kulit pisang sembarangan disini?", Klungsur tetap kekeuh dengan alasannya. Resi Jati Waluyo tersenyum simpul melihat tingkah laku dua orang itu.


"Sudah jangan ribut...


Sini kau Arya Pethak dan kamu juga Klungsur", panggil Resi Jati Waluyo yang membuat perdebatan mereka mereda. Arya Pethak dan Klungsur segera mendekati Resi Jati Waluyo dan duduk di samping kanan kiri sang resi di depan perapian.


"Dengarkan aku baik baik Arya Pethak..


Si Sesat Tua itu adalah orang paling aneh dan misterius di Tatar Pasundan. Dia sekali tidak suka dengan orang, maka selamanya akan membencinya. Jadi jangan sekali kali menyinggung perasaan nya jika tidak ingin celaka.


Ki Buyut Mangun Tapa memiliki Ajian Halimun, yang bisa membuat dia berpindah cepat seperti menembus ruang dan waktu. Selain sebagai pendekar pilih tanding, Sesat Tua itu juga terkenal dengan kemampuan nya meruwat pusaka yang memiliki riwayat mengerikan.


Aku pernah mendengar bahwa Air Mata Suci Bidadari yang dia punya, berasal dari puncak Gunung Gede waktu dia bertapa disana. Air Mata Suci Bidadari adalah obat ampuh yang bisa menyembuhkan segala penyakit dan teluh serta santet ilmu hitam.


Ingat pesan ku ini baik baik, dan pastikan sebelum purnama ketiga kalian sudah sampai kemari lagi atau nyawa perempuan muda itu tak tertolong lagi", Resi Jati Waluyo menutup omongannya.


"Aku mengerti Resi", Arya Pethak mengangguk dengan cepat.


Malam segera berganti pagi. Kicau burung bersahutan di ranting pohon jati yang tumbuh di belakang sanggar pamujan Pertapaan Bukit Tunggul.


Pagi itu, usai mempersiapkan segala sesuatunya, Arya Pethak, Klungsur dan Anjani meninggalkan Bukit Tunggul dengan diantar oleh Nyi Sawitri dan Resi Jati Waluyo sampai di pintu gerbang pertapaan.


Mereka bertiga segera menggebrak kuda tunggangan nya melesat cepat kearah barat. Perjalanan ke barat Tanah Jawadwipa di mulai hari itu.


Setelah meninggalkan Bukit Tunggul, rombongan Arya Pethak menyusuri jalan raya yang menuju ke arah wilayah Kadipaten Kalingga. Pergerakan Arya Pethak, Klungsur dan Anjani selalu menjadi perhatian para penduduk yang daerahnya mereka lewati.


Saat tengah hari, rombongan Arya Pethak memasuki wilayah kota Pakuwon Weleri yang merupakan batas barat laut Kadipaten Kembang Kuning dan Kadipaten Kalingga.


Matahari yang terik bersinar di atas kepala, memaksa Arya Pethak dan kedua pengikutnya untuk beristirahat. Perut mereka pun mulai merasakan lapar hingga Arya Pethak menghentikan langkah kaki kuda tunggangan nya di depan sebuah warung makan yang terletak di barat kota Pakuwon Weleri.


Suasana warung makan itu terlihat lumayan ramai oleh pengunjung yang keluar masuk. Arya Pethak segera menuntun kuda nya usai melompat turun dari pelana. Klungsur dan Anjani langsung mengikuti langkah kaki sang pendekar muda yang mengikat tali kekang kudanya pada geladakan yang ada di samping kiri rumah makan itu.


Seorang pekatik atau juru rawat kuda langsung memberikan rumput hijau segar pada kuda mereka.


Mereka bertiga segera masuk ke dalam warung makan dan mendekati seorang perempuan paruh baya yang sibuk menata makanan pada piring pesanan para pengunjung.


"Nyi, aku pesan ikan bakar satu lengkap dengan nasi putih nya.


Kalian mau makan apa?", Arya Pethak menoleh ke arah Klungsur dan Anjani di belakang nya.


"Sama dengan Ndoro Pethak", jawab Anjani singkat.


"Sama, aku juga mau ikan bakar Ndoro", Klungsur ikut menimpali.


"Jadi ikan bakar nya tiga porsi ya Nyi, lengkap dengan nasi putih..


Kalau minum kami minum air kendi saja ", ujar Arya Pethak dengan sopan.


"Segera aku siapkan kisanak.


Mo Karmo, antar tamu kita ke meja mereka", ucap perempuan paruh baya itu yang segera membuat seorang pria bertubuh kurus mempersilahkan rombongan Arya Pethak menempati meja makan yang ada di sudut ruangan warung makan.


