
Sudah sekitar 10 menit lamanya Rania pamit untuk pergi ke toilet. Namun hingga saat ini dia belum juga kembali. Saat Kaaran masih asyik berbicara dengan Zidan, tiba-tiba saja salah seorang tamu yang merupakan kenalan Kaaran datang menghampiri mereka berdua.
"Selamat malam, Tuan Kaaran," sapa seorang pria berusia sekitar 40 tahunan yang lengkap dengan setelan jas hitam mewah.
"Oh, halo. Malam juga, Tuan Ashok," kata Kaaran. "Bagaimana kabar Anda? Kita sudah sangat lama tidak bertemu. Terakhir kali saat pesta perayaan ulang tahun tuan Andrew," kata Kaaran kemudian, sambil berjabat tangan dengan kenalannya tersebut.
"Ya, ya. Betul betul. Waktu itu sekitar 1 setengah tahun yang lalu," jawab tuan Ashok.
Saat Kaaran beralih dari Zidan ke pria yang bernama tuan Ashok tersebut, disaat itu lah Zidan berpamitan pada Kaaran. "Oh iya, Tuan Kaaran. Saya permisi untuk menyapa tamu lain. Selamat menikmati pestanya bersama Tuan Ashok."
"Terima kasih," kata Kaaran dan tuan Ashok bersamaan.
Setelah meninggalkan Kaaran, Zidan mulai menyapa para tamunya yang lain. Anehnya, dia menyapa para tamunya mulai dari tengah pesta hingga semakin lama dia semakin mendekat ke arah pintu. Dan tidak berselang lama kemudian, diam-diam Zidan meninggalkan pestanya sendiri. Kaaran yang sedari tadi diam-diam memperhatikan gerak-geriknya hanya menyunggingkan senyuman miring saat melihat Zidan pergi dari sana.
__ADS_1
Kena kau, Zidan.
Tanpa menunggu waktu lama, Kaaran juga segera beranjak keluar meninggalkan pesta. Roy dan 2 orang pengawal berpakaian serba hitam sudah menunggunya di luar sana.
"Apa kalian melihat kemana Rania pergi?" tanya Kaaran.
"Nona Rania pergi ke arah sana, Tuan, tepatnya di toilet," jawab salah satu pengawal yang berdiri di belakang Roy. Sedari tadi dia memang ditugaskan untuk mengawasi istri tuannya.
"Sama, Tuan. Baru saja tuan Zidan Abraham diam-diam menyusul nona Rania masuk ke dalam toilet yang sama.
Kaaran tersenyum miring, lalu mulai mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam saku jasnya. Sebuah kotak persegi berwarna hitam berisi sebuah headset berwarna putih yang langsung dia pasang di sebelah telinganya. Ternyata, tanpa diketahui oleh siapa pun, Kaaran sudah menyelipkan alat perekam suara pada gaun malam mewah dan seksye yang sengaja dia siapkan untuk istrinya.
Kaaran sengaja memilih gaun malam dengan belahan dada rendah dan belahan kaki yang tinggi hingga tengah paha bukan tanpa maksud dan tujuan, melainkan karena Kaaran ingin membuat Zidan tergoda dengan body seksye dan mulus milik istrinya. Kaaran tahu jika istrinya bisa menjaga diri dengan baik, jadi dia berani melakukan hal tersebut. Dia juga tahu jika istrinya sangat tidak menyukai Zidan, jadi Kaaran ingin memberikan istrinya hiburan dengan menghajar pria kurang ajar seperti si Zidan penipu itu.
__ADS_1
Kaaran mulai menekan sebuah tombol merah yang terdapat pada sebuah alat kecil berwarna hitam berbentuk persegi panjang yang dia ambil dari dalam kotak headset tadi, tidak sampai satu detik, dia sudah mendengar suara istrinya di sana.
"Mau apa kamu, Zidan? Jangan macam-macam padaku!" teriak Rania. Kaaran tersenyum saat mendengar suara istrinya mengancam Zidan. Sepertinya rencananya untuk menjebak Zidan berjalan dengan mulus.
"Sst ... jangan ribut, Nia. Nanti ada yang curiga pada kita."
"Jangan mendekat! Jangan berani macam-macam padaku!" teriak Rania lagi.
"Nia, apa kamu tidak merindukanku? Kita sudah lama tidak pernah bertemu. 3 Tahun bukanlah waktu yang sebentar, Nia," kata Zidan lagi. "Mumpung sekarang hanya ada kita berdua di sini, kamu boleh melepas rindu sepuasnya denganku." Semakin lama suara Zidan semakin terdengar jelas, itu artinya, pria kurang dihajar itu semakin mendekat pada Rania.
"Ayo kita ke sana sekarang," titah Kaaran pada ketiga anak buahnya.
B e r s a m b u n g ...
__ADS_1