Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Dua Putri Lurah Lwaram


__ADS_3

Rara Larasati dan Seta Wahana di bawa ke sebuah kamar yang tertutup rapat ibarat rumah tahanan. Dua orang penjaga di tempatkan di depan pintu kamar tertutup itu.


"Sudah sesuai dengan perintah Gusti Pangeran. Gadis Julung Kembang itu kami tempatkan di kamar paling ujung", lapor sang pengawal pribadi sembari menghormat pada Raden Margapati.


"Bagus, kau memang bisa diandalkan.


Ajak seorang teman mu, berangkatlah ke goa pertapaan guru ku, Mpu Gendrawana. Bilang pada nya bahwa gadis Julung Kembang sudah aku dapatkan. Minta guru ku kemari untuk memenuhi janji nya", perintah Raden Margapati segera.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", jawab sang pengawal setia Raden Margapati yang segera mundur dari hadapan putra tiri Adipati Kembang Kuning itu.


Malam itu juga, dua orang utusan Raden Margapati berangkat ke arah lereng barat Gunung Damalung yang menjadi tempat pertapaan Mpu Gendrawana.


Pagi menjelang tiba mengantikan malam yang dingin menghiasi langit. Suara kokok ayam jantan riuh bersahutan seakan sebagai tanda alam semesta segera berganti penguasa.


Arya Pethak bangun dari tempat tidur nya sembari menggeliat. Sehabis tidur semalam, badannya terasa lebih segar. Pemuda tampan itu segera bangkit dari tempat tidur nya sembari menatap ke arah Klungsur yang masih mengiler di atas dipan kayu dekat pintu serambi kediaman Lurah Mpu Naya.


Pagi itu setelah membersihkan diri di kolam belakang rumah, Arya Pethak melangkah ke arah kediaman Lurah Mpu Naya. Sejenak Arya Pethak menghentikan langkahnya saat dua orang gadis keluar dari pintu samping kediaman Lurah Mpu Naya.


Pemimpin Desa Lwaram ini memiliki dua orang putri yang rupawan. Mereka adalah kembang desa Lwaram yang tersohor hingga wilayah Pakuwon Purwo yang merupakan wilayah Kadipaten Lasem. Mereka bernama Sekar Rahina dan Puspa Dewi.


Banyak putra orang kaya maupun pejabat istana Pakuwon melamar mereka namun kedua wanita cantik itu memilih untuk menolak lamaran mereka dengan alasan masih belum ingin berumah tangga.


Namun akhir akhir ini mereka berdua dalam kesulitan untuk menolak lamaran putra Akuwu Purwo yang bernama Janayasa dan Ranu Broto yang ingin mempersunting mereka. Sepak terjang kedua putra Akuwu Purwo itu sudah menjadi rahasia umum. Mereka berdua terkenal tukang main perempuan dan suka menghamburkan uang di tempat perjudian sabung ayam.


Kedatangan Arya Pethak cukup menyita perhatian dua putri Lurah Desa Lwaram itu. Ketampanan pemuda itu beserta sikap nya yang sopan, menarik hati dua dara jelita ini.


Melihat Arya Pethak, Sekar Rahina dan Puspa Dewi langsung bergegas mendekati putra angkat Mpu Prawira itu. Senyum manis terukir di bibir merah mereka yang tidak menggunakan pemerah bibir.


"Kakang Arya Pethak, selamat pagi..


Rajin sekali pagi pagi begini sudah bangun", sapa Sekar Rahina sambil tersenyum manis.


"Ah Kangmbok Rahina, orang setampan kakang Arya Pethak ini sudah pasti rajin bangun pagi. Kau tahu kenapa? Itu karena wajah tampan nya adalah mentari pagi yang menghangatkan dunia", sahut Puspa Dewi sambil tersenyum penuh arti.


"Nimas berdua selamat pagi..


Ini sudah kebiasaan ku sedari kecil. Aku tidak bisa bangun terlalu siang. Nimas berdua tidak perlu memuji ku untuk sesuatu yang biasa saja", jawab Arya Pethak sambil tersenyum tipis.


Belum sempat Sekar Rahina melanjutkan omongan nya, sebuah kereta kuda berhenti di depan halaman rumah Lurah Mpu Naya. Pandangan tiga orang itu langsung mengarah ke kereta kuda. Dari dalam kereta kuda itu, turun dua orang berpakaian mewah layaknya seorang bangsawan atau pejabat istana.


Sekar Rahina dan Puspa Dewi langsung cemberut wajahnya melihat siapa yang turun dari kereta kuda itu. Mereka adalah Janayasa dan Ranu Broto, putra Akuwu Purwo. Desis kecil keluar dari mulut Sekar Rahina.


