
"Apa kamu masih marah padaku?" tanyaku padanya, sambil masih menatapnya dengan lekat. Dia tidak menjawab pertanyaanku dan malah memilih untuk diam.
"Rania, dengarkan aku. Aku sangat ingin menikahimu bukan tanpa sebab. Janin yang sedang kamu kandung itu juga anakku, darah dagingku, Rania. Aku tidak ingin kelak dia kehilangan sosok figur seorang ayah. Kehadiran kita berdua itu sangat penting baginya. Tidak lengkap jika hanya ada kamu saja, atau pun hanya ada aku saja. Kita berdua harus merawat dan membesarkannya bersama-sama, memberikan kasih sayang orang tua bersama-sama." Sejenak aku menjeda ucapanku sebelum kembali menjelaskan, sambil aku terus menerus menatapnya dengan lekat.
"Rania, apa kamu bisa mengerti maksudku? Kelak, anak kita membutuhkan kita berdua, bukan hanya kamu saja sebagai mommy-nya, tapi kelak dia juga akan mencari di mana daddy-nya. Kenapa Daddy-nya tidak tinggal bersama dirinya dan mommy-nya, seperti anak-anak yang lain yang memiliki anggota keluarga lengkap."
Aku terus menjelaskan panjang lebar padanya, berharap dia akan mengerti maksud dan kekhawatiranku mengenai anak kami, akan tetapi tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, dia hanya menyimak setiap penjelasan yang aku ucapkan.
"Tolong, menikahlah denganku, Rania. Aku tahu kamu tidak mencintaiku, justru malah sebaliknya, kamu sangat membenciku, tapi tolong, pikirkan bagaimana perasaan anak kita kelak saat dia mencari di mana daddy-nya," ucapku lagi, tapi dia masih saja tetap terdiam.
"Rania, aku tidak akan memaksamu untuk memberikan jawabanmu sekarang. Akan tetapi, tolong pikirkan baik-baik ucapanku mulai dari sekarang. Besok, aku akan kembali ke ibukota. Minggu depan aku akan kembali lagi ke sini untuk menagih jawabanmu," ucapku, sambil terus berusaha membujuknya.
"Baiklah, aku akan memikirkan jawabannya, tapi tolong, jangan beritahu ibuku mengenai masalah kehamilanku, karena aku belum siap untuk menghadapi amarah dan kekecewaannya," pintanya padaku.
__ADS_1
Akhirnya,Ā jawabannya itu mampu mengulas senyuman di wajahku. Bagiku, itu tidaklah menjadi masalah, asalkan dia mau menikah denganku, aku rela melakukan apa pun.
"Baiklah. Aku hanya meminta padamu, tolong tepis egomu sedikit ... saja. Demi anak kita kelak."
Setelah wanitaku kembali ke kamarnya, aku pun akhirnya bisa beristirahat dengan tenang. Sepertinya malam ini aku akan tertidur dengan lelap.
.
.
Aku terbangun saat mendengar suara ketukan pintu dari luar.
"Masuk!" teriakku.
__ADS_1
Semalam, aku lupa mengunci pintu, jadi aku tidak perlu bangun untuk membukanya.
Ceklek. Pintu kamar terbuka. Aku tersenyum saat terbangun orang pertama yang aku lihat adalah dia, wanita yang sudah merebut hatiku tanpa sisa. Dia masuk ke dalam kamar sambil membawa sebuah nampan berisi menu sarapan.
"Mm ... asisten Roy berkata, kamu masih belum enak badan, jadi ... ibu meminta aku untuk membawakan menu sarapan ini untukmu ke dalam kamar." Dia berkata saat sudah berdiri tepat di samping tempat tidur.
Kerja bagus Roy. Kamu benar-benar minta naik gaji rupanya. Batinku, sambil tersenyum senang dalam hati. Makin ke sini Roy sepertinya semakin memahamiku lebih baik dari siapa pun.
"Terima kasih," ucapku, sambil menatapnya tanpa berkedip.
Dia meletakkan isi nampan itu di atas meja nakas, lalu setelah itu segera berbalik hendak keluar dari kamar.
"Tunggu dulu," ucapku, sambil menarik pergelangan tangannya, membuatnya langsung menghentikan langkah.
__ADS_1
"Apa kamu sudah memikirkan jawaban atas pertanyaanku?"
B e r s a m b u n g ...