Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Senjata untuk Klungsur


__ADS_3

Seorang prajurit yang merupakan mata mata Dewi Sekar Rinonce perlahan mundur selangkah demi selangkah meninggalkan tempat itu saat prajurit pimpinan Raden Wira Ganggeng mulai bersiap siap melaksanakan perintah sang pangeran.


Usai sudah sedikit jauh, sang prajurit mata-mata langsung berlari menuju ke arah Istana Kadipaten Kembang Kuning tepatnya di wilayah Dalem Keputren. Para prajurit penjaga gerbang tidak menghentikan langkahnya karena mereka tahu itu adalah rekan mereka sendiri.


Begitu sampai di depan tempat tinggal Padmi, dia dengan cepat menggedor pintu kamar Padmi.


Thookkk thok thookkk..


"Padmi Padmi...


Cepat bangun Padmi. Kita celaka Padmi, celaka...", bisik si prajurit itu sambil terus mengetuk pintu kamar tidur. Tak berapa lama kemudian pintu kamar tidur terbuka. Padmi mengucek matanya sambil menguap.


"Ada apa, Tambir?


Kenapa kau menggedor pintu kamar ku seperti orang gila begitu? Ini masih malam", jawab Padmi sembari menggerakkan pinggulnya ke kiri dan kanan untuk menghilangkan penat.


"Aduh kau ini..


Juragan Bandil di tangkap oleh Raden Wira Ganggeng dan Pendekar Pedang Setan yang mau di bunuh itu...


Cepat kau lapor ke Ratu Dewi Sekar Rinonce. Mereka sedang bergerak kemari", seru Tambir sang prajurit mata mata dengan cepat.


HAAAAAHHH...??!!!


Mata Padmi langsung melebar seketika mendengar ucapan Tambir. Abdi setia Dewi Sekar Rinonce itu terkejut setengah mati saat itu juga. Rasa kantuknya langsung menghilang seketika.


"Ratu Dewi sedang bersama dengan Gusti Adipati, Tambir.


Kalau aku membangunkan nya bukankah aku sama dengan membongkar rahasia di depan Gusti Adipati?", Padmi bingung setengah mati.


"Kalau begitu, kau kabur saja dari istana ini Padmi.. Kalau tidak, sudah pasti kau di penggal Gusti Adipati Wiraprabu karena dianggap membantu pemberontak", ujar Tambir dengan cepat. Padmi yang kebingungan langsung mengangguk mengerti. Perempuan itu segera masuk ke dalam kamar tidur nya dan mengambil harta benda nya yang di masukkan dalam buntalan kain. Dengan bantuan Tambir, Padmi mengendap-endap keluar dari Istana Kembang Kuning.


Rombongan Raden Wira Ganggeng dan Arya Pethak menggelandang Juragan Bandil ke arah Dalem Keputren dimana Adipati Wiraprabu dan Dewi Sekar Rinonce menghabiskan malam bersama.


Kegemparan segera terjadi di dalam istana Kadipaten Kembang Kuning. Adipati Wiraprabu segera menemui Raden Wira Ganggeng bersama dengan Dewi Sekar Rinonce.


"Ada apa ribut ribut begini, putra ku?".


"Kanjeng Romo Adipati tolong tanyakan langsung pada Kanjeng Ratu Dewi Sekar Rinonce, mengapa mengutus orang untuk membunuh pendekar yang sudah menjadi penolong pasukan Kembang Kuning saat menghadapi para pemberontak?", Raden Wira Ganggeng menatap tajam ke arah Dewi Sekar Rinonce.


Dewi Sekar Rinonce terkejut bukan main mendengar ucapan Raden Wira Ganggeng, begitu pula dengan Adipati Wiraprabu.


"Kau jangan memfitnah ku, Wira Ganggeng.


Atas dasar apa kau menuduh ku menyuruh orang untuk membunuh Arya Pethak?", Dewi Sekar Rinonce mencoba berkelit usai menguasai keterkejutannya.


"Sudah ku duga Kanjeng Ratu akan berkelit tapi aku punya bukti tentang keterlibatan mu..


Prajurit, bawa orang itu kemari!", perintah Raden Wira Ganggeng dengan cepat. Dua orang prajurit langsung membawa Juragan Bandil yang dalam keadaan terikat ke hadapan mereka.


Pucat sudah wajah Dewi Sekar Rinonce melihat kedatangan Juragan Bandil.


"Bagaimana Kanjeng Ratu? Masih mau berkilah?", Raden Wira Ganggeng tersenyum tipis.


"Ini semua bohong, aku di jebak oleh Wira Ganggeng Kangmas Adipati..


Jangan percaya ucapan nya", ucap Dewi Sekar Rinonce sembari menatap ke arah Adipati Wiraprabu yang nampak mengernyitkan keningnya.


