RANIAKU, CANDUKU

RANIAKU, CANDUKU
Bab 130


__ADS_3

"Ada apa Roy? Kenapa kamu terlihat sangat pucat?" tanya Kaaran. Perasaannya seketika menjadi tidak enak. Pasalnya beberapa menit lalu dia menyuruh salah satu orang kepercayaannya itu untuk menghubungi babysitter agar membawa si kembar kemari. Bukannya para pengasuh itu yang datang membawa kedua bayi kembarnya, tapi malah Roy yang kembali dengan wajah pucatnya.


"Tu-Tuan, sebelumnya saya ingin meminta maaf, tapi saya juga harus mengatakan kabar ini secepatnya pada Anda." Roy menjawab sembari menunduk, tangannya terlihat semakin gemetar.


Mendengar ucapan Roy, seketika Rania ikut menyahut. "Asisten Roy, cepat katakan padaku, apa sebenarnya yang terjadi?!" Rania bertanya sambil mencengkram jas bagian depan pria kaku tersebut. Sebagai seorang ibu yang melahirkan si kembar, sudah tentu dia yang lebih dulu merasakan firasat buruk ketimbang yang lainnya. Bahkan dia sempat menyuruh Rina adiknya untuk mengecek keadaan kedua adiknya karena Roy belum kunjung kembali tadi.


"Sayang, tenanglah." Kaaran menarik tangan Rania agar berhenti mencengkram jas bagian depan Roy.


"Tapi Dad, aku takut terjadi sesuatu pada anak-anak." Rania mendongak menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.


"Diamlah dulu, Sayang. Kita dengarkan dulu penjelasan Roy. Jangan menyela ketika dia sedang berbicara." Kaaran berkata seraya membawa Rania ke dalam pelukannya. Sejujurnya dia pun merasakan firasat buruk sejak tadi, tapi dia tetap berusaha bersikap tenang meski pun dia juga merasa tidak kalah khawatirnya.


"Roy, sekarang katakan, sebenarnya apa yang terjadi?" titah Kaaran kemudian.


"Be-begini Tuan, tadi ... tadi saat Anda menyuruh saya untuk menghubungi suster Ria, dia tidak menjawab panggilan saya, begitu pula dengan suster Lili. Jadi saya memutuskan untuk menghampiri mereka. Tapi begitu saya sampai di sana, saya malah menemukan para pengawal yang ditugaskan untuk berjaga di sana semuanya sudah tergeletak di lantai tidak sadarkan diri. Setelah saya periksa, saya menemukan jarum suntik yang tertancap di badan mereka masing-masing. Sepertinya mereka diserang oleh pelaku yang sama dengan orang yang berniat mencelakai Nona Rania beberapa waktu yang lalu Tuan," jelas asisten Roy panjang lebar.


Mendengar hal itu, Rania tidak bisa lagi tidak panik. Dia semakin yakin bahwa pasti telah terjadi sesuatu pada kedua bayinya. Apa jangan-jangan si kembar diculik? Begitu pikirnya.


"Asisten Roy, jangan katakan kalau terjadi apa-apa pada anak-anakku!" teriak Rania sehingga menarik perhatian para tamu undangan yang hadir. Dia ingin kembali mencengkram jas bagian depan Roy, tapi Kaaran mencegahnya dengan cara semakin mengeratkan pelukannya pada istrinya itu.


"Tenanglah Sayang, tenanglah," bujuk Kaaran. "Roy, lanjutkan ucapanmu yang tadi," titahnya kemudian pada Roy.


"Baik Tuan." Pria kaku itu berkata seraya menganggukkan kepalanya pelan. "Tuan, Nona, sekali lagi saya meminta maaf jika harus mengatakan ini. Tuan muda kecil dan nona muda kecil di culik. Suster Lili dan suster Ria juga diserang menggunakan obat bius. Sekarang mereka juga sedang tidak sadarkan diri di samping tempat tidur tuan muda kecil dan nona muda kecil," jelas Roy dengan mantap tidak ingin lagi membuang waktu lebih lama.


"Apa?!"


