
Sesampainya di villa. Kaaran dan Roy langsung memasuki ruang kerjanya. Sementara Rania, dia langsung pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Setelah itu, barulah dia menemui kedua anaknya.
"Apa kamu sudah menghubungi William, Roy?" tanya Kaaran. Tatapan hangatnya tadi ke Rania kini sudah berubah menjadi tatapan penuh amarah begitu Rania sudah tidak ada lagi di sampingnya.
"Sudah, Tuan. Saat ini dia sedang dalam perjalanan menuju kemari. Saya juga sudah menyuruhnya untuk menunggu Anda di ruang rahasia bawah tanah," jawab Roy. "Dan juga ... beserta ketiga anak buahnya yang dia tugaskan untuk menjadi pengawal rahasia nona Rania." Terdengar nada ragu-ragu saat Roy mengucapkan kalimat terakhirnya. Dia tahu jika William beserta anak buahnya pasti akan terkena amarah Kaaran karena ketiga pengawal yang William utus itu tidak becus menjaga nona besar mereka. Akibat dari kelalaian mereka, hampir saja Rania diculik dan dijadikan sebagai tawanan oleh musuh.
"Tuan, saya mencurigai jika pelaku yang ingin menculik nona Rania adalah si Gundul. Entah mengapa sekarang saya malah berpikir bahwa mungkin saja tuan Johan masih hidup." Roy mengungkapkan kekhawatiran yang sedari tadi muncul di dalam benaknya. "Mungkin saja dia belum tewas seperti yang kita pikirkan selama ini, Tuan. Soal insiden mobil meledak karena menginjak jebakan ranjau yang memang sengaja kita siapkan untuk mereka waktu itu, bisa saja orang yang tewas dalam peristiwa tersebut bukan tuan Johan, melainkan anak buahnya."
"Kamu benar, Roy. Aku pun sebenarnya sudah berpikir seperti itu saat Rania menunjukkan jarum suntik yang musuh jadikan sebagai senjata untuk menyerangnya," ungkap Kaaran. "Seketika aku jadi teringat dengan peristiwa beberapa bulan lalu, saat si Gundul pengkhianat mencelakaiku dengan cara yang sama. Aku jadi curiga, jangan-jangan selama ini Johan hanya sengaja bersembunyi untuk mengecoh kita. Setelah dia menemukan apa kelemahanku, barulah dia muncul kembali."
"Iya, Tuan. Saya pikir juga demikian. Tapi ... ada satu hal lagi yang membuat saya lebih khawatir," kata Roy.
"Apa itu, Roy?" tanya Kaaran penasaran.
__ADS_1
"Begini, Tuan, karena tadi musuh gagal menculik nona Rania, saya khawatir ... mereka akan kembali berulah saat resepsi pernikahan Anda digelar, Tuan."
Kaaran terdiam. Kenapa dia tidak pernah berpikir sampai ke sana? Tidak menutup kemungkinan bahaya yang lebih besar lagi dari sebelumnya telah menanti disaat hari membahagiakan itu tiba.
Sepertinya mulai sekarang, penjagaan harus lebih diperketat lagi, baik di villa mau pun di hotel. Begitu ada hal yang mencurigakan, harus segera ditangani. Aku tidak ingin sampai terjadi apa-apa pada istri beserta kedua anakku. Batin Kaaran.
.
.
Begitu William bersama ketiga anak buahnya sudah sampai di ruang rahasia bawah tanah, Kaaran dan Roy pun segera menyusul. Sebelum Kaaran sampai, William masih sempat-sempatnya memarahi dan menghajar ketiga anak buahnya.
Bug.
__ADS_1
Bug.
Bug.
"BO*DOH!!! Kalian bertiga kenapa begitu tidak bisa diandalkan?! Kenapa kalian tidak becus menjaga nona Rania, hah?!" teriak William. "Apa saja yang kalian bertiga lakukan saat jam kerja?! Kenapa kalian sampai tidak tahu jika nona Rania sedang dalam bahaya!"
Hening. Ketiga pengawal itu tidak ada yang berani menjawab. Baru berhadapan dengan William saja nyali mereka sudah menciut, apalagi jika yang berhadapan dengan mereka adalah Kaaran. Habislah. Beruntung karena Rania tidak apa-apa, jika seandainya musuh berhasil menculiknya, mereka bertiga bisa digantung hidup-hidup oleh Kaaran.
"JAWAB!!!" William menatap ketiga anak buahnya dengan penuh amarah. "Kenapa diantara kalian tidak ada yang berani bicara?! Apa sekarang kalian semua sudah bisu, hah?!"
"Cukup, Will!" Kaaran tiba-tiba saja muncul.
B e r s a m b u n g
__ADS_1