
Beberapa saat kemudian, mobil pun akhirnya terparkir di sebuah ruang basemen apartemen kawasan elit di kota tempat tinggal wanitaku.
Setelah turun dari mobil, aku langsung merangkul pinggangnya menuju lift. Meski pun dia terlihat sangat tidak nyaman dengan perlakuanku, akan tetapi aku tidak peduli. Mulai sekarang dia harus terbiasa dengan semua perlakuanku yang seperti ini.
Sesampainya kami di unit apartemen milikku.
"Duduklah." Aku berkata seraya melepaskan rangkulan tanganku yang sedari tadi melingkar di pinggangnya.
Begitu dia duduk, aku pun lalu ikut duduk di sampingnya. Dia terlihat sangat risih saat aku selalu menempel padanya. Meski pun begitu, aku tetap tidak akan peduli. Mulai sekarang, aku akan selalu menempel padanya karena aku sangat merindukannya.
Seandainya aku tidak takut dia akan marah dan melawan, sehingga berakibat membahayakan janin yang ada di dalam kandungannya, rasanya aku ingin melakukan hal lebih dari ini, lebih dari sekedar hanya menempel saja. Aku ingin memeluknya erat-erat untuk melepaskan semua kerinduan yang selama ini sudah membuncah. Mencium perutnya yang masih rata dimana benih timunku sudah mulai tumbuh di dalam sana.
"Roy, di mana dia sekarang?" Aku menanyakan keberadaan dokter Santi pada asistenku tersebut.
"Dia sudah ada di bawah Tuan, sebentar lagi sampai," jawab Roy.
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa saat, bel unit pun akhirny berbunyi, pertanda orang yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Roy pun segera membukakan pintu untuknya.
"Maaf Tuan, saya datang terlambat," ucap dokter Santi.
"Tidak apa-apa. Kami juga baru saja sampai," jawabku.
"Kalau begitu, bisa saya periksa sekarang Tuan?" tanya dokter berusia empat puluhan tersebut.
"Oh, tentu saja Bu Dokter. Lebih cepat lebih baik," jawabku. Aku memang sudah tidak sabar ingin mengetahui bagaimana keadaan calon anakku.
Aku pun lalu beralih pada wanitaku. "Ayo." Aku berkata seraya menarik pergelangan tangannya agar dia ikut berdiri bersamaku.
Yang ada di dalam pikirannya sekarang, dia pasti berpikir bahwa aku belum mengetahui apa pun. Nyatanya dugaannya itu salah besar.
"Ayo kita pergi ke kamar, kamu harus segera diperiksa oleh Dokter Santi," jawabku.
__ADS_1
"Loh, kenapa aku harus diperiksa? Aku baik-baik saja, aku tidak sakit," protesnya.
Memangnya siapa bilang kamu sakit? Aku memanggil dokter Santi kemari hanya untuk memastikan bahwa anak kita yang saat ini berada di dalam kandunganmu keadaannya baik-baik saja. Batinku.
"Kamu ini benar-benar keras kepala, ya?" Karena tidak punya pilihan lain, aku pun segera menggendongnya ala bridal masuk ke dalam kamar.
"Hey, turunkan aku! Kamu mau apa?! Aku tidak mau diperiksa! Aku tidak sakit! Aku sehat!" teriaknya sambil berusaha memberontak, tapi aku tidak peduli. Aku akan tetap membawanya masuk ke dalam sana.
"Diamlah," ucapku.
"Lepaskan! Turunkan aku!" teriaknya.
Dasar keras kepala. Bisa tidak dia bersikap manis dan menuruti apa yang aku katakan tanpa perlu membantah apalagi memberontak? Sepertinya surat perjanjian itu belum juga cukup untuk membuatnya menjadi gadis manis yang penurut.
B e r s a m b u n g ...
__ADS_1
...___________________________________________...
...Guys, abis lebaran aku masih sibuk ya (ziarah kubur dan berkunjung ke rumah sanak family). Jadi belum bisa crazy up di sini. Crazy up nya cuma bisa di novel sebelah (One Night Love Devil) yang otw tamat. Di sana hari ini up 3 bab. Jadwal up nya pukul 00.00, pukul 06.00, dan terakhir pukul 12.00. Yang belum mampir ke sana, kuy mampir😉...