RANIAKU, CANDUKU

RANIAKU, CANDUKU
Bab 37


__ADS_3

"A-nda serius Tuan, ingin saya membakar surat perjanjian itu?" tanya Roy.


"Iya, aku serius Roy. Memangnya aku terlihat seperti sedang bercanda?" jawabku, balik bertanya.


"Ti-tidak, Tuan. Saya ... saya minta maaf," ucap Roy sembari menunduk.


Saat ini, aku sudah tidak membutuhkan surat perjanjian itu lagi. Aku tidak akan membuat wanitaku semakin marah dan membenciku hanya gara-gara surat perjanjian si alan itu.


Jika sebelumnya aku selalu menggunakan cara yang terkesan memaksanya dengan dalil pas4l sekian ay4t sekian, sekarang aku tidak akan menggunakan cara seperti itu lagi. Satu-satunya jalanku untuk bisa bersanding dengannya saat ini adalah dengan cara mendekati anggota keluarganya. Setelah itu aku akan mencoba membujuknya agar dia mau menikah denganku, demi anak yang ada di dalam kandungannya.


Dan meski pun tadi Rania sempat menolakku mentah-mentah, akan tetapi aku tetap tidak peduli dan tidak akan pernah menyerah semudah itu. Jangan panggil aku Kaaran Dirga kalau aku gampang menyerah begitu saja sebelum mendapatkan apa yang aku mau. Demi anakku, dan demi diriku sendiri, aku akan memperjuangkan sumber kebahagiaan kami. Dan sumber kebahagiaan kami kelak adalah dia, wanitaku satu-satunya.


.


.

__ADS_1


Singkat cerita, kedatanganku dengan Roy disambut baik oleh calon ibu mertuaku. Rupanya, beliau mengenali siapa aku. Itu pasti karena dulunya beliau adalah istri seorang konglomerat. Di dalam dunia bisnis, siapa sih yang tidak mengenal Kaaran Dirga, pemilik sekaligus pemimpin Galaxy Group, perusahaan terbesar dengan cabang terbanyak di negeri ini.


Aku yakin, setelah nanti aku mengutarakan niat baikku, calon ibu mertuaku pasti tidak mungkin menolakku. Lagi pula, siapa sih yang tidak bangga menjadikan aku sebagai menantunya.


"Ada apa gerangan sehingga bisa membawa Tuan Kaaran menginjakkan kaki di rumah kami?" tanya ibu Dian, ibunya Rania. Beliau pasti sangat terkejut dengan kedatanganku yang tiba-tiba.


Mendengarnya memanggilku dengan sebutan 'Tuan', rasanya aku sedikit tidak enak. Bagaimana bisa calon ibu mertuaku begitu hormat padaku, harusnya 'kan sebaliknya, aku yang harus hormat pada beliau sebagai calon menantunya.


"Jangan panggil saya dengan sebutan 'tuan', Bu. Panggil saja nama saya. Kaaran," ucapku, sambil tersenyum sopan.


Aku tidak menyangka, ternyata menemui calon ibu mertuaku rasanya akan sedeg-degan ini. Rasanya bertemu dengan calon mertua jauh lebih mendebarkan ketimbang bertemu dengan klien yang sangat penting sekali pun. Jika aku diberi pilihan, lebih baik aku gagal teken kontrak kerjasama dengan perusahaan lain ketimbang gagal mengambil hati calon ibu mertuaku.


Mendengar ucapanku barusan, sejenak beliau terlihat sedikit kebingungan, namun sejurus kemudian beliau tertawa.


"Ibu ... Ibu jadi tidak tahu harus berkata apa, Nak Kaaran," ucapnya. Terdengar nada ragu-ragu saat beliau menyebut namaku seperti itu.

__ADS_1


"Begini, Bu, kedatangan saya kemari ... karena saya ingin-"


"Tuan Baik!"


Seketika suara seseorang membuat ucapanku terpotong. Aku dan Roy pun langsung menoleh. Seorang gadis remaja berusia kira-kira 12 tahun ke atas sedang berdiri tidak jauh dari kami. Gadis itu menatap Roy dengan tersenyum. Sepertinya yang dia maksud dengan 'Tuan Baik' adalah Roy.


"Bu, ini loh Bu orang yang Rina maksud dengan 'Tuan Baik' waktu itu. Dia yang sudah membantu kita saat ibu masuk di rumah sakit."


"Oh, ya? Bagaimana bisa?" Calon ibu mertuaku terlihat sangat kebingungan, beliau menatapku dengan putri bungsunya secara bergantian. Beliau pasti heran, kenapa orang seperti aku bisa membantu keluarga mereka disaat keluarga mereka dilanda kesusahan.


"Begini Bu, mungkin saya harus menjelaskan sesuatu agar Ibu tidak kebingungan," ucapku. Sejenak aku menjeda ucapanku sebelum melanjutkan kembali.


"Sebenarnya ... saya dan Rania sedang menjalin hubungan Bu," ucapku kemudian.


B e r s a m b u n g ...

__ADS_1


__ADS_2