
Sudah sekitar 1 jam Kaaran tertidur sambil memeluk istrinya. Memang sudah sangat lama dia merindukan posisi tidur seperti ini. Namun Kaaran harus terjaga saat dia merasa Rania mendorong dadanya.
"Lepaskan. Lepaskan aku." Samar-samar Kaaran mendengar Rania berkata seperti itu.
"Ada apa sih, Sayang?" tanya Kaaran. Dia masih sangat mengantuk sehingga merasa malas untuk bangun.
"Jangan sentuh aku. Lepaskan," kata Rania lagi, sambil semakin mendorong dada Kaaran dengan kuat.
"Tidurlah lagi Sayang. Kenapa kamu bangun sepagi ini? Kamu baru tidur sekitar satu setengah jam yang lalu." Kaaran berkata sambil semakin memperat pelukannya pada Rania.
"Aku tidak peduli. Lepaskan aku."
Semakin kuat Rania memberontak maka semakin erat pula pelukan Kaaran pada istrinya. Dia tidak rela melepaskan Rania dari pelukannya begitu saja.
"Tidurlah Sayang, jangan ribut. Nanti anak-anak bisa terbangun," bisik Kaaran.
__ADS_1
Namun tiba-tiba saja Kaaran langsung membuka kedua matanya lebar-lebar. Dia merasakan sakit pada bagian dadanya. Rupanya setelah dia periksa, Rania ternyata sedang menggigit dadanya dengan kuat. "Argh! Sayang, apa yang kamu lakukan?"
Kaaran yang merasa tidak tahan dengan gigitan Rania pun segera melonggarkan pelukan. Namun seketika saja Rania kembali mendorongnya dengan kuat hingga akhirnya dia terjatuh dari atas tempat tidur.
Bruk!
"Auwh."
"Rasakan itu." Dengan cepat Rania segera beranjak dari atas tempat tidur.
Rania melipat kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum sinis. "Cih, jadi selama ini kamu masih menganggap dirimu sebagai suamiku? Suami yang bagaimana maksudmu, hah? Suami yang tidak bertanggung jawab? Begitu?"
"Sayang, tolong jangan berkata seperti itu," kata Kaaran, sambil berjalan ke arah Rania. "Aku tahu kamu masih marah padaku. Aku minta maaf Sayang, aku benar-benar minta maaf," tambahnya sambil berusaha memeluk istrinya.
"Jangan mendekat! Jangan pernah berani-berani menyentuhku! Aku benci padamu!" teriak Rania. Dia menatap Kaaran dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Oe ... oe ...!" Seketika si kembar menangis secara bersamaan. Mungkin keduanya sangat terganggu karena pertengkaran kedua orang tuanya.
Mendengar tangisan kedua anak kembarnya, Kaaran dan Rania pun segera berlari mendekati box kedua bayi mereka. Dengan cepat Kaaran langsung membawa Zoe ke dalam gendongannya, sementara Zack langsung digendong oleh Rania.
"Cup cup cup. Maafkan Daddy sama Mommy ya, Nak. Kami berdua terlalu ribut sehingga mengganggu tidur kalian." Kaaran berkata sambil memeluk dan mencium Zoe yang ada di dalam gendongannya. Ternyata seperti ini rasanya dia menggendong buah hatinya untuk yang pertama kali. Dia benar-benar merasa bahagia dan terharu sehingga rasanya dia tidak ingin berhenti menghujami pipi putrinya dengan ciuman.
Sementara itu, Zack yang juga tengah menangis kini sudah berada di dalam gendongan Rania. Namun anehnya, Zack sepertinya sangat rewel ketimbang Zoe. Padahal, biasanya yang sering rewel adalah Zoe sedangkan Zack lebih penyabar, tapi entah mengapa malam ini sesuatu yang berbeda dari biasanya justru terjadi.
"Kenapa Zack tidak mau berhenti menangis? Apa dia memang sering rewel seperti itu?" Kaaran bertanya pada Rania.
"Aku juga tidak tahu. Karena biasanya yang rewel hanya Zoe," jawab Rania.
"Kalau begitu coba berikan padaku." Setelah Kaaran meletakkan Zoe di atas tempat tidur, dia pun segera menggantikan Rania menggendong putranya. Ajaibnya, Zack juga langsung berhenti menangis saat digendong oleh daddy-nya.
Kaaran tersenyum. Dia lalu membenamkan ciuman pada pipi putranya cukup lama. Astaga, nak. Ternyata kamu menangis karena kamu juga ingin digendong oleh daddy.
__ADS_1
B e r s a m b u n g ...