
"Memulai hidup baru di pulau kecil?" ucapku, sambil menatap Roy penuh tanya.
"Iya, Tuan. Menurut saya, itu bukanlah ide yang buruk. Bukankah beberapa tahun yang lalu Anda pernah membeli sebuah pulau di sebelah barat pantai AB. Waktu itu Anda membeli pulau itu karena Anda ingin membangun sebuah resort di sana dan menjadikan pulau itu sebagai objek wisata, tapi sayangnya rencana itu masih Anda tunda hingga sekarang."
"Ah, iya. Kamu benar, Roy. Kenapa aku tidak pernah kepikiran akan hal itu, ya?" ucapku.
"Jika Anda memang berniat untuk memulai kehidupan baru di pulau bersama nona Rania dan anak-anak Tuan nantinya, tidak ada salahnya jika Anda mulai merencanakan pembangunan sesegera mungkin. Bukankah rancangan pembangunannya memang sudah ada, hanya tinggal pengerjaannya saja."
"Iya Roy, kamu benar. Sepertinya semakin cepat semakin baik."
"Dan satu lagi, Tuan, jika nantinya Anda beserta keluarga kecil Anda ingin memulai hidup baru di pulau, penjagaan di sana harus benar-benar diperketat, jangan sampai ada penyusup apalagi musuh yang menginjakkan kakinya di sana."
"Semua yang kamu ucapkan benar Roy. Lalu, apa menurutmu rencanaku untuk meninggalkan klan Mawar Biru merupakan keputusan yang tepat?" tanyaku lagi.
Roy nampak terkejut. Dia orang pertama yang aku beritahu mengenai hal itu. "Ma-maaf, Tuan, kalau masalah itu ... saya belum bisa berkomentar banyak, tapi kalau Anda memutuskan untuk meninggalkan klan kita, lalu siapa nantinya yang akan menjadi pemimpin kami, Tuan? Saya pribadi tidak ingin Mawar Biru jatuh di tangan orang yang salah, terutamanya jika posisi Anda sampai digantikan oleh tuan Johan."
__ADS_1
Aku terdiam mendengar ucapan Roy. Sepertinya keputusanku untuk meninggalkan Mawar Biru bukan perkara hal yang sepele.
"Tuan, saya hanya bisa menyarankan, sebaiknya Anda membicarakan hal ini terlebih dahulu pada tuan Robin sebelum Anda mengambil kesimpulan."
Aku mengangguki ucapan asisten handalku tersebut. "Hem. Siang ini setelah pekerjaanmu selesai, antar aku ke kediaman dad Robin."
"Baik, Tuan."
"Kalau begitu, kamu boleh melanjutkan kembali pekerjaanmu."
.
.
Kediaman Dad Robin.
__ADS_1
"Tumben kamu datang kemari untuk menemui Daddy, Kaaran. Daddy pikir kamu sangat sibuk sehingga sudah tidak punya waktu lagi untuk menginjakkan kaki di tempat ini." Dad Robin berkata setelah dia mengeluarkan kepulan asap cerutu melalui mulutnya.
Tadi pagi, saat aku sudah memiliki rencana untuk menemui ayah angkatku tersebut, terlebih dahulu aku memang sudah menghubungi asistennya, lalu membuat janji temu dengan beliau.
"Dad, aku datang kemari karena aku ingin membicarakan hal yang sangat penting. Aku ingin meminta pendapat Daddy tentang suatu hal," ungkapku.
"Apa itu?" tanyanya lagi, lalu kembali menghisap cerutu yang dia jepit menggunakan jari tengah dan jari telunjuknya.
"Aku ... aku ingin meminta pendapat Daddy, bagaimana jika misalnya aku berhenti menjadi seorang mafia?"
B e r s a m b u n g ...
...___________________________________________...
Bersyukur banget hari ini bisa up 1 bab, itu pun nulisnya buru-buru karena nyuri-nyuri waktu. Maaf ya kalau feel nya gak dapat, soalnya udah gak sempat periksa ulang sebelum di upload🙏
__ADS_1