Semua orang langsung terkejut dan panik. Seketika mereka semua merasa sangat khawatir dengan keadaan si kembar. Terutama Rania yang langsung pingsan karena tidak sanggup mendengar kenyataan pahit yang dialami oleh kedua anak kembarnya.


"Sayang, Sayang! Bangun!" teriak Kaaran dengan panik sambil menepuk pipi Rania pelan. Namun sia-sia saja karena Rania sudah terlanjur tidak sadarkan diri. Hari dimana yang mereka anggap sebagai hari paling membahagiakan justru berubah menjadi hari yang sangat menyedihkan karena peristiwa diculiknya si kembar Zoe dan Zack.


.


.

__ADS_1


Ketika Kaaran membopong Rania kembali ke kamar, disaat itulah Roy, William, bersama dengan Dad Robin mulai mengambil tindakan. Mereka harus menemukan si kembar sebelum pencuri itu terlanjur pergi jauh.


Akses keluar masuk hotel sudah ditutup sejak tadi. Begitu pula dengan area perbatasan, pelabuhan, serta bandara. Semuanya akan kembali dibuka setelah si kembar di temukan.


Disaat sebagian besar anak buah William beserta anak buah Dad Robin mulai bergerak menyisir jalanan ibukota mencari keberadaan si kembar, disaat yang bersamaan, Roy, William, dokter Raymond, juga Dad Robin mulai mengecek rekaman CCTV yang terletak di lantai sekian letak kamar si kembar berada.


Rupanya, kurang dari setengah jam yang lalu, sesaat sebelum Roy memeriksa keadaan si kembar, penculik itu memang sudah berhasil meninggalkan lokasi Hotel Galaxy. Mereka tidak bisa melihat dengan jelas siapa pelakunya. Yang jelas, pelaku penculikan itu adalah 2 orang pria, dimana masing-masing orang memiliki senjata yang sama yang mereka gunakan untuk menembak sasaran menggunakan obat bius. Setelah berhasil membuat para pengawal beserta para pengasuh si kembar tidak sadarkan diri, keduanya pun membawa si kembar pergi. Sialnya, mereka membawa pergi si kembar dengan cara memasukkan kedua bayi yang sedang terlelap itu ke dalam koper yang berbeda, kemudian kedua pelaku itu mengganti pakaian mereka sehingga menyerupai pengunjung hotel pada umumnya, jadi tidak ada yang curiga.


"Tuan Robin, apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" tanya Roy.


Dad Robin menghembuskan napasnya dengan kasar. "Sepertinya kita juga harus meminta bantuan pihak kepolisian untuk membantu kita mencari si kembar. Karena aku yakin, kedua pencuri itu sudah pergi lumayan jauh mengingat kejadian penculikan itu sudah berlalu sekitar 20 menit yang lalu."


.


.


Sementara itu di tempat lain.


"Sayang, bangunlah." Kaaran menepuk-nepuk pelan pipi Rania setelah dia mengoleskan minyak kayu putih di dekat lubang hidung istrinya.


"Syukurlah Sayang, kamu sudah sadar," ucap Kaaran.


"Apa yang terjadi?" Rania bertanya dengan kebingungan. Sesaat setelah dia sadar, dia masih belum mengingat bahwa kedua anaknya diculik.


Namun, melihat ibu, Rina, bi Nining, beserta yang lainnya menangis, Rania pun seketika teringat akan sesuatu.


Anak-anakku?


"Dad, anak-anak di mana, Dad? Kenapa kamu tidak mencari mereka? Bukannya mereka diculik?" Rania bertanya sambil mencengkram jas bagian depan milik Kaaran. Dia kembali panik ketika mengingat bahwa kedua anak kembarnya diculik.


"Tenang dulu Sayang, jangan panik," kata Kaaran, berusaha menenangkan Rania kembali.


"Bagaimana aku bisa tenang? Bagaimana bisa aku tidak panik? Sedangkan anak-anakku tidak tahu dimana. Mereka diculik, Dad, mereka diculik ...." Seketika tangisan Rania mulai pecah, membuat Kaaran langsung memeluknya kembali dengan erat.

