
Setelah ketiga pengawal tadi pergi, Kaaran pun lalu memutar badan menghadap ke arah Roy dan William. "Mungkin kalian berdua juga sudah bisa menebak, siapa dalang di balik masalah ini." Kaaran menatap Roy dan William secara bergantian. "Aku hanya ingin meminta agar kalian berdua melakukan yang terbaik semampu kalian untuk menjaga keluargaku agar terhindar dari bahaya dan niat jahat musuh. Apalagi kalian berdua tahu jelas bahwa resepsi pernikahanku tinggal beberapa hari lagi. Aku ingin kalian berdua semakin memperketat penjagaan di hotel dan villa. Terutamanya kamu, Will, kerahkan seluruh anak buahmu untuk berjaga secepat mungkin."
"Baik, Tuan," jawab William dan Roy secara bersamaan.
"Anda tidak perlu khawatir, kami pasti akan berusaha melakukan yang terbaik," tambah William.
"Hem. Kalau begitu kalian sudah boleh pergi sekarang," kata Kaaran. "Sekali lagi aku ingatkan, lakukan yang terbaik. Jangan sampai kalian melakukan kesalahan sekecil apa pun," tambah Kaaran memperingati.
"Baik, Tuan. Kami mengerti." Roy dan William menjawab secara bersamaan.
"Kalau begitu kami permisi dulu, Tuan," ucap Roy dan mendapat anggukan dari Kaaran.
Setelah dua orang kepercayaannya itu pergi meninggalkan dirinya sendirian di sana, Kaaran lalu mendudukkan pantatnya di salah satu kursi yang memang sudah tersedia di sana.
__ADS_1
"Sepertinya semua rahasia yang aku tutup-tutupi selama ini dari istriku akan segera terbongkar," gumam Kaaran, lalu mendengus kasar. "Aku hanya bisa berharap, semoga istriku tidak marah dan membenciku setelah dia tahu semuanya."
.
.
Keesokan harinya
"Tenang saja, aku sendiri yang akan pergi ke bandara untuk menjemputmu," ucap Kaaran. Dia berbicara dengan seseorang melalui telepon sambil memakai topi, jaket, lalu mengambil kunci mobilnya.
"Hais, kamu ini. Kenapa kamu begitu tidak bisa mempercayaiku, hah? Apakah Kaaran Dirga di mata seorang dokter Raymond begitu tidak bisa dipercaya," protes Kaaran.
"Tidak, maksudku bukan seperti itu kawan. Sebaiknya kita tidak usah berdebat, sekarang jemput aku dalam waktu 10 menit jika kamu memang benar-benar ingin datang menjemputku, oke?" kata dokter Raymond.
__ADS_1
"Oke. Kalian tunggu saja di sana dan jangan kemana-mana. Aku pasti akan datang untuk menjemput kalian berdua." Setelah menutup sambungan teleponnya dengan dokter Raymond, Kaaran pun berjalan dengan cepat setengah berlari menuju mobilnya. Tadi sebelum dia berangkat, dia sudah memberitahukan hal itu pada Rania, bahkan dia juga sempat berpamitan pada kedua anak kembarnya.
Kurang dari 10 menit kemudian, mobil Kaaran akhirnya sampai di bandara.
Tin! Kaaran membunyikan klakson mobilnya begitu mobil sport berwarna hitam yang dia kendarai berhenti tidak jauh di depan dokter Raymond dan Audrey berdiri.
"Masuk!" teriak Kaaran. Setelah dokter Raymond dan istrinya masuk ke dalam mobil, Kaaran kembali melajukan mobilnya meninggalkan lokasi bandara.
"Aku merasa sangat senang karena kalian berdua mau menyempatkan waktu untuk datang jauh-jauh kemari untuk menghadiri resepsi pernikahanku dengan Rania, jadi sebagai penghormatan untuk menyambut kedatangan kalian berdua, aku sendiri yang datang menjemput kalian tanpa ditemani oleh sopir dan pengawal."
"Ya, ya, ya. Kami benar-benar merasa sangat tersentuh, Tuan Kaaran Dirga. Kapan lagi kami mendapatkan pelayanan spesial seperti ini?" Dokter Raymond dan istrinya lalu tertawa. "Jadi Pak Sopir, Anda ingin membawa kami ke mana?" tanya dokter Raymond kemudian.
"Tentu saja ke Hotel Galaxy, Tuan dan Nyonya Raymond," jawab Kaaran. Dia berlagak seolah-olah dia adalah sopir sungguhan.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 20 menit, mobil yang Kaaran kemudikan pun akhirnya berhenti di teras hotel Galaxy. Terlihat beberapa orang berpakaian formal dan rapi berdiri menyambut kedatangan mereka di depan pintu masuk hotel tersebut.
"Kalian berdua masuklah, manajer hotel ini sudah menyiapkan kamar untuk kalian berdua," kata Kaaran. "Selamat beristirahat."