
"Dan kamu Roy, kerahkan timmu sekarang juga. Awasi tempat-tempat yang sudah kalian tanami dengan ran*jau."
"Baik, Tuan," kata Roy.
Setelah Roy mendapat titah dariku, dia pun segera beranjak meninggalkan ruangan.
Akhirnya, saat yang aku tunggu-tunggu datang juga. Aku sudah tidak sabar ingin segera menghancurkan Johan dan segera kembali ke villa untuk menemui istri beserta kedua anakku.
Sebelum ikut bersiap-siap, terlebih dahulu aku kembali menatap istriku yang masih terbaring lemah tidak berdaya di layar monitor. .
"Sayang, bangun Sayang. Anak kita membutuhkan kamu," ucapku.
Tidak tahu kenapa aku tiba-tiba merasa sedih tanpa sebab. Padahal, dari jauh-jauh hari aku sudah begitu yakin bahwa aku akan mengalahkan Johan dan kembali untuk menemui Rania beserta kedua anak kami. Tapi entah mengapa sekarang ... aku merasa sedikit ragu?
Ah, tidak tidak. Aku tidak boleh berpikir yang tidak-tidak. Pokoknya sekarang, aku harus bersemangat, tidak boleh pantang menyerah, demi istri dan anak-anakku. Aku harus pulang secepatnya untuk menemui mereka. Aku sudah sangat merindukan mereka bertiga.
Setelah melihat kondisi istriku, selanjutnya aku melihat keadaan kedua anakku. Keduanya nampak terlelap di dalam box bayi mereka masing-masing.
"Nak, jangan nakal, ya? Jangan suka menangis. Tunggu Daddy pulang," ucapku.
__ADS_1
Setelah melihat keadaan ketiga orang yang sangat aku cintai dan kasihi tersebut, aku pun segera bangkit dari kursiku hendak bersiap-siap.
Aku membuka sebuah koper berwarna hitam berukuran besar yang merupakan tempat aku menyimpan pakaian beserta alat-alat yang aku butuhkan sebelum bertempur dengan anggota Gang Black Mamba.
.
.
Setengah jam kemudian.
"Tuan, musuh sudah bergerak menuju lokasi kita." William berkata di ujung telepon sana.
"Hem, aku juga sedang melihatnya, Will. Bagaimana dengan kalian di sana? Apakah kalian semua sudah siap menyambut kedatangan mereka?" tanyaku, ingin memastikan.
Setelah memastikan bahwa William bersama timnya sudah siap, aku pun segera menghubungi Roy. Saat ini aku sedang berdiri di puncak tertinggi di atas markas dengan sebuah teropong yang bergelantungan di leherku.
"Roy, apa kamu sudah mengetahui bahwa musuh sudah bergerak untuk menyerang kita?" tanyaku.
"Iya, Tuan, saya juga sudah melihatnya."
__ADS_1
"Bagus. Apa kamu dan timmu sudah siap?" tanyaku lagi.
"Sudah Tuan, kami semua sudah siap," jawab Roy.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan terus mengawasi kalian semua dari puncak markas," ucapku.
"Baik, Tuan."
Sebagai pimpinan Gang Mawar Biru, belum saatnya aku turun untuk bbertempur di bawah sana. Lawanku bukan para anak buah Johan, melainkan Johan itu sendiri. Jika aku sudah melihat Johan memasuki area markas, barulah aku akan turun tangan sendiri untuk bertarung dengan kakak angkatku itu.
Setelah memastikan bahwa tim William dan tim Roy sudah siap dengan tugas mereka masing-masing dan sesuai dengan strategiyang sudah kami susun jauh-jauh hari, aku pun kembali mengawasi pergerakan musuh melalui aplikasi khusus yang tersambung dengan drone di ponselku.
Ku lihat mobil-mobil yang dikendarai musuh sudah semakin mendekat di markas kami. Namun, aku melihat ada sebuah mobil yang berhenti di tengah jalan, dan aku yakin, di dalamnya pasti ada Johan. Dia pasti ingin menunggu keadaan sudah lebih aman telebih dulu sebelum akhirnya dia ikut memasuki kawasan markas kami.
"Bersiap-siaplah kalian semua, karena musuh sudah semakin mendekati markas kita," titahku memperingati William, Roy, beserta anak buah mereka masing-masing.
"Siap, Tuan." Mereka menjawab dengan serempak.
B e r s a m b u n g ...
__ADS_1
...________________________________________...
...Terima kasih atas dukungan para pembaca sekalian sehingga cerita ini bisa menjadi salah satu pemenang dalam lomba Urban Pria.☺❤Dan maaf karena cerita ini masih slow update🙏🏼...