"Sudah ku duga kau pun akan seperti ini, Kanjeng Ratu..


Kanjeng Romo Adipati,


Aku telah mengumpulkan beberapa bukti tentang keterlibatan Kanjeng Ratu dalam pemberontakan Margapati. Silahkan Kanjeng Romo memeriksa nya", ujar Raden Wira Ganggeng sembari merogoh kantong baju nya dan mengeluarkan beberapa kantong kain pembungkus nawala. Dengan cepat dia menghaturkan nawala itu pada Adipati Wiraprabu.


Dengan cepat, Adipati Wiraprabu membuka salah satu nawala dan membacanya dengan cepat. Raut wajah Adipati Wiraprabu langsung kelam usai membaca surat itu. Segera pria paruh baya bertubuh kekar itu melayangkan tamparan keras ke pipi Dewi Sekar Rinonce.


Plaaaakkkk..


Aaauuuuggggghhhhh!!


Dewi Sekar Rinonce langsung jatuh ke lantai Dalem Keputren sambil meraung keras. Bibir perempuan cantik itu pecah dan mengeluarkan darah.


"Dasar perempuan hina!


Aku sudah mengangkat derajat mu menjadi permaisuri ku tapi ini balasan mu pada ku, Sekar Rinonce. Kau sungguh tak tahu di untung", murka Adipati Wiraprabu melihat kenyataan yang ada di depan mata nya.


Dewi Sekar Rinonce perlahan menghunus patrem atau keris kecil yang biasa di bawa oleh para wanita bangsawan untuk melindungi diri.


"Kalau iya memang nya kenapa, Wiraprabu?

__ADS_1


Kau sudah membunuh Kakang Janggan Manoreh, karena itu kau layak untuk mati!", sambil memaki Adipati Wiraprabu, Dewi Sekar Rinonce melompat ke arah Adipati Wiraprabu dengan menusukkan patrem ke arah perut Adipati Wiraprabu.


Adipati Kembang Kuning itu berkelit menghindari tusukan patrem Dewi Sekar Rinonce. Dengan satu gerakan cepat, dia menangkap lengan Dewi Sekar Rinonce yang memegang patrem dan kembali melayangkan tamparan ke pipi wanita itu.


Plllaaakkkkk!!


Patrem terlepas dan Adipati Wiraprabu mendorong tubuh Dewi Sekar Rinonce hingga terjatuh lagi.


"Prajurit!


Jebloskan perempuan itu ke penjara! Besok pagi dia akan ku hukum gantung!"


Mendengar perintah Adipati Wiraprabu, beberapa prajurit langsung menggelandang Dewi Sekar Rinonce yang terus mengeluarkan sumpah serapah nya pada Adipati Wiraprabu ke penjara Kota Kadipaten Kembang Kuning.


Usai mengucapkan terima kasih atas dukungan Arya Pethak, Adipati Wiraprabu mundur dari tempat itu. Pun juga Arya Pethak dan kawan-kawan nya kembali ke balai tamu kehormatan untuk beristirahat setelah melewati malam panjang berdarah di istana.


Pagi hari menjelang. Suara kokok ayam jantan bersahutan menyambut kedatangan sang mentari yang sebentar lagi menerangi seluruh jagat raya dengan sinarnya.


Pagi itu istana Kadipaten Kembang Kuning di gemparkan lagi dengan kematian Dewi Sekar Rinonce yang memilih bunuh diri di dalam tahanan. Dia gantung diri dengan selendang nya. Kabar kematian itu dengan cepat menyebar ke masyarakat namun pihak istana langsung membuat cerita palsu untuk mengaburkan pengkhianatan Dewi Sekar Rinonce untuk menjaga wibawa istana Kadipaten Kembang Kuning.


Pihak istana Kadipaten Kembang Kuning langsung menyiapkan upacara penyucian jiwa untuk Sang Ratu dengan besar-besaran.


Sementara itu, Arya Pethak dan kawan-kawan nya bersama Raden Wira Ganggeng berangkat ke tempat tinggal Resi Jati Waluyo di Bukit Tunggul untuk mendapatkan pertolongan atas kutuk pasu yang di alami oleh Rara Larasati.


Sebelum tengah hari, rombongan itu sampai di Bukit Tunggul dengan kereta kuda.


Kedatangan Raden Wira Ganggeng disambut hangat oleh Resi Jati Waluyo. Lelaki sepuh berjenggot putih panjang itu nampak gembira dengan kedatangan cucu kesayangannya itu.


"Selamat datang, Nakmas Pangeran..


Angin apa yang membawa mu mengunjungi orang tua ini hem? Bukankah kau sibuk dengan urusan istana Kadipaten Kembang Kuning?", senyum manis terukir di wajah sepuh Resi Jati Waluyo.


"Maafkan cucu mu yang tidak berbakti ini Eyang..


