RANIAKU, CANDUKU

RANIAKU, CANDUKU
Bab 118


__ADS_3

Sambil berjalan menuju toilet tempat Rania dan Zidan berada, Kaaran terus mendengarkan percakapan istrinya melalui headset dengan laki-laki kurang ajar itu.


"Nia, aku tahu kamu hanya mencintaiku seorang, tidak ada yang lain. Kamu bersama dengan tuan Kaaran karena kamu hanya mengincar hartanya saja. Iya, 'kan?" kata Zidan. Dia terus menyerocos panjang lebar tanpa disahuti oleh Rania.


"Tuan, apakah Anda ingin masuk sekarang?" tanya Roy begitu mereka berempat sudah sampai di depan pintu toilet wanita.


"Nanti saja, Roy. Kita berdiri dulu di sini untuk sementara waktu sambil menunggu waktu yang tepat tiba," jawab Kaaran.


"Nia, kenapa kamu diam saja? Cepat peluk aku, Nia. Aku juga sangat merindukanmu," kata Zidan.


"Jangan mimpi!" teriak Rania.


"Nia, aku tahu kamu masih marah padaku. Yang kamu dengar waktu itu hanya salah paham, aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu, Nia. Waktu itu kamu hanya mendengar sebagian kalimat yang aku ucapkan, kamu tidak mendengarkannya secara keseluruhan, jadi kamu masih salah paham hingga sekarang." Yang Zidan maksud disini adalah ucapannya yang membuat kedekatannya dengan Rania waktu itu berakhir hingga sekarang. Waktu itu Rania marah karena dia secara tidak sengaja menguping pembicaraan Zidan dengan temannya yang mengatakan bahwa dia mendekati Rania karena dia hanya ingin memanfaatkan gadis itu untuk mendapatkan suntikan dana di perusahaan yang baru dia dirikan waktu itu.


"Aku tidak peduli! Cepat minggir! Atau kalau tidak, aku akan menghajarmu!"

__ADS_1


"Hahaha. Nia ... Nia. Memangnya kamu mau menghajarku pakai apa? Pakai tinjumu yang lemah itu, hah? Atau ... pakai high heels seperti wanita kebanyakan?"


Cih, dasar laki-laki bodoh. Berani sekali dia memandang remeh dan memanas-manasi istriku. Belum tahu dia rupanya. Tunggu dan lihat saja nanti, dia akan menghajarmu pakai apa. Batin Kaaran, sambil tersenyum miring.


"Baik, akhirnya malam ini kita diberi kesempatan untuk bertemu berdua saja di tempat sepi seperti ini. Ku akui bahwa aku sangat bahagia karenanya," kata Rania. Nada bicaranya sudah kembali normal, tidak lagi berteriak-teriak seperti tadi. "Karena ini merupakan kesempatan bagus dan langka untuk kita berdua, maka aku ingin kamu mencicipi sesuatu dariku."


"Nia, kamu sudah banyak berubah. Dulu kamu sangat polos, berpegangan tangan saja kamu tidak mau. Sekarang kamu sudah berubah menjadi wanita dewasa yang seksye dan hot, aku sudah tidak sabar ingin mencicipimu, Nia."


Mencicipi apa, brengsyek? Jangan pernah bermimpi untuk menyentuh istriku. Kamu tidak tahu kalau ternyata yang akan kamu cicipi hanyalah kepalan tinju dan tendangannya saja. Batin Kaaran.


"Kemarilah."


"Jangan terburu-buru, Zidan. Sebelum kita bermain, terlebih dahulu aku harus memeriksa, lebih perk*asa mana, kamu, atau suamiku?"


"Ah? Ap-apa maksud-"

__ADS_1


"Maksudku ini."


Bug.


Bug.


Bug.


"Argh! Auwh ...!"


Bruk!


"RANIA!!! Awas kamu- akh!"


Rasakan itu, brengsyek. Masih berani kamu meremehkan istriku? Sekarang kamu sudah mencicipi pukulannya, 'kan? Batin Kaaran sambil tersenyum miring.

__ADS_1


Selamat bersenang-senang, sayang. Memang ini tujuanku mengajakmu kemari. Hajar dia sampai kamu puas. Setelah itu serahkan sisanya padaku, aku yang akan membuatnya menyesal seumur hidup karena sudah berani bermain-main dengan kita.


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2