
Plak!
Plak!
Plak!
Seketika Rania melempar Kaaran menggunakan benda apa saja yang dia dapat. Seolah tidak peduli, Kaaran justru terus melangkah mendekati istrinya sambil terus merentangkan kedua tangannya dengan lebar.
Rania yang sudah tidak memiliki apa-apa lagi untuk dia lemparkan kepada Kaaran pun memutuskan untuk menghajar suaminya itu menggunakan kepalan tinjunnya. "CIAAAT!!!"
Tapi sayangnya, dalam sekejap Kaaran langsung menangkap pergelangan tangan Rania dan langsung membawanya ke dalam pelukannya.
"Sayang, aku benar-benar minta maaf. Aku tahu kamu marah padaku. Tolong maafkan aku," ucap Kaaran. Dia memeluk istrinya dengan sangat erat untuk menumpahkan segala kerinduan yang dia miliki selama ini. Akhirnya setelah melalui perjuangan yang begitu berat selama berbulan-bulan, mereka akhirnya bisa kembali bersama.
Semua yang Kaaran lalui selama beberapa bulan terakhir yang membuat Rania salah paham padanya, Kaaran putuskan untuk tetap merahasiakan semuanya sampai kapan pun. Termasuk penyakit lumpuh yang pernah dia derita tidak akan pernah dia ceritakan pada istrinya sampai kapan pun.
__ADS_1
"Lepaskan aku! Lepaskan! Berhenti memelukku! Aku benci padamu!" Rania berteriak sambil terus memberontak di dalam pelukan Kaaran.
"Sayang, tolong jangan marah lagi. Sekarang aku sudah pulang. Aku berjanji tidak akan pergi lagi, dan kedepannya aku akan terus berada di samping kamu dan anak-anak kita. Aku berjanji Sayang, aku berjanji." Kaaran masih terus berusaha membujuk Rania agar Rania tidak marah lagi padanya.
Kedudukannya sebagai ketua klan Mawar Biru akan segera Kaaran lepaskan sebelum Rania tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk mengumumkannya secara resmi di hadapan dad Robin dan para anggota lainnya. Juga posisinya sebagai CEO di Galaxy Group akan segera Kaaran lepaskan dan dia serahkan sepenuhnya pada Roy sang asisten. Kaaran benar-benar ingin menebus semua kesalahannya pada istri dan anak-anaknya dengan mempersembahkan seluruh sisa hidupnya untuk menemani istri dan anak-anak tercintanya.
"Tidak semudah itu," kata Rania.
Bug.
"Auwh. Argh. Fu*ck." Seketika Kaaran merasakan sakit yang luar biasa pada area vitalnya. Rupanya Rania menghantam miliknya menggunakan lutut.
"Rasakan itu!" kata Rania. Dengan cepat dia langsung berlari keluar meninggalkan Kaaran.
"Sa-yang. Kamu mau kemana? Auwh. Kenapa aku ditinggal? Sst ...." Kaaran meringis sambil masih memegangi kedua biji timun jepang jumbo kesayangannya.
__ADS_1
"Sayang, kenapa kamu tega sekali? Kalau senjataku tidak bisa bangun lagi bagaimana? Kamu sendiri nanti yang akan rugi," gumamnya, sambil meringkuk sejenak di atas lantai.
Setelah Kaaran merasa sakitnya sudah agak mendingan, dia pun segera beranjak mengetuk pintu kamar si kembar. Dia tahu, pasti Rania masuk ke dalam sana untuk menghindari dirinya.
Tok tok tok!
"Sayang! Buka pintunya! Aku juga ingin masuk! Aku ingin melihat anak-anak kita!" Kaaran berteriak sambil terus mengetuk pintu kamar anaknya.
Ceklek. Kaaran tersenyum saat Rania membukakan pintu kamar untuknya. Dia berpikir bahwa Rania pasti akan membiarkan dia masuk untuk menemui kedua anak mereka.
"Sayang-"
"Jangan ribut. Anak-anak baru saja tertidur. Jangan sampai kamu mengganggu mereka dan membuat mereka terbangun." Rania berkata dengan setengah berbisik.
"Tapi Sayang, aku-"
__ADS_1
"Diam. Pergi sana."
Tak. Dalam sekejap pintu kamar si kembar sudah kembali tertutup rapat.