Selama ini aku sibuk mengurus pemberontakan Akuwu Semanding hingga lupa berkunjung ke kediaman Eyang Resi.


Oh iya Eyang Resi, aku kemari bersama orang yang menolong nyawa ku waktu menghadapi pasukan pemberontak. Sayang nya, salah satu murid kawan ku terkena kutuk pasu. Aku mohon Eyang Resi mau menolongnya", ujar Raden Wira Ganggeng dengan penuh hormat.


Mendengar itu, Resi Jati Waluyo sedikit terkejut. Kakek tua itu segera menatap ke arah sebuah tandu yang di bawa empat prajurit di belakang Arya Pethak dan kawan-kawan nya.


"Coba bawa dia kemari", perintah Resi Jati Waluyo pada keempat prajurit yang membawa tandu Rara Larasati. Arya Pethak dan kawan-kawan segera memberi jalan pada para prajurit untuk maju ke depan. Begitu sampai di depan nya, Resi Jati Waluyo langsung memeriksa keadaan Rara Larasati yang terbujur dalam keadaan tak sadarkan diri.


"Kutuk Pasu Pengikat Sukma...


Hanya Si Sesat Tua dan Raja Iblis dari Gunung Damalung saja yang bisa melakukannya. Dasar keparat!", gumam Resi Jati Waluyo sambil menghela nafas berat. Kakek tua itu segera berdiri dari samping tandu.


"Bagaimana Eyang Resi?


Kau bisa menyembuhkannya bukan? Aku mohon bantu kawan ku ini", ujar Raden Wira Ganggeng dengan cepat.


"Ini adalah Kutuk Pasu Pengikat Sukma, Wira Ganggeng. Di tanah Jawa ini hanya segelintir orang yang bisa melakukannya. 2 orang yang aku kenal adalah Raja Iblis dari Gunung Damalung dan Si Sesat Tua dari Gunung Ciremai di Tanah Pasundan.


Apa kalian berurusan dengan dua orang ini sebelumnya?", tanya Resi Jati Waluyo sambil mengedarkan pandangannya.


Arya Pethak segera angkat bicara dan menceritakan asal muasal peristiwa yang menyebabkan Rara Larasati terkena kutuk pasu itu. Resi Jati Waluyo menghela nafas berat saat Arya Pethak selesai menceritakan semua kejadian yang mereka alami.


Hemmmmmmm...


"Aku tidak bisa menghilangkan kutuk pasu jenis ini. Kutuk Pasu Pengikat Sukma ini di luar kemampuan ku", ujar Resi Jati Waluyo sambil mengelus jenggotnya.


"Apa benar benar tidak harapan, Resi?", tanya Arya Pethak seakan mewakili semua orang yang ada di tempat itu.


"Aku tidak bisa menyembuhkan nya bukan berarti tidak ada jalan keluar lagi Hehehehe...


Menyembuhkan Kutuk Pasu Pengikat Sukma hanya ada dua cara. Cara yang pertama adalah membunuh si pembuat kutuk pasu ini. Jika merunut cerita mu, pemberi kutuk pasu ini adalah Raja Iblis dari Gunung Damalung maka itu pasti sangat sulit di lakukan apalagi iblis tua itu memiliki Ajian Iblis Neraka yang membuat nya sulit sekali untuk di bunuh. Lagipula iblis tua itu suka berpindah tempat, jadi sangat butuh waktu yang lama untuk menemukannya.


Cara yang kedua adalah dengan Air Mata Suci Bidadari yang di miliki Si Sesat Tua dari Gunung Ciremai. Satu tetes nya saja bisa untuk menyembuhkan perempuan muda ini. Tapi perjalanan ke Gunung Ciremai sangat jauh.


Sekarang tergantung pada kalian mau pakai cara yang mana", Resi Jati Waluyo kembali menatap ke arah Arya Pethak dan kawan-kawan nya.


"Aku pakai cara yang kedua, Resi..


Keselamatan Rara Larasati adalah tanggung jawab ku", sahut Arya Pethak dengan cepat.


"Bagus sekali anak muda..


Waktu mu hanya dua purnama sebelum perempuan ini benar benar menemui ajalnya. Nanti aku beritahu caranya agar kau di beri Air Mata Suci Bidadari itu oleh Ki Buyut Mangun Tapa. Sekarang kalian semua beristirahat dulu. Kalian baru melakukan perjalanan jauh..


Wignyo, Barung..

__ADS_1


Antar para tamu agung ini ke tempat yang kita punya", perintah Resi Jati Waluyo pada dua cantrik setia nya, Wignyo dan Barung.


Arya Pethak dan kawan-kawan segera ditunjukkan tempat peristirahatan mereka oleh dua orang cantrik Resi Jati Waluyo.


Siang segera berganti senja dengan cepat. Sebentar lagi malam menjelang di Bukit Tunggul.


