
Dia baru terlihat tersadar dengan ucapannya setelah aku menatapnya dengan tajam. Sampai-sampai dia melepaskan genggaman tangannya yang tadinya mencengkeram lenganku, dan sekarang, dia mulai bergerak mundur.
Setelah melihatnya menampakkan wajah takutnya, aku pun kembali melangkah menuju pintu utama diikuti oleh Roy.
Namun, belum sampai aku menginjakkan kakiku di teras rumahnya, dia kembali menarik pergelangan tanganku dari belakang.
"Tolong, jangan temui ibuku. Kamu juga tidak perlu bertanggung jawab padaku dan anak ini, karena aku bisa membesarkan anak ini seorang diri," ucapnya.
Mendengar ucapannya itu seketika membuat aku semakin naik pitam. Gadis ini benar-benar menguji kesabaranku. Berani sekali dia ingin menolak pertanggungjawaban dariku. Dia pikir aku akan mengabulkan permintaannya itu. Jangan mimpi.
Aku tidak akan membiarkan anakku kehilangan kasih sayang orang tua yang lengkap. Sudah cukup aku yang merasakan hal menyedihkan itu saat aku masih kecil dulu, anakku jangan sampai merasakan hal yang sama.
"Roy, jelaskan padanya," titahku sembari menghempaskan tangannya yang mencengkram pergelangan tanganku.
Sejenak aku tidak mau menatapnya, karena pasti akan membuatku semakin sakit hati dan emosi.
"Nona, sebaiknya Anda tahu jelas mengenai isi dari pa*al 107 ay*t 1, bahwa jika Anda hamil dan Tuan Kaaran menginginkan pernikahan, maka mau tidak mau Anda tetap harus setu-"
__ADS_1
"STOOOP!!!" Dia memekik sembari menutup kedua telinganya dengan tangan, membuatku sangat terkejut dan seketika langsung melihat ke arahnya.
Melihatnya seperti itu, aku dan Roy pun langsung terdiam. Apalagi saat melihat wanitaku sepertinya sekarang ini benar-benar marah.
"Berarti kalian berdua memang sengaja menjebakku, iya?! Kalian memang sengaja menipuku! Kenapa hal seperti itu memang sudah tercatat di dalam surat perjanjian sial*n itu?! Berarti jauh sebelum kalian berdua menangkapku waktu itu, kalian berdua memang sudah menyediakan perangkap untuk menjebakku! Kalian benar-benar sangat licik!"
Dengan ekspresi sangat marah dia menuding aku dan Roy secara bergantian.
"Dan kamu!" Kali ini dia menuding hanya ke arahku saja.
Aku tidak berani menjawab, dan lebih memilih untuk diam. Takut dia semakin marah padaku.
"Begitu banyak perempuan lain di luar sana, kenapa harus aku yang kamu perlakukan seperti ini?! Kenapa?!!"
Seketika dia menangis setelah meluapkan kemarahannya padaku. Aku jadi tidak tega melihatnya. Aku benar-benar tidak sanggup melihat wanita yang aku cintai bersedih. Apalagi sekarang di dalam dirinya ada darah dagingku.
"Sudah, jangan emosi. Marah tidak baik untuk janin yang ada di dalam kandunganmu," ucapku, sembari berjalan menghampirinya, lalu berusaha untuk memeluknya agar dia bisa tenang. Namun sayangnya, belum sempat aku memeluknya, dia sudah langsung mendorongku ke belakang.
__ADS_1
"Jangan sentuh aku! Dasar brengsyek! Aku sangat membencimu!" Dia berteriak padaku lalu berlari masuk ke dalam rumah.
Dug.
Sejenak aku terdiam dan berdiri mematung di tempat. Aku memegangi dadaku yang terasa sangat nyeri dan berdenyut karena mendengar kalimat terakhir yang terlontar langsung dari mulutnya.
Ku pikir hatiku sakit saat dia tadi menolak pertanggung jawaban dariku. Ternyata, mendengar sendiri kalimat kebencian yang keluar dari mulutnya secara langsung nyatanya mampu membuatku lebih sakit hati lagi.
Sepertinya aku sudah membuat kesalahan yang sangat fatal. Caraku untuk memilikinya dengan cara memaksa seperti ini ternyata salah besar. Semua itu gara-gara surat perjanjian itu. Aku berjanji tidak akan pernah menggunakannya lagi. Gara-gara surat perjanjian itu, Rania jadi semakin membenciku.
"Roy, bakar saja surat perjanjian itu. Surat perjanjian sialan."
B e r s a m b u n g ...
...________________________________________...
...Guys, sorry banget ya beberapa hari ini aku slow update dikarenakan aku sibuk banget.. tanggal 25 nanti bakalan ada acara di rumah, terus ada juga beberapa kerabat, tetangga sama sahabat yang nikahan. Mohon dimaklumi ya gessπ...
__ADS_1