Tak berapa lama kemudian pesanan Arya Pethak datang dengan diantar oleh Karmo sang pelayan warung makan.


"Kisanak,


Kalau dari sini ke Kalingga sebaiknya lewat mana? Kami pengelana dari jauh, ingin ke kota Kadipaten Kalingga", tanya Arya Pethak kepada Karmo yang sedang meletakkan piring piring ke atas meja warung.


"Oh Kisanak mau ke Kalingga toh?


Lewat jalan depan itu lurus saja ke barat Kisanak. Setelah melewati Alas Roban, kalian tinggal melewati Pakuwon Sembung sebelum sampai di wilayah Kota Kadipaten Kalingga. Tapi sebaiknya kalian hati hati saat melewati Alas Roban ", jawab Karmo sambil meletakkan bakul nasi putih ke atas meja.


"Memang ada apa di Alas Roban, Kisanak?", tanya Anjani sembari meraih piring yang berisi ikan mas bakar ke depannya.


"Dengar dengar dari para pedagang yang lewat tempat itu, ada sekelompok perampok sadis yang tidak segan segan untuk menghabisi nyawa mangsanya..


Kalau tidak salah mereka menamakan dirinya sebagai Rampok Bajing Ireng. Sudah banyak korban berjatuhan. Pihak Istana Kadipaten Kalingga sendiri sudah menurunkan para perwira tinggi nya untuk menghancurkan kelompok perampok itu, tapi sampai sekarang mereka belum juga berhasil menumpas para pengacau itu.


Ah aku terlalu banyak bicara. Silahkan di nikmati makan siang mu kisanak", ucap Karmo sang pelayan warung makan yang langsung mundur dari samping meja Arya Pethak dan kawan-kawan nya.


Usai menikmati makan siang itu, Arya Pethak segera membayar makanan nya dan bergegas keluar dari warung makan di barat kota Pakuwon Weleri diikuti Klungsur dan Anjani. Tak lupa Arya Pethak memberikan beberapa kepeng perunggu kembalian dari warung makan pada sang pekatik yang memberi makan pada kuda tunggangan mereka.


"Ayo kita lanjutkan perjalanan", Arya Pethak segera melompat ke atas pelana kuda nya dan memacu hewan pelari itu ke arah barat. Klungsur mengikuti di belakang bersama Anjani.


Setelah melewati beberapa desa, akhirnya rombongan Arya Pethak memasuki wilayah Alas Roban.


Seperti namanya, Alas Roban memiliki pepohonan yang tumbuh rimbun. Tinggi pepohonan yang mencapai puluhan depa dengan daun rindang menghalangi sinar matahari mencapai tanah hingga jalan berkelok-kelok yang membelah Alas Roban senantiasa basah meski sedang di musim awal kemarau seperti sekarang ini.


Suasana yang sepi di tambah banyaknya hewan liar seperti kera dan babi hutan membuat tempat ini terasa menakutkan.

__ADS_1


Karena takut kemalaman di hutan itu, rombongan Arya Pethak memacu kudanya secepat mungkin agar segera sampai di pemukiman penduduk terdekat. Hampir setengah hutan mereka lewati tapi Arya Pethak, Klungsur dan Anjani belum berpapasan dengan seorang pun di jalan yang membelah tengah Alas Roban.


Saat rombongan Arya Pethak hampir keluar dari Alas Roban, dua anak panah melesat cepat kearah mereka bertiga. Ketajaman indra pendengaran Arya Pethak membuat pendekar muda itu segera menarik tali kekang kudanya.


Shhhrriinggg shriingg!!


Arya Pethak segera melompat tinggi ke udara sembari menghantamkan tangan kanannya ke arah samping kanan nya. Serangkum angin panas menerabas cepat kearah dua anak panah yang menuju ke arah mereka.


Whuuussshh...


Blllaaaaaarrr!!!!


Dua anak panah langsung hancur berkeping keping terkena hantaman angin panas tenaga dalam Arya Pethak. Pendekar muda itu melihat pergerakan dari semak belukar yang tumbuh di samping kiri jalan. Tak berapa lama kemudian muncul puluhan orang berwajah beringas dengan senyum seringai terukir di wajah mereka masing-masing mengepung Arya Pethak, Klungsur dan Anjani.


"Harta atau nyawa?


Kalian tentukan sendiri pilihan mu hahahaha", ujar seorang lelaki bertubuh gempal dengan kumis tebal dan jambang lebat. Lelaki berkepala plontos itu memegang sepasang kapak besar di kedua tangannya.