"Cihhhh dua orang tak tahu malu itu datang lagi", ucap Sekar Rahina lirih namun masih bisa di dengar oleh Arya Pethak.


Melihat Sekar Rahina dan Puspa Dewi di halaman, dua putra Akuwu Purwo itu segera bergegas mendekati dua kembang desa Lwaram itu. Namun melihat ada seorang pemuda tampan di dekat mereka, wajah mereka langsung di tekuk.


'Bangsat, siapa pemuda tampan ini? Jangan jangan dia adalah kekasih dari Sekar Rahina atau Puspa Dewi. Aku harus cari tahu', batin Janayasa.


"Selamat pagi para bidadari cantik.. Pagi hari melihat kalian, ah serasa bagai di surga", sapa Janayasa yang di barengi senyum manis.


"Benar ucapan mu Kangmas Janayasa. Setelah melihat mereka, kecantikan wanita di kota Kadipaten Lasem pun tak ada yang sebanding. Mereka berdua benar benar bidadari yang turun dari kahyangan", timpal Ranu Broto dengan jurus rayuan gombal nya.


"Mohon maaf Raden berdua..


Tolong jangan buat kami sakit kepala mendengar gombalan maut kalian berdua. Setidaknya hargailah orang yang ada disini", ujar Sekar Rahina dengan cepat. Sebuah pemikiran melintas di kepala kembang desa Lwaram itu.


"Apa maksud ucapan mu, Sekar Rahina? Aku tidak paham", Janayasa yang suka dengan Sekar Rahina langsung menatap wajah cantik perempuan itu segera. Dia meminta penjelasan.


"Ini adalah orang yang akan menikahi ku, Raden Janayasa. Sebaiknya jaga sikap Raden agar tidak menurunkan martabat Raden sebagai putra Akuwu Purwo", ucap Sekar Rahina sambil mengait lengan kanan Arya Pethak.


Semua orang terkejut bukan main mendengar penuturan Sekar Rahina.


"Kalau Sekar Rahina sudah memiliki calon suami, Puspa Dewi pasti belum. Iya kan Puspa Dewi?", Ranu Broto tersenyum manis pada Puspa Dewi.


"Siapa bilang lelaki ini adalah calon suami Kangmbok Sekar Rahina saja?


Dia juga berjanji akan menikahi ku", jawab Puspa Dewi sembari merangkul lengan kiri Arya Pethak.


Lagi lagi kejutan terjadi di tempat itu. Arya Pethak hanya melongo melihat ulah dua putri Lurah Desa Lwaram ini tanpa bisa berkata apa-apa.


Sedangkan Janayasa dan Ranu Broto langsung marah besar. Mereka berdua merasa tersinggung dengan perilaku Sekar Rahina dan Puspa Dewi yang mempermalukan mereka. Janayasa langsung menunjuk ke arah wajah Arya Pethak.


"Hai kau bajingan tengik!


Berani beraninya kau menggoda calon istri ku. Nama ku bukan Janayasa jika hari ini aku tidak memberi mu pelajaran bedebah", ujar Janayasa sambil bersiap untuk menyerang. Sekar Rahina dan Puspa Dewi langsung melepaskan pegangan tangan mereka pada Arya Pethak dan mundur beberapa langkah.


"Tunggu dulu, Kisanak..

__ADS_1


Kau salah paham", Arya Pethak berusaha untuk menjelaskan pada Janayasa, namun teriakan Sekar Rahina membuat segalanya menjadi sulit.


"Kakang Pethak,


Hajar saja lelaki yang berani mengganggu calon istri mu ini. Kau adalah pendekar hebat, mengalahkan dua orang itu bukan masalah besar", ucap Sekar Rahina yang memanaskan suasana.


"Iya Kakang Pethak, aku lebih suka untuk bersama dengan mu daripada dengan putra Akuwu itu", imbuh Puspa Dewi yang semakin membuat Janayasa dan Ranu Broto murka.


Dua putra Akuwu Purwo itu langsung mencabut keris yang ada di pinggang mereka berdua. Janayasa dan Ranu Broto melesat cepat kearah Arya Pethak dari dua arah yang berlawanan.


Arya Pethak yang tak ingin bertarung, hanya mengerahkan Ajian Lembu Sekilan untuk melindungi diri nya.


Shreeeeettttthhh!!


Thhhrriinnngggggg thriiiinnngggggg!!!


Janayasa melotot tak percaya dengan apa yang terjadi di depan mata nya, pun demikian dengan Ranu Broto. Dua keris pusaka mereka langsung bengkok saat menusuk ke arah tubuh Arya Pethak.


