RANIAKU, CANDUKU

RANIAKU, CANDUKU
Bab 31


__ADS_3

Setelah mengetahui bahwa Raniaku hamil, aku menjadi sangat bersemangat untuk menyelesaikan semua pekerjaanku di sini agar aku bisa kembali menemuinya secepatnya. Selama hampir satu bulan ini aku sangat sangat merindukannya.


Hingga sore menjelang, aku tidak pernah lagi tertidur semenjak mendengar kabar paling membahagiakan itu. Aku memutuskan untuk menyelesaikan semua pekerjaanku meski pun mual dan muntah masih sering melanda.


"Tuan, Anda istirahat dulu dan makan. Dari tadi pagi anda hanya minum air putih saja, Anda belum makan apa-apa sejak tadi pagi," ucap Roy.


Sore ini setelah melakukan pertemuan dengan beberapa kolega bisnis, aku masih melanjutkan pekerjaan setelah sampai di hotel. Aku benar-benar bertekad menyelesaikan semuanya dengan cepat demi bertemu dengan Rania.


"Tidak Roy, aku ingin menyelesaikan semuanya secepat mungkin agar kita bisa pulang dengan cepat," ucapku.


Sejenak Roy terdiam dan berdiri mematung di dekatku, namun sejurus kemudian, dia juga ikut membuka laptopnya dan membantuku mengerjakan pekerjaan yang sedemikian banyak.


Hingga tengah malam tiba, kami masih berkutat di depan laptop. Roy sempat beristirahat untuk makan malam, sementara aku merasa enggan. Melihat makanan saja sudah berhasil membuat perutku mual, apalagi jika memakannya. Lebih baik aku menyelesaikan semua pekerjaanku ini. Aku ingin segera pulang dan bertemu dengan obatku, Raniaku.


.


.

__ADS_1


Pagi menjelang, aku baru tersadar kalau ternyata semalam aku tertidur di sofa, begitu pula dengan Roy. Karena ingin menyelesaikan pekerjaan dengan cepat, kami pun bekerja keras tanpa banyak istirahat.


Ting tong, ting tong.


Terdengar suara bel ditekan dari luar. Roy yang menyadari hal itu segera bangkit, padahal dia juga baru terjaga dari tidurnya.


"Biar saya saja yang membuka pintunya, Tuan," ucapnya, lalu segera bangkit dari posisi duduknya.


Setelah Roy membuka pintu, disana muncul dokter Raymond, sahabat yang sangat peduli padaku tapi terkadang juga sangat menyebalkan.


"Hem," gumamku.


"Bagaimana perasaanmu setelah meminum obat yang aku berikan padamu beberapa hari yang lalu?" tanyanya, lalu duduk di sofa tidak jauh dariku.


"Tidak banyak perubahan, tapi aku merasa sedikit lebih baik," jawabku.


"Sepertinya yang kamu alami sekarang ini bukan sekedar penyakit asam lambung, melainkan kamu sedang mengalami sindrom Couvade, atau biasa disebut sindrom kehamilan simpatik," ujar dokter Raymond.

__ADS_1


"Sindrom kehamilan simpatik? Apa itu?" tanyaku tidak mengerti.


"Ya, seperti yang sedang kamu alami saat ini. Karena Raniamu itu sedang hamil, jadi kamu sebagai ayah dari janin yang sedang dikandungnya itu pun mengalami hal yang biasa dikatakan oleh orang-orang dengan kata 'ngidam'," jelasnya.


"Kamu serius dengan yang kamu katakan, Ray? Bagaimana mungkin seorang pria bisa mengidam? Bukankah biasanya perempuan hamil yang mengalami hal seperti itu?" tanyaku.


"Ya bisa saja, buktinya kamu mengalaminya, 'kan?" jawabnya.


"Dulu, saat Audrey hamil anak pertama kami, dia mengalami ngidam yang sangat berat. Saking parahnya, aku harus memasangkan infus secara rutin. Aku sangat kasihan melihatnya. Apa saja yang dia makan selalu saja dimuntahkan. Bahkan saat meminum air putih pun dia muntahkan juga. Sampai-sampai aku berkata, seandainya ada cara untuk memindahkan ngidam itu padaku, aku rela mengidam asalkan istriku tidak menderita. Dan sekarang malah kamu yang mengalaminya. Aku bangga padamu, Sobat. Kamu hebat," ucapnya panjang lebar lalu tersenyum sambil menepuk-nepuk pundakku.


Aku sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh Raymond. Demi wanitaku, demi Raniaku, aku rela menanggung ngidam ini asalkan dia bisa makan dengan lahap agar anak kami tumbuh dengan baik dan sehat di dalam rahimnya.


B e r s a m b u n g ...


...___________________________________________...


...3 Bab untuk hari ini sudah cukup ya guys😉 Besok-besok mungkin akan sedikit slow update karena bentar lagi lebaran....

__ADS_1


__ADS_2