
Kaaran tersenyum bahagia melihat kedua anaknya yang sekarang sudah tumbuh dengan sehat dan terlihat semakin lucu dengan pipi bulat mereka masing-masing. Melihat Rania yang sering kewalahan menghadapi Zoe yang sering rewel membuat Kaaran semakin tidak sabar ingin pulang secepatnya. Membayangkan menenangkan anak-anak mereka yang menangis bersama-sama pasti sangat menyenangkan. Begitu pikir Kaaran.
"Satu minggu lagi, Nak, Daddy akan pulang menemui kalian. Kalian jangan nakal ya, jangan suka merepotkan mommy dan suster. Kasihan mereka kalau kalian suka rewel tengah malam. Terutamanya kamu Zoe."
Kaaran menatap penuh cinta kedua anaknya yang aktif menggerakkan kaki dan tangannya saat dia ajak berbicara, dan itu membuat Kaaran semakin gemas. Melihat mereka saja rasanya tidak cukup. Rasanya Kaaran ingin mencium, menggendong, dan memeluk mereka. Keduanya benar-benar sangat menggemaskan.
"Suster, Rania sedang pergi kemana?" tanya Kaaran.
"Nona Rania sedang keluar untuk mandi di kamarnyaTuan, setelah itu dia juga ingin makan," jawab suster Ria.
"Oh, ya sudah. Kalau begitu bicaralah dengan Roy, Roy sepertinya sudah tidak sabar ingin bicara berdua denganmu. Katanya, Roy juga sudah sangat tidak sabar ingin segera pulang untuk menemuimu." Kaaran berkata seraya mengembalikan ponsel Roy.
Sementara itu, Roy tidak tahu harus berkata apa. Anda ini terlalu berterus terang sekali tuan. Kalau suster Ria marah dan menghindari saya setelah dia tahu bahwa saya menyukainya bagaimana? Apa anda memang sengaja ingin membuat saya menjadi jomblo akut hingga saya karatan?
__ADS_1
Suster Ria tertawa. "Anda bisa saja, Tuan."
Seketika senyuman Roy langsung mengembang saat mendengar gadis idamannya itu tertawa karena digoda oleh Kaaran. Entah mengapa Roy merasa bahwa suster Ria memberikan dia lampu hijau agar mereka berdua semakin dekat.
"Sana pergi." Kaaran berkata sambil mengusir Roy menggunakan gerakan tangannya.
Roy semakin tersenyum lebar saat Kaaran sepertinya mendukung untuk dia terus maju. "Terima kasih, Tuan."
Setelah Roy keluar ruangan untuk mencari tempat yang aman dan nyaman untuk berbicara berdua dengan gadis idamannya, Kaaran pun lalu kembali mengawasi istrinya di layar ponselnya.
.
.
__ADS_1
Minggu terakhir Kaaran di Jerman dia lalui dengan perasaan gelisah. Bagaimana tidak, semakin dekat waktu dia diperbolehkan untuk pulang justru waktu malah terasa semakin berjalan dengan lambat. Semakin dia menatap wajah anak-anak dan istrinya, bukannya mengobati rindu justru malah semakin membuat rindu yang dia rasakan semakin membuncah.
"Roy, apa kamu tahu siapa yang sudah berkhianat di klan kita? Karena jelas-jelas aku melihat mobil yang dikendarai oleh Johan waktu itu meledak karena terkena Ranjau."
Akhirnya setelah kondisi Kaaran membaik, dia akhirnya mau membahas mengenai hal itu lagi. Sampai detik ini yang membuat dia sangat penasaran adalah, siapa sebenarnya yang sudah berani mengkhianatinya?
"Menurut informasi yang juga saya dapatkan bersama William, bahwa tuan Johan memang sudah tewas dalam peristiwa ledakan itu Tuan. Hingga saat ini jejak kawanan Black Mamba sudah tidak lagi ditemukan. Sepertinya mereka langsung bubar begitu tuan Johan tidak ada," jelas Roy.
"Tapi ada satu hal yang patut kita sesalkan, Tuan. Ternyata selama bertahun-tahun lamanya, semenjak klan Mawar Biru dibentuk, kita tidak menyadari bahwa ternyata mata-mata dari awal memang sudah ikut bergabung bersama kita," imbuh Roy. Kaaran yang mendengar hal itu cukup terkejut. Dia semakin merasa penasaran, siapa sebenarnya orang itu?
B e r s a m b u n g ...
...________________________________________...
__ADS_1
...Harap jangan demo, karena lanjutannya secepatnya akan menyusul😅🤧...