Dua orang putra Akuwu Purwo itu langsung melompat mundur beberapa tombak ke belakang.


"Bedebah itu memiliki ilmu kedigdayaan tinggi, Kangmas. Kita bukan lawan nya.


Lebih baik mundur untuk mencari bantuan", ujar Ranu Broto sembari matanya terus menatap ke arah Arya Pethak.


"Kau benar Dhimas Broto..


Lebih baik kita cari orang untuk membalaskan dendam kita", jawab Janayasa yang segera mendapat anggukan kepala dari adiknya.


"Hai kamu jagoan kampung,


Kalau kau hebat jangan kabur dari tempat ini. Tunggu kami kembali. Kalau kami kembali tapi kau tak ada, akan kami musnahkan Desa Lwaram ini", teriak Janayasa yang segera melesat ke arah kereta kuda nya diikuti oleh Ranu Broto.


Arya Pethak menghela nafas berat melihat dua putra Akuwu Purwo itu kabur. Saat dia berbalik badan, Sekar Rahina dan Puspa Dewi segera mendekati Arya Pethak.


"Wah perasaan ku benar benar tidak menipu ku. Kakang Pethak adalah pendekar pilih tanding", seru Sekar Rahina sembari tersenyum simpul.


"Iya Kangmbok Rahina,


Kakang Pethak memang hebat. Dua putra Akuwu Purwo itu bukan lawan nya", sahut Puspa Dewi dengan centilnya.


"Nimas berdua kenapa melibatkan ku dalam urusan pribadi kalian?


"Kakang Pethak harus menolong kami. Kami tidak mau menjadi istri dari dua orang bejat itu, terpaksa meminjam kekuatan Kakang Pethak untuk mengusir mereka", Sekar Rahina membungkukkan badannya.


"Dan sebagai tanda permintaan maaf dan permohonan bantuan dari Kakang Pethak, kami.. kami bersedia melakukan apapun untuk Kakang Pethak", sambung Puspa Dewi dengan raut wajah merona merah.


'Hemmmmm...


Apapun? Apa maksud nya? Kenapa juga Puspa Dewi mengatakan itu dengan wajah memerah?


Ah aku sama sekali tidak mengerti maksud ucapan dua perempuan ini', batin Arya Pethak sambil melangkah.


"Soal menolong, aku bisa saja..


Lalu urusan melakukan apa pun itu bisa di bicarakan lagi nanti. Saat ini aku sedang lapar", ucap Arya Pethak sambil melangkah masuk ke dalam serambi kediaman Lurah Mpu Naya.


"Akan kami sediakan", ujar Sekar Rahina dan Puspa Dewi bersamaan. Dua orang kembang desa Lwaram itu buru buru menuju ke arah dapur untuk mengambil makanan bagi Arya Pethak.


****


Anjani duduk yang merasa sudah sembuh, mengumpulkan barang bawaan nya untuk menyusul Arya Pethak dan kawan-kawan nya yang sudah terlebih dulu meninggalkan kota Tamwelang.


Karena tidak mungkin membawa Anjani yang masih belum sehat, Arya Pethak menitipkan gadis cantik itu di rumah kawan Randu Para di kota Tamwelang. Memang Anjani sempat bersedih, tetapi dia juga menyadari bahwa semakin lama mereka menunda keberangkatan untuk memburu penculik Rara Larasati dan Seta Wahana, maka akan semakin kecil kemungkinan mereka berdua di selamatkan.


"Kau yakin ingin menyusul Randu Para dan kawan-kawan nya, Nisanak?", tanya kawan lama Randu Para yang bernama Kuda Samu itu segera.


"Yakin Kisanak..


Sebab saya sudah baikan. Lagi pula hanya mereka yang menjadi keluarga saya di dunia ini. Apapun yang terjadi, saya tetap tak mau berpisah dari Ndoro Pethak dan Klungsur.


Aku mengucapkan terima kasih atas pertolongan yang kau berikan, Kisanak. Suatu saat budi baik ini akan ku balas. Aku mohon pamit", ujar Anjani sembari membungkukkan badannya. Gadis cantik itu segera melompat ke atas kuda nya untuk mengejar Arya Pethak dan kawan-kawan nya. Kuda Samu hanya menggelengkan kepalanya melihat tekat Anjani.


Usai menyeberangi Sungai Brantas dan mendapat petunjuk dari tukang perahu, Anjani menggebrak kudanya menuju ke arah markas Kelompok Kalajengking Hitam di barat Hutan Lamong.


