
Sesampainya di hotel tempat kami menginap.
"Roy, pesankan makanan untukku. Aku lapar," ucapku sembari melepas jas yang tadinya aku kenakan, lalu aku menjatuhkan tubuhku di atas sofa.
"Anda ingin menu makan siang apa, Tuan?" tanyanya.
"Yang seperti biasanya saja," jawabku.
"Baik, Tuan." Roy pun kemudian memesan makanan melalui jasa layanan room service hotel.
Setengah jam kemudian. Makanan yang dipesankan Roy untukku pun akhirnya datang.
Dengan perut yang terasa sangat lapar, aku mulai menyantap menu makan siangku. Tapi baru suapan pertama, tiba-tiba saja, piyeh, piyeh.
"Roy, kenapa makanannya seperti ini? Apa kokinya diganti? Kenapa koki di hotel berbintang seperti ini tidak becus memasak?!" kesalku. Aku langsung memuntahkan makanan dari dalam mulutku karena rasanya sangat aneh.
"Ma-maaf, Tuan. Saya ... saya akan mengajukan protes pad-"
"Tidak perlu! Aku sudah tidak berselera makan lagi," ucapku. Dengan perasaan kesal aku berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
.......
.......
Sudah 2 hari ini selera makanku terganggu. Setiap kali aku melihat atau pun mencium aroma makanan dengan bumbu kuat, perutku langsung mual, dan tidak lama kemudian aku pasti akan muntah. Hal itu tentu saja mempengaruhi kinerjaku dan menghalangi pekerjaanku agar lebih cepat selesai.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Raymond. Aku sengaja memanggilnya untuk datang memeriksa kondisiku.
"Aku sedang tidak baik-baik saja, Ray," jawabku.
"Roy bilang kamu sering mual dan muntah. Jangan-jangan kamu menderita asam lambung, tapi setahuku selama ini kamu selalu menjaga pola makan sesibuk apa pun kamu. Atau mungkin asam lambung kamu naik karena kamu stres gara-gara pekerjaan," ucapnya, lalu mulai memeriksa tekanan darahku.
Aku pun mengikuti apa yang dikatakan oleh dokter Raymond, bangun dan memakan makanan yang dia bawakan untukku.
"Akhirnya ... aku bisa makan sesuatu juga. Terima kasih, Ray," ucapku pada sahabatku tersebut. Aku merasa cukup lega karena akhirnya ada makanan yang berhasil masuk ke perutku dan tidak aku muntahkan.
"Oh iya, jangan lupa setelah kamu makan, minum obat ini," ucapnya, sambil melirik arlojinya. "Aku harus pergi ke rumah sakit sekarang, 20 menit lagi aku ada jadwal operasi."
"Hem. Pergilah. Hati-hati di jalan, dan terima kasih banyak untuk semuanya," ucapku.
__ADS_1
"Kamu ini, tidak perlu sungkan. Kalau kamu ingin sungkan, harusnya dulu-dulunya," ucapnya lalu tertawa. "Aku pergi, takut terlambat."
Setelah Raymond pergi, aku pun lanjut memakan makananku hingga habis.
Dengan perut yang sudah terisi, aku akhirnya bisa beristirahat dengan nyaman. Aku bersandar di sandaran tempat tidur sembari menatap foto wanitaku. Dia adalah penyemangat hidupku sekarang.
Sudah hampir sebulan lamanya aku pergi dan tidak bertemu dengannya, tapi kabar yang aku dengar masih saja sama seperti yang kemarin-kemarin. Wanitaku itu masih saja enggan keluar rumah dan terus-terusan mengurung dirinya di dalam kamar.
Sebenarnya aku merasa khawatir padanya, tapi pelayan yang menjadi mata-mataku di sana berkata, bahwa dia baik-baik saja. Bahkan dia sering meminta asisten rumah tangganya untuk memasak ini dan itu. Berbanding terbalik sekali denganku yang saat ini tidak bisa makan apa-apa kecuali makanan yang dibawakan oleh dokter Raymond tadi.
Aku mengusap gambar dirinya di layar ponselku. Aku sudah sangat merindukannya. Sangat sangat merindukannya. Rasanya aku ingin segera menyelesaikan semua pekerjaanku di sini dan pulang menemuinya.
B e r s a m b u n g ...
...__________________________________________...
...Yang satunya ingin makan ini dan itu, yang satunya lagi malah susah makan dan sering muntah-muntah🤭...
...Buibu, adil gak kira-kira kalau kita para istri yang hamil terus suami yang ngidam🤔🤣🤣...
__ADS_1