
Saat istriku tengah bersiap-siap, tiba-tiba saja aku mendapat panggilan telepon dari seseorang. Seseorang yang sejak dulu, semenjak aku masih kecil, dia tidak pernah akur denganku. Namanya Johan, dia adalah kakak angkatku. Anak angkat tertua dari lima anak angkat dad Robinson.
Dad Robin merupakan ketua dari klan mafia Elang Merah. Klan mafia yang sedari dulu paling berkuasa di negeri ini.
Dulu, saat kedua orang tuaku meninggal dalam musibah kebakaran, dad Robin mengadopsiku dan mengangkatku menjadi anak keduanya setelah si Johan. Saat itu Johan sudah berusia 15 tahun, sedangkan aku baru berusia 6 tahun.
"Sayang, aku tunggu kamu di bawah, ya?" ucapku, lalu kemudian turun ke lantai bawah melalui lift. Begitu aku masuk ke dalam ruang kerjaku, aku pun segera menjawab panggilan telepon dari si Johan.
"Halo." Aku menjawab panggilannya itu dengan malas. Apa lagi maunya kakak angkat tidak tahu diri ini?
"Halo ...! Selamat malam, Dik!" Dari nada bicaranya dia terdengar sangat bersemangat. Namun, terkesan mengintimidasi.
"Ada apa?" tanyaku, dengan nada datar.
Jujur saja, aku malas meladeninya, tapi jika aku terus-terusan mengabaikan panggilannya, dia tidak akan segan-segan datang ke kantor pusat Galaxy Group untuk menemuiku, atau kemungkinan paling terburuknya adalah, dia akan datang ke villa untuk menemuiku.
Jika dia sampai datang ke villa dan mengetahui bahwa aku menyembunyikan seorang wanita di dalam sini, dia pasti akan melakukan segala cara untuk menjadikan wanitaku sebagai sandera dan menjadikannya sebagai alat untuk mengancamku, agar dia bisa mendapatkan apa yang dia mau. Apalagi jika dia sampai mengetahui bahwa ternyata wanita yang aku sembunyikan itu adalah istriku, wanita yang sangat aku cintai dengan segenap jiwa dan ragaku.
__ADS_1
"Seperti biasa, Kakakmu ini tidak suka berbasa-basi, Dik. Kamu pasti sudah tahu apa tujuanku menghubungimu," jawabnya.
"Kakak Pertama, sebaiknya kubur dalam-dalam permintaanmu itu, karena sampai kapan pun, aku tidak akan pernah mengabulkannya." Dengan emosi aku langsung memutus sambungan telepon dengannya.
"Kamu sedang bicara dengan siapa?"
Dug.
Suara pertanyaan istriku tiba-tiba saja mengejutkanku. Spontan aku berbalik dan melihat ke arahnya.
Semoga saja tadi istriku tidak menguping pembicaraanku dengan Johan. Aku tidak ingin istriku menaruh curiga padaku.
"Ya, aku sudah siap," jawabnya. "Tadi kamu berbicara dengan siapa di telepon?" tanyanya lagi.
"Oh, itu, bukan siapa-siapa, Sayang. Hanya teman biasa," jawabku. Aku memaksakan diri untuk tersenyum.
"Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang Sayang, Roy sudah menunggu kita dari tadi," tambahku, mengalihkan topik pembicaraan.
__ADS_1
.
.
Setelah melalui perjalanan selama setengah jam lamanya, kami pun akhirnya sampai di tempat tujuan.
"Ayo kita turun, Sayang. Nanti kamu jangan sampai jauh-jauh dariku, karena aku tidak suka jika istriku didekati apalagi sampai digoda oleh pria lain," ucapku.
Melihat betapa cantiknya istriku malam ini, hal semacam itu mungkin saja bisa terjadi.
Setelah turun dari mobil, kami pun segera masuk ke dalam hotel tempat acara diselenggarakan, sambil bergandengan tangan dengan mesra layaknya pasangan. Dan begitu memasuki ballroom hotel, nampak ruangan besar dan luas itu sudah dipenuhi oleh para tamu undangan lain.
Kedatangan kami tentunya menyita perhatian banyak orang. Hampir semua pasang mata melihat ke arah kami, dan disaat yang sama, aku merasakan istriku mulai gugup. Mungkin ini pertama kalinya dia menghadiri acara seperti ini.
"Jangan pedulikan mereka, santai saja," bisikku, dan langsung dijawab anggukan olehnya.
B e r s a m b u n g ...
__ADS_1