RANIAKU, CANDUKU

RANIAKU, CANDUKU
Bab 25


__ADS_3

"Berani sekali kamu menghajarku," ucapku seraya berjalan mendekat ke arahnya begitu aku sudah berhasil bangkit kembali.


"Untuk apa lagi kamu mendekat? Apa kamu masih minta dihajar, hah?" ancamnya, sembari memasang kuda-kuda, seperti sedang bersiap menghajarku.


Cih, berani sekali dia mengancamku.


"Punya nyali juga kamu. Menarik. Aku memang suka gadis pemberani sepertimu," ucapku, sembari terus berjalan ke arahnya dan tersenyum smirk.


Jika kali ini dia masih ingin menghajarku, maka bersiaplah, aku akan menahan setiap seranganya itu. Sudah dua kali dia menghajarku, dan dua-duanya saat aku dalam keadaan lengah dan tidak siap. Serangannya yang selanjutnya tidak akan aku biarkan mengenaiku.


"Aku bilang jangan mendekat! Minta dihajar lagi kamu, hah?!" Kata-katanya terdengar mengancamku, tapi dari bahasa tubuhnya, aku bisa mengetahui bahwa dia takut padaku. Buktinya dia terus berjalan mundur saat aku mendekatinya.


Aku tersenyum sambil menatapnya dengan tatapan nakal. "Sebaiknya kamu simpan saja tenagamu itu untuk membalas seranganku di atas te*pat tidur."


Dengan gerakan cepat, aku langsung memanggulnya, lalu membawanya masuk menuju tempat tidur.


"Akh!!! Lepaskan aku brengsyek! Lepaskan!" Dia terus berteriak sambil memukul-mukul punggungku.


Percuma saja dia memberontak, aku tetap tidak akan melepaskannya. Malam ini dia harus mendapatkan hukuman berat.


Bruk!

__ADS_1


Aku langsung melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur.


.......


...(S K I P)...


.......


Beberapa jam kemudian.


Sekarang sudah masuk waktu tengah malam, dan aku baru saja menyudahi aktifitas panas kami setelah melakukannya beberapa kali putaran, hingga aku benar-benar merasa puas.


Dia harus mendapatkan hukuman setimpal atas semua perbuatannya. Ditambah lagi besok aku akan segera terbang ke luar negeri, dan di sana aku akan tinggal cukup lama karena ada urusan bisnis yang sangat penting. Anggap saja aku sedang mengambil bekal sebelum berangkat ke Jerman.


.......


.......


"Hiks, hiks, hiks."


"Sudah, berhentilah menangis. Apa kamu tidak lelah terus-terusan menangis dari tadi, hm?" tanyaku, sambil berusaha memeluknya dari belakang, karena kini posisi berbaringnya tengah membelakangiku.

__ADS_1


"Jangan sentuh aku!" teriaknya, tapi aku tidak peduli. Aku tetap akan melakukan seperti yang ku mau. Tidak ada yang bisa menentang keinginanku saat ini. Aku akan tertidur sambil memeluknya sampai pagi.


"Tidurlah. Besok pagi-pagi sekali aku akan mengantarmu pulang," bujukku.


.......


Keesokan paginya.


Sepanjang perjalanan dari hotel menuju rumahnya, dia seperti enggan melihat ke arahku. Sepertinya dia sangat marah karena aku memaksanya untuk melayaniku tadi malam. Bahkan setelah dia turun dari mobil, dia bahkan tidak mengucapkan sepatah kata pun.


Setelah wanitaku dipastikan aman sampai di rumahnya, aku dan Roy pun segera meluncur menuju bandara.


"Roy, apa kamu sudah memberikan peringatan pada laki-laki yang bersama dengan Rania di restoran kemarin sore?" tanyaku.


Semalam aku tidak sempat turun tangan sendiri untuk memberikan peringatan pada pria itu, karena aku tidak mau waktuku bersama wanitaku jadi berkurang.


"Sudah, Tuan. Setelah saya mengancam akan menghancurkan perusahaannya, dia segera berjanji tidak akan pernah mendekati nona Rania lagi," jawab Roy.


"Bagus. Memang itu yang aku mau. Aku tidak mau ada laki-laki lain yang mendekati milikku."


B e r s a m b u n g ...

__ADS_1


...______________________________________________...


...Siap-siap jempolnya digoyang guys karena aku bakalan crazy up mulai sekarangπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ...


__ADS_2