
Dengan bibirnya yang terus-terusan mengerucut, aku menggendongnya keluar dari kamar mandi. Aku tahu, saat ini dia pasti merasa tidak nyaman saat berjalan, maka dari itu aku memutuskan untuk menggendongnya.
"Tidak usah memasang wajah seperti itu. Aku tahu kamu juga sangat menikmatinya tadi," ucapku, dan seketika dia langsung memukuli dadaku menggunakan tangannya. Saat ini wajahnya sudah merona menahan malu. Aku yang melihat wajah menggemaskannya itu pun tertawa.
Setelah keluar dari kamar mandi, aku lalu mendudukkannya dengan pelan di atas tempat tidur. Setelah itu aku memberikan sebuah kotak berisi pakaian ganti untuknya.
Saat kami tadi masih berada di dalam kamar mandi, aku menyuruh bi Nining untuk membawakan pakaian gantinya ke kamarku.
"Ini baju ganti untukmu. Katakan padaku jika kamu membutuhkan bantuanku untuk membantumu memakaikannya," ucapku, dan dia langsung menatapku dengan tajam.
"Dasar laki-laki mesyum," gumamnya tapi aku masih bisa mendengarnya.
Dengan gerakan cepat, dia langsung menyambar kotak itu seraya berkata, "Tidak, terima kasih. Saya tidak butuh bantuan Anda, Tuan." Kata-katanya terdengar penuh penekanan.
Saat dia bangkit dan mulai melangkahkan kakinya, dia langsung meringis kesakitan sambil menggigit sudut bibirnya. Pasti sekarang dia merasa sangat kesakitan di area pa*gkal pa*anya, tapi karena sifat keras kepalanya itu, dia bahkan tidak mau menerima tawaran bantuanku untuk membantu menggendongnya kembali masuk ke kamar mandi.
"Tidak usah, terima kasih. Saya hanya tidak ingin dituduh menggoda lagi untuk yang kedua kalinya," katanya, lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi dengan langkah terseok-seok.
Bukannya marah karena melihat sikapnya yang seperti ingin melawanku, aku justru malah tertawa melihatnya. Entah mengapa setiap tingkahnya terlihat lucu dan menggemaskan di mataku.
*
__ADS_1
Setelah dia berganti pakaian, kini dia sedang duduk di pinggir tempat tidur.
"Sekarang, kamu ingin cepat keluar dari sini, 'kan?" Aku bertanya sambil berjalan menghampirinya.
Saat ini di tanganku sudah ada berkas yang berisi surat perjanjian yang akan aku gunakan untuk mengikatnya.
"Iya, Tuan. Saya ... saya sangat ingin keluar secepatnya dari sini," jawabnya.
"Baguslah. Kalau begitu, cepat tanda tangani surat perjanjian ini," ucapku, lalu meletakkan surat perjanjian setebal 3 senti itu beserta pulpen di pangkuannya.
Melihat dari tebalnya lembar kertas yang ada di dalam map itu, semoga saja dia tidak berniat untuk membaca isinya. Karena kalau sampai dia membacanya sedikit pun, aku yakin, usahaku untuk memilikinya pasti akan sia-sia.
"Surat perjanjian apa ini, Tuan? Sebelumnya saya tidak tahu kalau ternyata ada surat perjanjian seperti ini," tanyanya. Dia menatapku dengan kebingungan.
Sebelum menjawab pertanyaannya, aku tersenyum smirk. "Baca saja sendiri. Aku baru akan setuju memberikan bayaranmu setelah kamu menandatangani surat perjanjian itu."
Syarat yang bagus, dan tentunya hanya akan menguntungkanku seorang. Tapi meski pun begitu, sebenarnya di dalam hati aku sudah deg-degan sendiri. Bagaimana kalau dia benar-benar membaca isi surat perjanjian itu? Gagal sudah rencanaku untuk menjebaknya.
Ketika dia mulai membuka surat perjanjian itu, jantungku semakin berdetak cepat. Dari luar gesturku menampakkan gaya sok keren, tapi sebenarnya di dalam hatiku, aku sudah membeku. Sampai-sampai aku menahan napas agar jantungku berhenti berdetak dengan cepat.
Jangan dibaca, jangan dibaca, jangan dibaca.
__ADS_1
Kalimat itulah yang terus-terusan aku ucapkan secara berulang-ulang di dalam batinku. Sampai-sampai aku memejamkan mataku karena tidak berani melihatnya. Karena kalau sampai dia membaca isinya, aku yakin, dia pasti akan langsung melemparkan surat perjanjian itu tepat ke wajahku.
Aku tahu persis betapa pemberani dan keras kepalanya gadis ini. Dia sama sekali tidak takut padaku, dan merupakan satu-satunya orang yang berani membantah dan berkata tidak pada perintahku.
"Sudah, Tuan."
Dua kata yang keluar dari mulutnya itu seketika membuat aku bernapas lega, dan seketika aku langsung membuka mataku. Akhirnya gadis ini berhasil masuk ke dalam perangkapku juga.
Setelah menandatanganinya, ku lihat dia meletakkan surat perjanjian itu di atas meja tepat di hadapanku.
"Kamu yakin menandatangani surat perjanjian ini tanpa membacanya terlebih dahulu?" tanyaku padanya, dan dia langsung menjawabnya dengan anggukan.
Kena kamu. Pikirku.
"Baiklah. Kalau begitu, kamu bisa pergi sekarang. Mengenai bayaranmu, asisten Roy sudah mengurusnya. Kalian akan bertemu di bawah," jelasku.
"Baik, Tuan. Terima kasih," ucapnya, sebelum akhirnya dia keluar dari tempat ini.
Begitu pintu lift tertutup, aku langsung melompat kegirangan. "Yes!"
Sudah lama aku tidak pernah merasa sebahagia ini. Rasanya seperti ... aku menemukan kembali separuh nyawaku yang telah hilang sejak lama, yaitu dirinya, Rania Blanco.
__ADS_1
B e r s a m b u n g ...