"Siapa kalian? Kenapa menghadang kami?", Anjani menatap tajam ke arah rombongan pria berwajah sangar itu.


"Kami Rampok Bajing Ireng. Alas Roban ini adalah wilayah kekuasaan kami. Cepat serahkan harta kalian jika masih ingin hidup", teriak si lelaki yang membawa sepasang kapak besar itu sambil menyeringai lebar.


"Jadi kalian yang selama ini menjadi momok bagi para pedagang yang melintasi jalan ini. Waktunya untuk membasmi kotoran rakyat seperti kalian", Arya Pethak mendengus dingin.


"Membasmi kami?


Huahahahahahaha.... Kau ini sangat lucu ya?!


Perwira Kalingga saja lari terbirit-birit waktu bertemu aku, Kapak Kembar Alas Roban. Dan sekarang kalian hanya bertiga ingin membasmi kami?


Sadarlah dari mimpi di siang bolong mu, bocah bau kencur! Huahahahahahaha", tawa lelaki bertubuh gempal yang mengaku sebagai Kapak Kembar Alas Roban pecah dan di sambung oleh para pengikutnya.


Arya Pethak segera tersenyum lebar. Pendekar muda itu segera bersiul panjang.


Shuuuuuuiiiiiiiiiitttttt!!!


Entah darimana datangnya tiba-tiba munculnya ribuan ekor lebah terbang di atas kepala Arya Pethak. Seluruh orang yang ada di situ termasuk Anjani dan Klungsur terkejut melihat pemandangan itu. Ujung jari telunjuk Arya Pethak langsung di kulum, berikutnya Arya Pethak menggerakkan jari telunjuk tangan kiri nya ke arah puluhan perampok yang mengepung nya. Ribuan ekor lebah itu langsung menyerbu ke arah para perampok.


Nguuuuuuuuuuunngggggg!!!


"Awas serangan tawon!", teriak seorang perampok yang bergidik ngeri melihat ribuan ekor lebah menyerang mereka. Sebagian mereka langsung lari terbirit-birit, takut sengatan lebah.


Sebagian lagi berusaha menghalau tawon tawon itu dengan mengerahkan seluruh kemampuan nya.


Arya Pethak mengerahkan Ajian Madukara ajaran Resi Bagaspati dari Pertapaan Giri Lawu yang baru sekali ini dia gunakan.


"Saatnya kita maju", Arya Pethak tersenyum penuh arti sambil mencabut Pedang Setan dari punggungnya.


"Ta-tapi Ndoro Pethak, tawon tawon itu..."


Belum selesai Klungsur bicara, Arya Pethak sudah memotong omongan nya.


"Kau tenang saja..


Tawon tawon itu tidak akan menyerang kalian. Percayalah padaku", usai berkata demikian Arya Pethak segera melesat cepat kearah si kepala perampok yang masih mengayunkan kapaknya untuk menghalau tawon yang menyerangnya.


Kapak Kembar Alas Roban yang melihat gerakan Arya Pethak buru buru mengayunkan kapak besar di tangan kirinya untuk menghadapi sabetan pedang Arya Pethak.


Whhhuuuggghhhh..


Thrrriiinnnggggg!!


Kuatnya tebasan Pedang Setan membuat Si Kapak Kembar Alas Roban terdorong mundur beberapa langkah. Arya Pethak terus memburunya dengan serangan cepat yang mematikan.


Melihat Arya Pethak yang sama sekali tidak mendapat serangan dari lebah-lebah itu, Klungsur dan Anjani berpandangan sejenak sebelum mereka ikut menerjang maju ke arah para perampok yang sedang berjuang mengusir tawon yang menyerang mereka.


Klungsur dengan senjata baru nya langsung berlari menuju ke arah seorang perampok yang wajahnya telah bengkak akibat serangan tawon.


"Rasakan kekuatan senjata baru ku", teriak Klungsur sembari menghantamkan Gada Galih Asem ke arah dada si perampok.


Bhhhuuuuuuggggh..


Aaauuuuggggghhhhh!!


Si perampok yang bengkak mata nya akibat sengatan tawon, langsung terpental ke belakang dan menghantam pohon yang tumbuh di tepi jalan. Dia langsung tewas dengan muntah darah karena Gada Galih Asem menghancurkan tulang iganya.


"Hehehehe senjata ini bagus aku suka aku suka", ujar Klungsur sembari mencium gagang Gada Galih Asem. Pria bogel itu kembali merangsek maju ke arah lawan yang masih kerepotan mengurus diri akibat serangan tawon kiriman Arya Pethak.


Anjani yang menggenggam Pisau Dewa Kematian di tangan kanannya melesat cepat kearah seorang perampok berbadan besar yang wajahnya bengkak.


