
"Apa itu?" tanyaku.
Seketika kami bertiga saling menatap satu sama lain.
"Sepertinya ada suara benda yang pecah di dalam rumah, Tuan," ucap Morgan.
"Iya Tuan, Morgan benar. Ada suara benda terjatuh dan pecah di dalam sana. Saya jadi curiga, jangan-jangan ...." William menggantung ucapannya.
"Jangan-jangan ada orang di dalam sana!" seru kami bertiga secara bersamaan.
Tidak salah lagi. Sepertinya dugaan kami benar. Ada sesuatu yang sangat mencurigakan di dalam sana.
Tak! Tak! Tak!
"Master Li! Master Li! Buka pintunya! Kami tahu kamu ada di dalam!" teriakku, bergantian dengan suara gedoran tanganku pada pintu rumahnya.
"Senior Li! Senior Li! Buka pintunya, Senior Li! Ini aku, Morgan!" Morgan ikut berteriak sama seperti aku.
__ADS_1
"Tuan, sepertinya rumah ini memiliki pintu yang lain. Tidak mungkin pemilik rumah ini menggembok pintu rumahnya dari luar kalau dia tidak memiliki pintu yang lain untuk masuk," kata William.
"Kamu benar, Will. Kalau begitu, ayo kita berpencar," ucapku.
"Sedangkan kamu Morgan, kamu tetap di sini untuk berjaga-jaga." Kali ini aku beralih berkata pada Morgan.
"Baik, Tuan," jawab Morgan.
Setelah mengatur strategi, aku dan William masing-masing menyusuri sisi kiri dan kanan rumah itu. Belum sempat kami menyusuri sampai di sisi belakang rumah, terlihat seorang pria mengenakan sweater berwarna hitam lusuh beserta topinya berlari dengan cepat memasuki hutan.
"Master Li, jangan lari!" teriakku.
"Will, periksa isi di dalam rumahnya, biar aku saja yang mengejar. Jangan sampai ini hanya tipuan," titahku pada William.
Yang aku khawatirkan, pria yang sedang berlari itu hanya seseorang yang dipakai untuk mengalihkan perhatian kami, sedangkan Master Li yang asli masih ada di dalam sana dan malah memilih kabur setelah kami semua lengah dan tertipu karena mengejar orang lain yang dijadikan sebagai umpan.
Menurut informasi yang aku dapatkan sebelumnya dari Morgan, bahwa Master Li itu pernah mengalami trauma setelah semua anggota keluarganya dibantai habis oleh kawanan Black Mamba. Makanya, dia memilih untuk meninggalkan kota besar dan memilih untuk mengasingkan diri di puncak Gunung Moza, dimana tidak ada manusia lain yang tinggal di sana selain dirinya.
__ADS_1
"Master Li! Tunggu dulu! Jangan kabur!" teriakku, sambil terus berusaha mengejar seseorang yang aku pikir bahwa dia adalah orang yang saat ini kami cari dan butuhkan.
"Si*al. Larinya cepat juga," gumamku, seraya terus berusaha mengejarnya.
"Master Li! Master Li!" teriakku, tapi orang yang aku kejar itu tidak kunjung menghiraukan teriakku, justru malah terus berlari tanpa henti.
Setelah hampir 10 menit saling kejar-kejaran di dalam hutan, aku pun semakin mempercepat laju lariku saat orang yang aku kejar itu hanya berjarak beberapa meter saja di depanku.
Baru saja aku ingin menarik kain sweaternya dari belakang, tiba-tiba aku terpeleset.
"Ah! Auwh! Sial."
Untungnya aku bisa bangkit lagi dengan cepat dan kembali mengajarnya.
"Tuan! Anda tidak apa-apa?!" Aku mendengar seseorang bertanya padaku dari arah belakang. Saat aku menoleh, ternyata Morgan yang berlari menyusulku.
"Syukurlah kamu ada di sini. Ayo kita berpencar. Kamu lari ke sana dan aku lari ke sana," ucapku.
__ADS_1
"Baik, Tuan."
B e r s a m b u n g ...