RANIAKU, CANDUKU

RANIAKU, CANDUKU
Bab 22


__ADS_3

"Bagaimana Roy, apa dia sudah pergi?" tanyaku pada Roy. Sekarang ini asistenku itu naik menemuiku di kamar.


"Iya Tuan, nona Rania sudah pergi," jawabnya.


"Apa kamu sudah mengatakan pada William untuk menghubungi anak buahnya?"


"Sudah, Tuan."


"Bagus, suruh mereka untuk terus memantau setiap pergerakannya. Jangan sampai ada yang terlewat biar sedikit pun."


"Baik, Tuan."


.


.


Beberapa jam kemudian. William, kepala pengawalku pun akhirnya menghubungiku.


"Apakah dia sudah sampai?" tanyaku. Aku yakin, William menghubungiku karena dia ingin memberikan kabar mengenai Raniaku.


Aku menyebutnya dengan kata Raniaku karena sekarang gadis itu adalah milikku, wanitaku.


"Sudah, Tuan."


"Pastikan dia selalu aman di dalam pengawasan anak buahmu. Jangan sampai ada yang berani mengganggu dan mengusik kehidupannya," titahku pada William.


"Baik, Tuan."

__ADS_1


.


.


Tidak terasa satu minggu telah berlalu semenjak kejadian itu. Tiada hari aku lewatkan tanpa mengetahui kabar wanitaku dari beberapa orang mata-mata yang ditugaskan untuk mengawasi setiap pergerakannya kemana pun dia pergi.


Beberapa hari yang lalu aku mendapatkan laporan bahwa dia sudah membeli rumah serta mobil. Hutang-hutang keluarganya juga sudah dia lunasi semuanya. Sejumlah uang yang aku berikan padanya sudah pasti lebih dari cukup untuk menjamin kehidupan layak untuk dirinya sendiri beserta anggota keluarganya.


"Tuan, besok siang kita akan berangkat ke Jerman. Saya sudah mem-booking tiket pesawat," ucap Roy yang baru saja masuk ke dalam ruanganku.


Semenjak beberapa bulan yang lalu aku memang sudah berencana untuk berangkat ke sana untuk keperluan bisnis. Dan sesuai jadwal, kami akan tinggal di sana cukup lama, mungkin sebulan lebih.


Aku mengangguk. "Hem. Kalau begitu, majukan jadwal rapat untuk siang ini. Kita akan berangkat ke kota tempat tinggal Rania setelah rapatnya selesai."


"Baik, Tuan," ucap Roy sebelum akhirnya dia melangkah keluar dari ruanganku.


Sebelum berangkat ke luar negeri, aku harus menemuinya terlebih dahulu, tidak boleh tidak. Karena kalau tidak, aku pasti akan tersiksa rindu jika tidak bertemu dengannya dalam jangka waktu yang cukup lama.


.


.


Rapat sudah selesai. Sekarang aku dan Roy sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kota tempat tinggal wanitaku. Butuh waktu beberapa jam untuk aku bisa sampai ke sana menggunakan jalur darat. Dan jika aku ingin berangkat ke sana menggunakan jalur udara, hanya perlu waktu beberapa puluh menit saja untuk bisa sampai.


Namun, kali ini aku memutuskan untuk berangkat ke sana menggunakan jalur darat. Aku ingin merasakan seperti apa rasanya berjuang untuk bertemu dengan Raniaku.


Sesampainya kami di tempat tujuan. Ak!u mendapat laporan bahwa saat ini dia sedang berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan di kotanya. Tidak jauh dari sana kami sudah memesan sebuah kamar hotel.

__ADS_1


"Roy, cepat jemput dia jika dia sudah selesai bersenang-senang, aku sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengannya lagi," titahku pada Roy sebelum aku masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Baik, Tuan."


"Kalau begitu suruh anak buah William untuk memotret semua yang dia lakukan saat ini. Aku ingin melihat apa saja yang dia lakukan. Kirim semua fotonya 1 jam lagi, karena setelah mandi nanti aku ingin beristirahat sebentar," ucapku.


Perjalanan yang cukup jauh dari ibukota ke kota ini rasanya sungguh melelahkan. Aku butuh istirahat sejenak untuk memulihkan kembali energiku sebelum akhirnya bertemu dengannya.


"Baik, Tuan."


.


.


1 Jam lebih kemudian.


Plak!


Aku memukul meja dengan keras saat melihat wanitaku sedang bersama dengan pria lain. Berani-beraninya laki-laki itu mendekati Raniaku.


"Roy, cepat cari tahu siapa laki-laki itu, aku ingin memberinya peringatan untuk tidak mendekati milikku!"


"Baik, Tuan."


"Dan untuk Rania, cepat bawa dia ke hadapan sekarang juga! Mengerti!" teriakku.


Melihat wanitaku didekati oleh pria lain benar-benar berhasil membuatku uring-uringan.

__ADS_1


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2