RANIAKU, CANDUKU

RANIAKU, CANDUKU
Bab 55


__ADS_3

Setengah jam kemudian.


"Dad, kapan kita berangkat. Aku sudah tidak sabar."


"Berangkat ke mana Sayang?" tanyaku.


"Bukannya tadi kamu menghubungi Roy, untuk menyiapkan mobil."


Aku hanya menanggapi ucapan istriku dengan senyuman, bersamaan dengan itu, sebuah pesan masuk di ponselku. Setelah aku membukanya, ternyata pesan dari Roy.


"Sayang, ayo," ajakku, sembari mengulurkan tangan ke arah istriku.


Padahal aku hanya mengajak istriku untuk masuk ke dalam villa, tapi sepertinya dia terlihat sangat kegirangan, sampai-sampai dia berjalan sambil mengalungkan kedua tangannya pada leherku, lalu sesekali mencium pipiku, membuatku tersenyum dengan perlakuannya itu.


"Terima kasih, Dad."


"Terima kasih untuk apa Sayang?"


"Karena kamu sudah mau membawaku untuk pergi jalan-jalan," jawabnya.


Aku hanya bisa tersenyum. Sepertinya istriku sudah salah paham. Tidak tahu nanti akan seperti apa reaksinya setelah melihat kejutan yang sudah disiapkan untuknya secara dadakan.


Di ruang tengah villa tidak jauh dari lift, kami bertemu dengan Roy di sana.

__ADS_1


"Selamat pagi, Tuan, Nona Rania." Roy menyapa kami sembari menunduk sopan.


"Hem," gumamku.


"Semuanya sudah siap, Tuan. Seperti yang Anda minta."


"Bagus," ucapku.


"Dad, aku naik ke kamar dulu ya. Aku ingin bersiap-siap sebelum kita berangkat." Istriku berkata seraya melepaskan diri dari rangkulanku. Wajahnya terlihat sangat berseri. Jarang-jarang aku melihatnya sesenang dan sebersemangat ini.


Entah mengapa melihat wajah sumringahnya itu, aku justru malah merasa sangat bersalah.


Sayang, aku minta maaf karena sudah merenggut kebebasanmu. Aku tidak membiarkanmu bebas keluar kemana pun kamu mau dan lebih memilih untuk mengurungmu di sini karena aku hanya ingin melindungi kamu beserta calon anak kita dari niat jahat musuh, terutamanya melindungi kamu dari Johan.


.


.


Istriku keluar dari lift dan terlihat sudah rapi dengan pakaian gantinya. Wajahnya juga terlihat semakin cantik dengan polesan make up tipis dan lipstik berwarna merah muda yang menghiasi bibir indahnya.


Melihat ruang tengah villa yang sudah ramai dengan pakaian-pakaian yang bergelantungan teratur di sana sini, serta sepatu dan tas yang tertata rapi di raknya masing-masing, persis seperti di mall, istriku malah berdiri dan melongo menatap semuanya. Tidak tahu dia akan senang atau tidak dengan semua kejutan ini.


Aku berjalan menghampirinya. "Sayang, waktunya belanja. Kamu boleh mengambil semua barang-barang yang kamu suka."

__ADS_1


Istriku terdiam sesaat, lalu kemudian berkata, "Dad ... apa-apaan ini?"


Bukannya senang, istriku malah mencebikkan bibirnya. Dia terlihat sangat kecewa. Matanya indahnya juga seketika terlihat merah dan berkaca-kaca. Sepertinya aku kembali melakukan kesalahan besar.


"Sa-Sayang, kenapa kamu malah sedih? Bukannya kamu ... bukannya kamu ingin berbelanja?" tanyaku.


Bukannya menjawab, istriku malah memutar badan dan kembali masuk ke dalam lift.


"Sayang! Sayang! Kenapa kamu malah pergi?" panggilku, seraya ikut masuk ke dalam lift.


Begitu kami sampai di kamar, istriku keluar dari dalam lift sambil menghentak-hentakkan kakinya. Dia melemparkan tasnya sembarang arah lalu duduk menangis di atas sofa.


"Sayang, kenapa kamu menangis? Katakan padaku." Aku berkata dengan lembut untuk membujuk istriku.


"Dad, kamu pikir belanja adalah tujuan utamaku? Bukan, Dad. Aku meminta kamu untuk membawaku keluar jalan-jalan karena aku stres dikurung selama berbulan-bulan di rumah terus, tidak boleh pergi kemana-mana." Istriku berkata sambil terus menangis.


Aku yang tidak tega melihatnya menangis pun segera memeluknya dengan erat. Perasaan bersalah pun kian membesar di hatiku.


"Sayang, aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf."


Saat ini kebahagiaan wanita yang aku cintai adalah segalanya. Seketika aku berpikir, apa sebaiknya aku meninggalkan duniaku sebagai seorang mafia?


B e r s a m b u n g ...

__ADS_1


__ADS_2