RANIAKU, CANDUKU

RANIAKU, CANDUKU
Bab 42


__ADS_3

Aku mengibaskan tanganku pelan mengusir Roy secara halus. Namun, sebelum dia benar-benar keluar dari kamar ini, dia sempat berkata pada wanitaku, "Nona, saya pamit untuk beristirahat. Saya titip Tuan Kaaran, tolong bujuk dia untuk makan."


Setelah Rania mengangguki ucapannya, Roy pun segera keluar kamar. Tidak lupa pula dia menutup pintunya dengan rapat. Karena terlampau senang dengan semua tindakan Roy, rasanya aku ingin menaikkan gaji asistenku itu sekarang juga.


Tapi karena aku sedang membutuhkan belas kasihan wanitaku, aku pun harus terlihat lemah di matanya dan menyembunyikan rasa senang yang saat ini sedang aku rasakan.


Saat ini aku butuh perhatiannya dan butuh dimanja olehnya. Rasanya yang tadi di toilet masih belum cukup untuk mengurai segala kerinduan yang aku rasakan padanya!. Bahkan sampai kapan pun rasanya tidak akan pernah cukup. Aku butuh dia untuk tetap berada di sisiku selamanya.


Wanitaku pun berjalan mendekatiku, lalu meletakkan makanan yang dia bawa di atas meja nakas tepat di samping tempat tidur.


"Mm ... ibu membuat sup ayam dan teh herbal untukmu. Sebaiknya kamu makan selagi hangat," ucapnya. Dia terlihat sangat canggung saat berdekatan denganku.


Aku mendongak menatapnya yang masih berdiri di samping tempat tidur. Aku lalu tersenyum dan berkata, "Aku baru mau makan kalau kamu yang suapi."

__ADS_1


Selagi dia menunjukkan perhatiannya padaku, aku tidak boleh melewatkan kesempatan untuk bermanja-manja dengannya.


Mendengarku berkata seperti itu, dia lalu duduk di pinggir tempat tidur tepat di sampingku, kemudian meraih mangkuk sup yang tadi dia letakkan di atas meja nakas.


"Makanlah," ucapnya seraya mengansurkan sendok berisi sup ke mulutku.


Aku tersenyum senang sambil menatap wajah malu-malunya dengan lekat. Aku bisa menebak, mungkin dia masih malu karena kejadian di dalam toilet beberapa saat yang lalu.


Setelah merasa cukup kenyang, aku pun menangkap pergelangan tangannya. Aku ingin meminta maaf padanya soal kejadian yang tadi sore. Aku benar-benar merasa bersalah karena sudah membuatnya sedih dan tertekan karena surat perjanjian si alan itu.


"Ada apa?" tanyanya, sambil menatap tanganku yang saat ini sedang melingkar di pergelangan tangannya.


"Maaf," ucapku, tapi dia malah terdiam.

__ADS_1


Mungkin dia merasa kebingungan, kenapa aku tiba-tiba saja meminta maaf padanya. Aku sadar, selama ini aku sudah terlalu banyak berbuat salah padanya. Mungkin dia juga bingung, aku meminta maaf soal kesalahanku yang mana.


"Aku minta maaf karena sudah membuatmu menangis tadi sore," ucapku lagi, dan dia masih diam tidak menanggapi.


Ku tatap wajah cantiknya dengan lekat, matanya terlihat sembab. Pasti tadi sore dia menangis cukup lama karena ulahku.


"Seberapa lama kamu menangis? Matamu sampai bengkak begini." Aku kembali berkata sambil mengusap ujung matanya menggunakan kedua tanganku.


Seketika aku menjadi semakin bersemangat. Ada kemajuan. Dia tidak menolak saat aku menyentuhnya dan malah membiarkan aku menyentuh pipinya. Begitu juga saat di toilet tadi, dia juga tidak melakukan perlawanan saat aku memeluk dan menci umnya.


Namun, perasaan itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba saja dia kembali berkata dengan nada ketus padaku, "Bisa tolong lepaskan tanganmu? Dan kalau bisa, cepat habiskan sup ini. Aku ingin kembali beristirahat di kamarku."


B e r s a m b u n g ...

__ADS_1


__ADS_2