
Kurang lebih setengah jam kemudian. Roy akhirnya kembali setelah menjalankan perintahku untuk menjemput Rania dan membawanya kemari.
"Tuan, nona Rania sudah ada di luar," ucap Roy.
"Hem. Bagaimana dengan laki-laki itu?" tanyaku.
"Dia sudah pergi sebelum kami tiba di restoran itu, Tuan," jawabnya.
"Apa kamu sudah menyuruh anak buah William untuk menangkapnya?" tanyaku lagi. Aku tidak akan membiarkan laki-laki yang sudah mendekati wanitaku lolos dan pergi begitu saja. Dia harus diberi peringatan.
"Sudah, Tuan."
"Ya sudah, kalau begitu tugasmu untuk hari ini sudah selesai. Kamu sudah bisa keluar dari sini, biarkan aku berdua saja dengan Rania," ujarku, mencoba untuk mengusir Roy agar tidak menjadi pengganggu di antara kami nantinya.
"Maaf Tuan. Bukannya saya tidak mau menuruti perintah Anda, hanya saja ... masih ada hal penting yang ingin saya sampaikan pada Anda," ucap Roy.
"Apa itu? Cepat katakan."
__ADS_1
"Mm ... mengenai surat perjanjiannya, Tuan. Nona Rania ingin membatalkan surat perjanjian itu," jawab Roy.
"Oh, ya? Apa saja yang dia katakan?" tanyaku. Mendengar ucapan Roy barusan, aku tidak begitu terkejut. Hal ini memang sudah aku prediksikan sebelumnya.
"Nona Rania menanyakan mengenai garis besar isi dari besar surat perjanjian itu."
"Lalu kamu menjawab apa?"
"Saya mengatakan bahwa inti dari isi surat perjanjian itu adalah, bahwa Tuan sudah mengklaim nona Rania sebagai hak milik Anda. Setelah mendengar saya menjawab seperti itu, nona Rania nampak sangat terkejut, dia pun memutuskan untuk membatalkan surat perjanjian itu," jelas Roy.
Aku tersenyum mendengar penjelasan Roy. Permainan seru sepertinya akan segera dimulai.
.
Sesampainya di ruang tamu. Aku tersenyum saat melihat wanitaku sedang duduk di sofa sambil menundukkan kepalanya. Sepertinya dia tidak berani menatapku. Aku pun lalu mengambil tempat duduk di seberang mejanya.
"Aku dengar, kamu ingin membatalkan surat perjanjian kita? Apa itu benar?" tanyaku, mulai membuka topik pembicaraan di antara kami.
__ADS_1
"Iya, Tuan. Itu benar. Saya memang ingin membatalkannya," jawabnya, sambil masih menundukkan kepalanya. Entah apa yang membuatnya takut menatapku.
"Baik, itu terserah kamu. Tapi, apa kamu tahu apa konsekuensinya jika kamu berani membatalkan surat perjanjian itu?" Aku berkata padanya sambil tersenyum evil.
Sejenak dia terdiam, lalu kemudian berkata, "Begini, Tuan, karena saya ingin membatalkan surat perjanjian itu, maka saya ... saya akan mengembalikan uang 900M yang Anda berikan kepada saya sebagai bonus."
"Hahaha!"
Mendengar penjelasannya itu, aku tidak tahan untuk tidak terbahak. Dia pikir masalahnya akan sesimpel itu. Jangan mimpi. Aku tidak akan membiarkanmu lepas dariku dengan muda. Kamu adalah milikku sekarang, Rania. Selamanya akan tetap menjadi milikku. Kamu adalah Raniaku.
"Roy, berikan surat perjanjian itu padanya. Biarkan dia membaca isinya dengan jelas sekarang. Aku tahu, sebelumnya dia memang ceroboh karena menandatangani surat perjanjian itu tanpa membacanya terlebih dahulu."
Roy pun lalu meletakkan surat perjanjian itu di hadapannya. Belum sampai satu menit dia membaca isinya, dia langsung membanting surat perjanjian itu di atas meja.
Plak! Dia langsung berdiri dari duduknya dan menatapku dengan tajam.
"Saya tidak setuju! Ini namanya penipuan!"
__ADS_1
B e r s a m b u n g ...