
1 Minggu kemudian.
Di minggu pertama Kaaran mengalami kelumpuhan, belum ada perubahan yang terlihat. Akan tetapi sekarang dia sudah bisa mendengar dan melihat dengan jelas. Jika diawal-awal dia hanya mendapatkan asupan makanan melalui selang makanan, sekarang dia sudah bisa makan sambil disuapi.
"Makan yang banyak Tuan, agar Anda cepat sembuh," ucap Roy. Dia terus mengangsurkan sendok berisi bubur ke arah mulut Kaaran, tapi Kaaran malah menutup mulutnya rapat-rapat karena dia sudah merasa kenyang.
Berhenti menyuapiku, Roy. Aku sudah kenyang. Batin Kaaran.
"Anda sudah kenyang ya, Tuan? Kalau begitu minum dulu." Roy meletakkan mangkuk buburnya di atas meja, lalu memberikan minum pada Kaaran menggunakan sedotan.
Selama Kaaran sakit, Roy terus merawatnya dengan telaten, sampai-sampai Kaaran merasa sangat berhutang budi pada asistennya itu. Kaaran tidak tahu bagaimana cara dia akan membalas semua kebaikan Roy dikemudian hari.
"Tuan, karena Anda sudah makan, maka sekarang saatnya kita melakukan video call bersama tuan muda kecil dan nona muda kecil." Roy berkata sambil tersenyum. Dia lalu mengeluarkan sebuah cermin kecil dari dalam saku celananya. Setelah itu dia merapikan wajah dan rambutnya.
__ADS_1
Kaaran yang melihat tingkah Roy hanya bisa bergumam dalam hati.
Semenjak aku sakit, tingkah Roy kenapa malah berubah jadi aneh. Untuk apa juga dia bergaya sebelum menelpon? Kita ini hanya ingin melihat anak-anakku Roy, lalu untuk apa kamu merapikan penampilanmu? Si kembar juga tidak akan peduli dengan hal itu. Mau rapi atau pun berantakan, tidak ada bedanya. Mereka masih bayi dan belum mengerti apa-apa.
Berselang beberapa detik kemudian, Roy pun mulai melakukan panggil video dengan salah satu pengasuh si kembar.
"Selamat pagi Suster Ria." Roy melebarkan senyuman saat menyapa babysitter tersebut.
"Maaf Tuan, tapi sekarang di sini sedang ada nona Rania, saya hanya takut ketahuan nona Rania jika kita menelpon sekarang, Tuan." Suster Ria menjawab sambil berbisik.
Saat ini suster Ria menjawab panggilan video dari Roy sambil bersembunyi di dalam kamar mandi. Dia takut ketahuan Rania karena dia tahu betul bahwa saat ini Rania masih sangat marah pada Kaaran. Masalahnya karena Kaaran tidak kembali saat dia melahirkan sepasang anak kembar mereka.
"Ya sudah. Kalau begitu, nanti hubungi aku jika nona Rania sudah keluar," ucap Roy. Seketika senyumannya perlahan-lahan memudar, seiring dengan Suster Ria mengakhiri sambungan video call mereka yang hanya berlangsung selama beberapa detik saja.
__ADS_1
Kaaran yang memperhatikan gelagat aneh asistennya hanya bisa tersenyum dalam hati. Apakah sekarang Roy sedang jatuh cinta? Dia jatuh cinta pada perawat yang pernah dia tolong waktu itu?
Roy ... Roy. Gara-gara sudah terlalu lama menjomblo, begitu menemukan wanita yang dia sukai, tingkahnya malah seperti itu.
.
.
Berselang 1 jam kemudian. Suster Ria akhirnya menghubungi balik asisten Roy. Itu artinya, Rania sudah meninggalkan kamar kedua anaknya, jadi sekarang mereka bisa leluasa menelpon.
Saat ini yang membuat Kaaran semakin yakin bahwa Roy benar-benar menyukai babysitter anaknya, ekspresi wajah asistennya itu seketika bersemangat begitu melihat panggilan dari perawat itu. Sedangkan tadi saat William yang menelpon, Roy nampak biasa-biasa saja dan malah menampakkan ekspresi wajah datarnya seperti biasa.
"Ekhm, ekhm." Roy berdehem terlebih dahulu sebelum menjawab panggilan dari gadis idamannya. "Halo."
__ADS_1