RANIAKU, CANDUKU

RANIAKU, CANDUKU
Bab 122


__ADS_3

Sembari mengawasi Rania latihan menembak, Kaaran juga mengobrol dengan Roy. Hari ini adalah akhir pekan, jadi Roy bisa ikut mengantar Kaaran dan Rania ke lapangan tembak.


"Bagaimana dengan pekerjaanmu di kantor? Apa kamu tidak kewalahan?" tanya Kaaran.


"Awalnya sedikit kewalahan, Tuan, tapi makin kesini saya semakin bisa mengimbanginya," jawab Roy.


"Bagus. Aku harap kamu tetap bisa memimpin perusahaan sampai Zack beranjak dewasa dan sudah siap menggantikan posisimu kelak," katanya. "Oh iya, bagaimana dengan pembangunan di pulau, apakah sudah banyak kemajuan?"


"Ya, Tuan, sudah banyak kemajuan. Menurut perkiraan, 4 bulan lagi pulau itu sudah siap dan layak huni."


"Benarkah? Aku jadi semakin tidak sabar menantikan hari itu tiba, Roy," Kaaran menoleh menatap Roy yang saat ini sedang duduk di sampingnya "karena jujur saja, tinggal di kota ini cukup membuatku khawatir. Aku masih takut orang-orang yang berniat jahat akan kembali datang ingin mencelakai istriku atau bahkan keluargaku."


Terlihat jelas kekhawatiran di wajah Kaaran. Kejadian menyedihkan yang pernah menimpanya beberapa bulan lalu ternyata mampu menyisakan sedikit trauma di dalam hatinya. Kaaran berharap, semoga saja hal seperti itu tidak kembali terulang, cukup dia saja yang mengalami, yang lain jangan sampai.


"Saya mengerti kekhawatiran Anda, Tuan. Tapi sejauh ini tanda-tanda keberadaan musuh besar kita sudah lama tidak terdeteksi, jadi saya pikir Anda sudah bisa merasa lebih tenang. Apalagi sekarang Nona Rania sudah memiliki beberapa orang pengawal rahasia yang diam-diam selalu mengawasinya dari jarak aman, jadi Anda tidak perlu banyak khawatir, Tuan."

__ADS_1


"Iya, aku tahu, Roy. Tapi entah mengapa aku masih belum bisa merasa tenang sebelum kami sekeluarga pindah dan menetap di pulau. Kalau kami masih tinggal di kota ini, aku tidak begitu yakin bisa mendapatkan kedamaian dan ketentraman hidup bersama keluarga kecilku." Kaaran mencurahkan semua kekhawatirannya pada Roy.


Begitu melihat Rania datang ke arah mereka, Kaaran dan Roy langsung menghentikan obrolan mereka, dan dalam sekejap, ekspresi Kaaran juga langsung berubah 180 derajat. Wajah yang tadinya terlihat sangat khawatir, seketika langsung berubah menjadi wajah tersenyum.


"Bagaimana Sayang, apa kamu suka latihannya?" tanya Kaaran.


Rania mengangguk. "Ternyata seru juga, ya?" katanya tersenyum, lalu duduk tepat di samping Kaaran.


"Untuk kelas pemula, kemampuanmu sudah cukup lumayan, Sayang. Kamu hanya perlu melatih fokus dan meningkatkan konsentrasi lagi saat membidik sasaran," kata Kaaran.


"Mau aku temani?" tawar Kaaran.


"Tidak perlu," tolaknya.


Setelah Rania beranjak menuju toilet, Kaaran dan Roy kembali melanjutkan obrolan mereka. Namun, baru beberapa menit setelah Rania pergi ke toilet, tiba-tiba ponsel Kaaran berdering, panggilan dari istrinya itu.

__ADS_1


"Roy, kenapa Rania tiba-tiba menelepon, Roy? Seketika perasaanku menjadi tidak enak."


"Cepat jawab panggilannya, Tuan. Jangan sampai terjadi apa-apa pada nona Rania," ucap Roy.


"Halo Sayang, ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Kaaran bertanya dengan  sedikit panik.


"Dad, cepat susul aku kesini. Aku takut ..." jawab Rania. "Sepertinya ada seseorang yang ingin berbuat jahat padaku."


Mata Kaaran membulat. Seketika dia menjadi semakin panik dan khawatir. "Sayang, cepat cari tempat aman untuk bersembunyi. Aku dan Roy akan segera datang ke sana."


"Tuan, kenapa ini bisa terjadi? Bukankah ada pengawal-"


"Ini bukan waktu yang tepat untuk membahasnya, Roy. Ayo kita lari kesana sekarang juga, aku tidak ingin terjadi apa-apa pada istriku."


B e r s a m b u n g ...

__ADS_1


__ADS_2