
Keesokan paginya.
Pagi-pagi sekali ponselku sudah berdering. Entah siapa yang sudah berani mengganggu waktu istirahatku di jam seperti ini.
Dengan mata yang masih terpejam, aku mulai meraba ponselku yang tadinya aku letakkan di atas meja nakas sebelum tidur.
Setelah aku cek, ternyata aku mendapat kiriman foto dari William, foto wanitaku yang sedang memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit, serta sebuah foto yang memperlihatkan bahwa wanitaku sedang berjalan sendirian di koridor rumah sakit. Dia pergi ke rumah sakit sendirian tanpa temani oleh siapa pun.
"Apa maksudnya ini?" gumamku. Pikiranku masih belum bisa mencerna apa sebenarnya yang terjadi sebab aku terbangun karena dering yang berasal dari ponselku.
Seandainya saat ini informasi yang aku dapat bukan tentang wanitaku, aku pasti sudah marah besar pada orang yang sudah mengganggu tidurku itu. Untung saja informasinya tentang Raniaku.
Saat ini di Jerman masih pukul 4 pagi, sedangkan di sana sudah pukul 9 pagi, selisih waktu 5 jam. Aku mengucek mataku yang terasa masih sangat mengantuk. Lalu mengecek ulang kembali foto itu.
"Apa maksudnya ini? Apa Rania sedang sakit? Tapi kenapa dia pergi ke rumah sakit seorang diri? Apa tidak ada yang bisa menemaninya kalau dia sedang sakit dan ingin memeriksakan diri? Ah, mungkin saja dia ingin menjeguk seseorang yang sedang sakit," gumamku. Begitu banyak pertanyaan yang muncul di otakku, dan seketika pertanyaan-pertanyaan itu membuat aku sangat mengkhawatirkannya.
Karena ingin mengetahui kejelasan informasi itu, aku pun memutuskan untuk menghubungi William detik ini juga. Dengan cepat aku langsung menekan tombol dial pada nomor kontak salah satu orang kepercayaanku tersebut.
__ADS_1
"Halo Will," ucapku, begitu William menjawab panggilan teleponku.
"Halo, Tuan. Saya sangat meminta maaf karena saya sudah mengganggu tidur Anda," ucap William.
"Tidak apa-apa. Selama informasi yang kamu berikan padaku tentang Rania, aku tidak akan marah," ujarku. Sekarang aku sudah bangun dan memperbaiki posisi dudukku.
"Sekarang jelaskan, apa maksud dari foto yang kamu kirimkan itu? Rania kenapa? Kenapa dia pergi ke rumah sakit seorang diri? Apa dia sedang sakit atau ingin menjenguk seseorang?" ucapku, memberondongi William dengan pertanyaan beruntun.
"Begini, Tuan, saat ini anak buah saya masih terus memantau nona Rania. Katanya, nona Rania baru saja masuk ke dalam poli kandungan, Tuan," jawabnya.
"A-apa? Poli kandungan?" tanyaku tidak percaya. Namun sejurus kemudian kedua sudut bibirku mulai terangkat mendengar dua kata itu, 'Poli Kandungan'. Ya, 'Poli Kandungan'. Seperti sebuah kata ajaib yang berhasil moodku meningkat.
"Will, maksud kamu ... maksud kamu Rania hamil?" tanyaku, masih tidak menyangka.
Saat ini aku benar-benar merasa sangat bahagia dan bersemangat. Rasanya detik ini juga aku ingin terbang kembali ke sana untuk memeluk dan melindungi wanitaku. Tapi hal itu sangat tidak mungkin karena siang ini aku akan ada meeting dengan klien penting.
"Saya belum tahu pasti Tuan. Saya juga belum bisa memastikan bahwa saat ini nona Rania benar-benar hamil atau tidak. Sebab, dia sendiri masih belum keluar dari ruang pemeriksaan dokter," ucapnya.
__ADS_1
"Begini saja Tuan, nanti saya akan menghubungi Anda kembali setelah saya mendapatkan informasi yang lebih akurat," tambahnya.
"Oke, aku tunggu informasimu secepatnya."
"Baik, Tuan. Selamat beristirahat kembali."
Setelah memutus sambungan teleponku dengan William, bukannya kembali melanjutkan tidurku, aku malah berjalan mondar-mandir ke sana ke mari.
Aku sangat berharap benihku saat ini sudah benar-benar tumbuh di rahimnya. Dengan begitu, aku bisa memiliki alasan kuat untuk menikahinya dan membuatnya menjadi milikku seutuhnya.
10 Menit kemudian.
"Ck, kenapa William lama sekali sih? Tidak tahukah dia kalau aku sudah tidak sabar menunggu kelanjutan informasi darinya?" gumamku sedikit kesal.
B e r s a m b u n g ...
...__________________________________________...
__ADS_1
...Wkwkwk si Babang yang satu ini gak sabaran banget ya guys🤣ðŸ¤...