
2 Bulan kemudian.
Setelah istriku melakukan pemeriksaan USG pada kandungannya, dokter mengatakan bahwa istriku sedang mengandung sepasang anak kembar. Dan hal itu membuat kami berdua menjadi semakin bahagia. Sekali istriku hamil, kami langsung dapat sepaket, bayi laki-laki dan perempuan.
Malam hari, sebelum kami tertidur. Seperti biasa, aku selalu mengajak kedua anakku yang masih berada di dalam kandungan untuk berbicara. Seolah-olah mengajak mereka berbicara adalah suatu kewajiban.
Ketika aku mengajak kedua calon anakku berbicara dan mereka merespon dengan tendangan, hal itu membuatku tertawa gemas sekaligus semakin bahagia. Aku sangat senang saat mereka merespon ucapanku. Apalagi disaat pagi hari, perut mommy mereka terkadang tidak berbentuk karena ulah dua makhluk kecil yang sangat aku dan istriku nantikan kelahirannya.
.
.
Keesokan harinya.
Pagi-pagi sekali aku sudah mendapat panggilan telepon dari seseorang. Setelah aku cek, aku mengerutkan dahiku heran saat melihat nama William pada ID pemanggil.
Apakah terjadi sesuatu? Kenapa William meneleponku pagi-pagi begini? Batinku.
Karena yakin bahwa itu adalah panggilan yang sangat penting, maka dengan segera aku beranjak masuk ke dalam kamar mandi untuk menjawab panggilan tersebut, takut istriku diam-diam terbangun dan menguping pembicaraan kami.
__ADS_1
Setelah memasuki kamar mandi dan mengunci pintunya dengan rapat dari dalam, aku pun segera menjawab panggilan telepon tersebut.
"Ada apa, Will? Kenapa kamu menghubungiku pagi-pagi begini? Apakah terjadi sesuatu?" tanyaku sedikit khawatir.
"Gawat, Tuan. Ada masalah." William terdengar panik di ujung telepon sana.
"Gawat kenapa Will? Coba jelaskan. Kalau bicara jangan setengah-setengah," tanyaku. Tanpa aku sengaja aku juga ikutan panik sama seperti dia.
"Tuan, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya karena saya baru sempat menghuhungi Anda sekarang. Semalam saya sangat ingin menghubungi Anda tapi saya takut mengganggu waktu istirahat Anda dengan nona Rania."
"Sebenarnya apa yang terjadi Will? Cepat katakan. Jangan membuatku penasaran."
"Begini, Tuan, tadi malam saya mendapat informasi dari Susan bahwa tuan Johan sedang mencari hacker handal untuk meretas semua data perusahaan Anda," jelasnya.
"Will, cepat hubungi Morgan dan suruh dia untuk datang ke perusahaan sekarang juga."
Morgan adalah ahli IT yang bertugas untuk menjaga keamanan data kantor pusat beserta kantor-kantor cabang. Jika Johan menyewa seorang hacker untuk meretas data perusahaan, maka Morgan adalah lawan yang sepadan.
"Baik, Tuan."
__ADS_1
Setelah mengakhiri sambungan telepon dengan William, aku pun lalu menghubungi Roy.
"Roy, setengah jam lagi datang jemput aku. Keamanan data perusahaan sedang terancam."
"Baik, Tuan."
.
.
15 Menit kemudian.
"Sayang, aku berangkat dulu. Muah, muah." Seperti biasa, aku mencium beberapa titik pada bagian wajah istriku sebelum berangkat ke kantor.
"Iya, hati-hati di jalan, Dad."
"Iya Sayang. Oh iya, hari ini mungkin aku akan pulang lebih lambat dari biasanya. Ada masalah di perusahaan yang harus segera aku selesaikan," jelasku, takut istriku berpikir yang tidak-tidak jika aku pulang terlambat.
"Tapi kamu tidak akan pulang larut 'kan, Dad?" Istriku berkata sembari memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Semoga saja tidak Sayang. Aku juga belum bisa memastikan jam berapa aku akan pulang. Tapi sebisa mungkin, aku akan berusaha untuk pulang lebih cepat untuk menemanimu."
B e r s a m b u n g ...