__ADS_1


Cukup lama Rania menagis sambil meracau memanggil-manggil nama si kembar. Sementara Kaaran berusaha keras untuk menenangkannya tapi tidak mempan.


"Tuan," panggil Roy tiba-tiba membuat Rania seketika menghentikan tangisannya. Wanita yang melahirkan si kembar itu sangat berharap Roy membawa berita bagus untuk mereka.


"Ada apa Roy? Apa kamu sudah menemukan sebuah petunjuk?" tanya Kaaran dengan harap-harap cemas.


"Iya, Tuan. Saya bersama William, tuan Robin, juga tuan Raymond baru saja selesai memeriksa semua rekaman CCTV yang ada di area hotel Galaxy. Kejadian penculikan tuan muda kecil dan nona muda kecil baru saja terjadi ketika saya datang kemari untuk memeriksa keadaan mereka. Kira-kira kejadiannya berlangsung selama kurang dari setengah jam yang lalu Tuan," jelas Roy.


"Lalu bagaimana mereka bisa membawa si kembar keluar dari sini. Di luar 'kan ada banyak sekali penjaga? Tidak mungkin juga mereka menembakkan obat bius pada semua penjaga yang ada di luar sana," tanya Kaaran tidak habis pikir. Rupanya banyaknya pengawal yang ditugaskan untuk berjaga tidak menjamin keamanan kedua buah hatinya.


"Saat keluar dari sini, kedua orang itu menyamar sebagai salah satu pengunjung di hotel ini. Mereka memasukkan nona muda kecil dan tuan muda kecil ke dalam koper yang berbeda, jadi tidak akan pernah ada yang menaruh curiga pada mereka."


Mendengar penjelasan asisten Roy, tangisn Rania semakin pecah. Dia mengkhawatirkan bagaimana keadaan kedua anaknya saat ini? Dia sangat takut terjadi sesuatu hal yang buruk pada kedua anaknya gara-gara ulah para penculik itu.


"Dad, kenapa kamu diam saja? Ayo cepat kita cari anak-anak ...." Rania memohon pada Kaaran sambil terus menangis.


"Tenang dulu Sayang, kita tidak boleh gegabah. Kita harus tetap bersikap tenang untuk menghadapi masalah yang satu ini," ucapnya, sambil kembali memeluk istrinya dengan erat lalu mengusap-usap punggungnya dengan lembut untuk menenangkannya.


"Roy, apa kamu sudah memerintahkan untuk menutup bandara dan perbatasan?" Kini Kaaran beralih bertanya pada Roy.


"Sudah, Tuan. Semua keberangkatan baik darat, laut, udara, semuanya akan ditunda sampai tuan muda kecil dan nona muda kecil ditemukan. Kami juga meminta pada penjaga di perbatasan untuk memeriksa semua mobil yang lewat berikut isi di dalamnya. Kami sudah mengirimkan foto beserta plat mobil yang dikendarai oleh kedua orang itu. Juga kami sudah bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk menangkap pelakunya. Bukan hanya itu, anak buah William beserta anak buah dad Robin semuanya sudah dikerahkan untuk mencari, Tuan."


"Kerja bagus, tapi sebaiknya kita juga ikut mencari," kata Kaaran.


B e r s a m b u n g ...


..._________________________________________...


...Guys! Maaf ya karena novel ini tidak bisa update setiap hari dikarenakan ada juga novel lain karya otor yang rutin update setiap harinya. Tapi tenang, karena setiap babnya akan dibuat lebih panjang dari sebelum-sebelumnya jadi kalian bisa sedikit lebih puas bacanya๐Ÿ˜…...


...Oh iya, mampir disini juga ya karya terbaru otor yang rutin update setiap hari๐Ÿ‘‡๐Ÿ˜Š...


__ADS_1


Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Transmigrasi Menjadi Pelakor, di sini dapat lihat: https://noveltoon.mobi/id/transmigrasi-menjadi-pelakor?content\_id\=2319591


__ADS_2