RANIAKU, CANDUKU

RANIAKU, CANDUKU
Bab 39


__ADS_3

"Saya ... sebenarnya saya kemari karena saya ingin meminta restu Ibu. Saya ingin menikahi Rania, Bu," ucapku.


Ibu terdiam sejenak, lalu kemudian berkata, "Tapi Nak Kaaran, anak Ibu masih sangat muda. Dia baru berusia 19 tahun. Apa Nak Kaaran tidak keberatan?"


"Tidak, Bu. Saya sama sekali tidak keberatan. Jika Ibu mengijinkan kami menikah, saya berjanji akan menjaga anak Ibu dengan baik dan sepenuh hati," ucapku. Aku menatap calon ibu mertuaku dengan penuh harap, berharap beliau tidak akan menolak maksud baikku.


"Bu, tolong jangan tolak lamaran saya, Bu. Saya sangat mencintai anak Ibu," ucapku lagi, berharap calon ibu mertuaku bisa mengerti perasaanku.


Ibu tersenyum. "Tidak mungkin Ibu menolak lamaran kamu Nak Kaaran. Hanya saja ... semua keputusan Ibu serahkan lagi pada Rania. Toh nantinya putri Ibu yang akan menjalaninya, bukan Ibu. Jadi keputusan apa pun yang Rania ambil, Ibu pikir itu yang terbaik untuk kalian berdua."


"Terima kasih." Aku berkata seraya balas tersenyum pada beliau.


Setelah mengantongi restu dari calon ibu mertuaku, aku pun merasa sedikit lega. Sekarang yang ada di pikiranku adalah, bagaimana cara membujuk wanita kesayanganku yang sangat keras kepala itu agar dia mau menikah denganku secepat mungkin, karena sebenarnya aku sudah sangat tidak sabar ingin segera menjadikannya sebagai milikku seutuhnya.


.


.

__ADS_1


Jam makan malam pun tiba, ibu mengajakku bersama Roy untuk masuk ke ruang makan untuk makan malam bersama. Sesampainya kami di sana, aku melihat wanita kesayanganku sedang duduk di salah satu kursi meja makan bersama adiknya.


Entah mengapa malam ini dia nampak berbeda. Tadi sore dia menatapku dengan sorot mata penuh kebencian, sekarang dia malah menunduk seperti malu untuk menatap ke arahku. Entah apa yang terjadi dengannya? Apa mungkin karena saat ini ibu berada di tengah-tengah kami?


"Silahkan duduk." Ibu mempersilahkan aku dan Roy untuk duduk. Aku pun lalu mengambil tempat duduk tepat di samping wanitaku.


Anehnya, hingga saat aku duduk di sampingnya pun, dia masih tetap betah menunduk.


Ada apa dengannya? Pikirku.


"Masih baru, Bu. Sekitar 4 bulan yang lalu," jawabku, sembari tersenyum dan menatap ibu dan wanitaku secara bergantian.


Rania nampak terkejut mendengar kebohonganku. Pasti dia tidak pernah menyangka bahwa aku akan mengambil langkah seperti ini untuk mendekati anggota keluarganya.


"Oh, masih baru, ya?" Ibu berkata sembari mengangguk mengerti.


"Iya, Bu. Masih baru," jawabku sambil tersenyum sopan pada beliau.

__ADS_1


Sejenak aku melihat ke arah wanita yang aku cintai. Setelah aku pikir-pikir, apa sebaiknya aku mengatakan yang sebenarnya pada calon ibu mertuaku, jika sebenarnya saat ini putrinya sedang mengandung benihku. Apalagi sekarang aku sudah mengantongi restu dari beliau, aku pikir mungkin ibu tidak akan marah. Dan juga, dengan cara seperti itu, Rania pasti tidak akan punya alasan lagi untuk menolak menikah denganku.


"Bu, sebenarnya saya masih ingin mengatakan sesuatu hal yang sangat penting pada Ibu," ucapku.


"Apa itu Nak Kaaran?"


"Bu, mumpung sekarang Rania sudah ada di sini, jadi saya ingin ee'-" Tiba-tiba saja Rania memasukkan makanan ke dalam mulutku, membuat ucapanku seketika saja terpotong.


"Sayang, makan ini. Kamu sangat suka makan perkedel jagung, 'kan? Masakan bi Lastri sangat enak loh, sama seperti masakan koki di restoran mewah, kamu harus mencoba masakannya banyak-banyak."


Mendengarnya memanggilku dengan sebutan 'Sayang' membuat hatiku seketika jadi melambung. Hal itu membuatku tidak peduli bagaimana dia memperlakukanku saat ini.


B e r s a m b u n g ...


..._____________________________________________...


...Sorry baru up guys🙏 Seharian ini aku sibuk banget ...

__ADS_1


__ADS_2