Setelah setengah hari perjalanan, Anjani sampai di markas Kelompok Kalajengking Hitam yang sudah habis terbakar menjadi abu. Dia menemukan bekas bekas pertarungan di depan markas Kelompok Kalajengking Hitam, juga mayat mayat anggota Kelompok Kalajengking Hitam yang mulai membusuk.


Anjani yang di ajari ilmu pengetahuan mencari jejak oleh bekas guru nya, Sanca Keling melihat bekas tapak empat ekor kuda bergerak menuju ke arah barat. Maka dengan cepat ia melompat ke atas kuda nya dan menggebrak hewan pelari itu menuju ke arah barat, mengikuti jejak yang di tinggalkan oleh Arya Pethak dan kawan-kawan nya.

__ADS_1


Menjelang sore Anjani telah sampai di dermaga penyeberangan yang menghubungkan wilayah Kadipaten Bojonegoro dengan Kadipaten Lasem.


Seorang lelaki bertubuh kekar yang bekerja menjalankan perahu penyeberangan nampak mengipaskan caping bambu nya untuk menghilangkan keringat yang membasahi tubuhnya.


Dari beberapa warga yang di tanyai, Anjani memperoleh berita tentang 4 orang berkuda yang baru menyeberang ke Desa Lwaram. Dengan sigap, Anjani menuju ke arah tukang perahu penyeberangan itu.


"Permisi pak tua,


Apa kemarin sore ada 4 orang berkuda yang menyeberang ke arah Lwaram? Satu orang wanita tua, seorang pemuda berbadan kuntet, seorang pemuda berbaju putih dan lelaki berkumis tipis", tanya Anjani dengan sopan.


"Benar, mereka kemarin menumpang perahu penyeberangan ku saat senja. Kemungkinan besar tadi malam mereka menginap di rumah Ki Lurah Mpu Naya.


Ada apa kau mencari mereka Nisanak?", tukang perahu penyeberangan itu menatap ke arah Anjani.


"Mereka adalah kawan ku, aku bermaksud menyusul mereka.


Tolong seberangkan aku Pak Tua, aku harus cepat mengejar mereka sebelum mereka terlalu jauh ", ujar Anjani segera. Mendengar penuturan Anjani, tukang perahu penyeberangan itu segera berdiri.


Setelah kuda nya Anjani naik ke perahu, tukang perahu itu segera menjalankan alat penyeberangan itu menuju ke dermaga Desa Lwaram.


Usai mendapat petunjuk dari tukang perahu mengenai kediaman Lurah Lwaram, Anjani dengan cepat memacu kudanya menuju ke arah kediaman Lurah Mpu Naya.


Tak berapa lama kemudian, di depan halaman rumah kediaman Mpu Naya, puluhan orang berperawakan besar tengah memenuhi halaman rumah Mpu Naya. Sepertinya mereka tengah mengepung tempat itu.


"Permisi Kisanak.


Ada apa ini? Aku ingin bertemu dengan Lurah Desa Lwaram. Mohon beri aku jalan untuk masuk", ucap Anjani dengan sopan pada pria berperawakan tinggi besar di hadapan nya.


"Kediaman Lurah Mpu Naya sedang di tutup. Lain kali saja kau bisa kemari, Nisanak. Sebaiknya kau kembali", ujar si lelaki bertubuh tinggi besar itu mengusir Anjani.


"Aku sudah jauh-jauh datang kemari. Hari ini aku harus bertemu dengan Lurah Desa Lwaram", Anjani ngotot ingin masuk. Menurutnya ini adalah satu-satunya petunjuk mengenai pergerakan Arya Pethak.


"Kurang ajar!


Dasar keras kepala. Kau pantas untuk mendapatkan pelajaran", maki si pria tinggi besar itu sambil mengayunkan tangannya ke arah Anjani.


Murid Dewi Ular Siluman itu merunduk sedikit menghindari hantaman tangan pria tinggi besar itu lalu menghantam dada pria tinggi besar itu sekeras mungkin.


Dhiiieeeessshh..


Aaaarrrgggggghhhhh!!


Tubuh pria tinggi besar terpelanting ke tengah halaman dan Anjani melesat memburu lawannya. Kedatangan Anjani mengejutkan semua orang termasuk Arya Pethak yang sedang berhadapan dengan seorang lelaki sepuh berjenggot panjang dengan ikat kepala merah.


"Anjani??!!


Bagaimana bisa kau ada disini?".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Alhamdulillah acara selesai dan lancar tak kurang suatu apa.


Terimakasih atas doa dan dukungan kakak semua nya.


__ADS_2