Usai makan malam bersama, di putuskan bahwa Nyi Sawitri akan menjaga Rara Larasati di Bukit Tunggul sampai menunggu kedatangan Arya Pethak kembali dari Tanah Pasundan. Sementara itu, Randu Para yang tidak ingin kembali ke tempat asalnya, menerima ajakan Raden Wira Ganggeng untuk menjadi perwira di Kadipaten Kembang Kuning.


Malam semakin larut. Arya Pethak dan Klungsur masih berdiang menghangatkan tubuh di halaman pertapaan Bukit Tunggul.


"Ndoro Pethak,


Besok kita jalan jauh ke barat ya? Ndoro Pethak sudah punya persiapan belum?", tanya Klungsur membuka percakapan sembari membolak-balik jagung muda yang dia dapat tadi sore di atas bara api unggun.


"Persiapan apa yang kau maksud? Duit?", Arya Pethak melemparkan jagung bakar yang tinggal tongkolnya ke arah tempat sampah.


"Lha iya dong Ndoro..


Besok kita itu berangkat bertiga Ndoro, bukan hanya perut satu orang yang butuh makan untuk perjalanan jauh kita", Klungsur mulai mencicipi jagung bakar nya yang sudah matang.


"Kau tenang saja. Aku masih cukup punya uang untuk kita makan selama satu purnama ke depan. Kau tidak perlu khawatir", Arya Pethak tersenyum tipis.


Saat mereka berbincang, dari arah belakang muncul Resi Jati Waluyo. Pandita tua itu rupanya baru selesai bersemedi. Dia berjalan mendekati Arya Pethak dan Klungsur.


"Kalian masih belum tidur? Tidak nyaman dengan suasana di tempat ini?", tanya Resi Jati Waluyo sambil tersenyum tipis.


"Ah tidak Guru Resi..


Kebetulan kami tidak biasa tidur sore sore. Kata orang tua menjauhkan diri dari rejeki ", jawab Klungsur sambil terus mengunyah jagung bakar nya.


"Hehehehe dasar pemuda lugu..


Aku suka dengan sikap mu. Bisa aku lihat kau ini yang belum punya pegangan untuk menghadapi kerasnya hidup. Kau tunggu disini sebentar, aku punya sesuatu untuk mu", Resi Jati Waluyo segera berbalik arah menuju ke arah sanggar pamujan nya.


"Kau tahu apa maksud ucapan Resi Jati Waluyo tadi Sur?", tanya Arya Pethak sambil menatap ke arah Klungsur. Pria bogel itu hanya mengangkat bahunya sambil geleng-geleng kepala.


Tak berapa lama kemudian Resi Jati Waluyo kembali sambil membawa sebuah benda berwarna kehitaman panjang seperti batang kayu yang hangus terbakar. Panjang nya setengah depa orang dewasa dan mempunyai gerigi aneh pada pangkal nya yang membesar sebesar betis orang dewasa.


"Nah bocah bagus..


Ini namanya Gada Galih Asem. Senjata ini paling pas buat mu karena kamu menggunakan otot untuk bertarung. Walaupun ini terbuat dari kayu asem, tapi keras seperti besi. Tidak bisa di bakar atau di hancurkan begitu saja. Ini dulu milik sahabat ku, sebelum meninggal ia menitipkan pesan agar gada ini aku berikan kepada orang yang tepat.


Ambillah bocah bagus", Resi Jati Waluyo menyerahkan Gada Galih Asem pada Klungsur.


Dengan suka cita Klungsur menerima nya karena selama ini dia tidak punya senjata untuk melindungi diri.


"Matur nuwun untuk pemberian nya Guru Resi. Saya akan jaga amanat Guru Resi seperti menjaga tubuh saya sendiri", Klungsur membungkukkan badannya.


Gada Galih Asem meski terlihat besar namun ternyata sangat ringan. Klungsur segera memutar-mutar Gada Galih Asem untuk mencoba menggerakkan pusaka itu sesuai dengan keinginan nya. Karena gerakan tubuhnya yang sembrono, Klungsur malah tersandung dan jatuh tengkurap dengan tangan kanan memegang gagang Gada Galih Asem.


Bhhuuuuummmmmmhh!!


Bunyi ledakan cukup keras terdengar saat Gada Galih Asem menghantam tanah. Arya Pethak melotot lebar ke arah Klungsur sementara Resi Jati Waluyo mengulum senyumnya.


"Sur, ini sudah malam.. Jangan bikin keributan", Arya Pethak kesal dengan kecerobohan Klungsur. Pria bogel itu bangkit dari tempat jatuhnya dan menggaruk kepalanya.


"Maaf Ndoro Pethak,


Saya kepleset".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Mumpung hari Minggu, update pagi aja. Siapa tahu nanti bisa tambah chapter lagi hehehe..


__ADS_2