RANIAKU, CANDUKU

RANIAKU, CANDUKU
Bab 74


__ADS_3

Aku dan Morgan kembali mengejar pria yang kami pikir adalah Master Li tersebut. Untungnya hutan di gunung ini tergolong hutan yang bersih dan tidak banyak semak belukar, jadi hal itu cukup memudahkan kami untuk mengikuti jejak pria itu.


"Senior Li! Senior Li!" teriak Morgan saat orang yang kami kejar itu hanya berjarak kurang dari 10 meter di depan kami.


Setelah cukup lama melakukan aksi kejar-kejaran, pria yang kami kejar itu pun akhirnya bisa berhasil kami tangkap.


"Hosh, hosh. Lepaskan aku! Lepaskan!" teriaknya. Dia masih bisa berusaha untuk memberontak meski pun napasnya sudah ngos-ngosan.


"Senior Li, tenanglah. Hosh hosh. Ini aku, Morgan," kata Morgan, dengan napas yang terengah-engah pula.


Morgan lalu menurunkan topi sweater yang menutupi kepala pria itu, sehingga menampakkan sesosok pria yang terlihat sangat tidak terurus. Rambutnya ikal dan panjang, kumisnya tebal, serta jenggotnya yang terlihat sudah sangat panjang hingga sebatas dadanya.


Apakah pria ini tidak pernah bercermin? Apakah dia tidak pernah melihat betapa menyeramkan penampilannya itu? Ah, sudahlah. Tidak usah mempedulikan penampilannya. Yang jelas, satu-satunya hal yang harus aku dan Morgan lakukan saat ini adalah, membawa pria ini kembali ke Galaxy Group. Soal penampilannya, bisa dibenahi setelah semua urusan dibereskan.

__ADS_1


"Morgan, Morgan, juniorku yang baik hati. Tolong lepaskan aku." Entah ada apa dengan pria itu. Dia terlihat sangat ketakutan. Padahal kami tidak ada niatan sama sekali untuk menyakitinya.


Aku dan Morgan sama-sama terdiam. Kami sama-sama sibuk mengatur napas kami masing-masing.


"Senior Li. Kami membutuhkan bantuanmu. Tolong bantu kami." Morgan kemudian berkata saat kami sama-sama sudah bisa mengatur napas kami masing-masing dengan baik.


"Aku tidak mau! Pergilah! Jangan ganggu kehidupanku! Aku sudah tenang dengan kehidupanku yang sekarang! Jadi jangan lagi ada yang mengusiknya!" teriak pria bernama Master Li tersebut.


Tidak tahu kenapa aku melihat perilaku pria ini sangatlah aneh. Apa mungkin traumanya masih belum sembuh hingga sekarang?


"Morgan, tolong lepaskan aku, Morgan. Aku tidak mau lagi berurusan dengan kawanan Black Mamba. Mereka bisa saja menyiksaku lalu membunuhku sama seperti yang mereka lakukan pada semua anggota keluargaku. Tolong jangan biarkan aku mati di tangan mereka.


Mendengar Master Li menyebut klan mafia milik Johan, aku dan Morgan sejenak saling tatap. Sepertinya Master Li ini sangat ketakutan pada kawanan mafia itu.

__ADS_1


Sebenarnya aku bisa paham kenapa Master Li ini sangat takut pada kawanan mafia Black Mamba. Sama seperti namanya, kawanan mafia yang satu itu memang terkenal sangat kejam dan sa*dis. Mereka tidak akan segan-segan menghabisi nyawa orang dengan cara yang sangat mengenaskan.


"Morgan, lepaskan dia," titahku pada Morgan. Sepertinya aku punya cara yang ampuh untuk membuat pria itu mau ikut pada kami dengan sukarela.


"Tapi, Tuan."


"Lepaskan saja. Tidak apa-apa," ucapku.


Morgan mulai mengikuti perintahku. Namun, dia terlihat sangat ragu. Aku yakin, dia pasti takut seniornya itu akan berusaha kabur lagi dan membuat kami kewalahan untuk menangkapnya kembali, tapi aku sangat yakin bahwa hal itu tidak akan terjadi lagi.


"Master Li, perkenalkan, namaku Kaaran Dirga," ucapku, sembari mengulurkan tanganku untuk berkenalan dengannya.


"Aku tahu siapa kamu," ucapnya, tanpa membalas uluran tanganku. "Aku yakin, pasti kamu yang membutuhkan bantuanku. Maaf, aku tidak bisa," tambahnya, seraya membuang muka ke arah samping, seperti enggan untuk melihat ke arahku.

__ADS_1


Cih, sombong juga dia. Baru kali ini ada orang yang menolak untuk berjabat tangan denganku.


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2