Satu sabetan Pisau Dewa Kematian langsung merobek perut si perampok bertubuh besar itu dengan cepat.


Shrraaaakkkkhhhh..


Aaaarrrgggggghhhhh!!

__ADS_1


Si perampok bertubuh besar itu meraung keras. Sabetan Pisau Dewa Kematian yang beracun langsung membuat pria itu tersungkur dengan mulut berbusa putih.


Salah seorang perampok yang ada di dekat Anjani, membabatkan goloknya ke arah leher Anjani. Gadis itu merasakan angin berdesir kencang kearah leher, dengan cepat merendahkan tubuhnya sembari menghantam dada lawan dengan Ajian Tapak Ular Siluman di tangan kirinya.


Blllaaaaaarrr!!!!


Lawan terpental dan jatuh dengan dada gosong bergambar lima jari tangan. Anjani terus mengamuk membantai para anggota Rampok Bajing Ireng yang kemampuan beladiri nya memang jauh di bawah Anjani.


Meski anggota Rampok Bajing Ireng berjumlah sekitar 20 orang lebih, tapi serangan tawon membuat mereka tidak bisa berbuat banyak menghadapi Arya Pethak dan kawan-kawan nya.


Si Kapak Kembar Alas Roban mendengus keras sambil berlari cepat kearah Arya Pethak. Satu ayunan kapak besar nya mengincar kepala Arya Pethak. Dengan ringan, Arya Pethak melenting tinggi ke udara menghindari kapak besar itu.


Bhhuuuuummmmmmhh!!


Ledakan keras terdengar saat kapak besar dari Si Kapak Kembar Alas Roban menghantam tanah. Arya Pethak segera turun dan menginjak ujung kapak besar yang masih menancap di tanah.


Dengan geram Si Kapak Kembar Alas Roban membabatkan kapak besar di tangan kirinya ke arah kaki Arya Pethak yang menginjak ujung kapak.


Whhhuuuggghhhh!!


Namun belum sempat dia mengenai kaki Arya Pethak, pendekar muda itu langsung membuat gerakan berputar cepat dan melayangkan tendangan keras kearah wajah Si Kapak Kembar Alas Roban.


Dhiiieeeessshh!!


Oouugghhhh!!!


Si Kapak Kembar Alas Roban terpental ke arah samping. Kapak besar di tangan kanannya terlepas. Belum sempat dia menghujam tanah, satu gerakan kilat Arya Pethak mendahului tubuh Si Kapak Kembar Alas Roban. Tebasan Pedang Setan langsung memotong leher kepala Rampok Bajing Ireng.


Chhrrrraaaaaassss!!


Tubuh dan kepala Si Kapak Kembar Alas Roban jatuh dengan posisi terpisah. Selanjutnya, Arya Pethak melesat cepat kearah beberapa perampok yang masih berupaya mengepung Anjani dan Klungsur. Dua sabetan Pedang Setan langsung membuat dua orang anggota Rampok Bajing Ireng yang tersisa roboh bermandikan darah.


Sisa anggota yang masih hidup langsung melompat ke dalam rimbun pepohonan yang tumbuh di sepanjang tepi jalan Alas Roban.


Arya Pethak segera menyarungkan kembali Pedang Setan ke punggungnya. Anjani menarik nafas lega sedangkan Klungsur masih menimang-nimang Gada Galih Asem di tangan nya.


Shuuuuuuiiiiiiiiiitttttt!!!


Siulan panjang Arya Pethak langsung membuat para tawon yang menyerang kawanan Rampok Bajing Ireng perlahan bubar dan menghilang.


Mereka bertiga segera melompat ke atas kuda mereka masing-masing dan memacu kuda mereka menyelusuri sisa jalan raya yang membelah Alas Roban.


Begitu sampai di luar Alas Roban, matahari telah condong ke barat, sebentar lagi senja akan segera tiba. Rombongan itu segera memacu kudanya menuju ke sebuah pemukiman yang masuk wilayah Pakuwon Sembung.


Dua orang petani yang nampak baru pulang dari ladang, menghentikan langkah mereka saat Arya Pethak turun dari kudanya untuk bertanya arah.


Usai mendapat petunjuk, Arya Pethak, Klungsur dan Anjani memacu kudanya menuju ke arah barat menuju kota besar di timur Kota Kadipaten Kalingga.


Kota Pakuwon Sembung.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bonus chapter ya untuk para penggemar Arya Pethak dan kawan-kawan 😁😁✌️✌️

__ADS_1


Yang penting jangan lupa dukung terus author berkarya. Terimakasih semuanya 🙏🙏


__ADS_2