RANIAKU, CANDUKU

RANIAKU, CANDUKU
Bab 78


__ADS_3

Setelah menemani mereka bersenang-senang, aku pun memutuskan untuk kembali ke rumah. Istriku pasti sudah menunggu kedatanganku sedari tadi.


Saat ini aku merasa sangat lega karena akhirnya masalah di perusahaan sudah selesai dan sekarang aku sudah bisa kembali meluangkan waktuku untuk istriku tercinta, sambil menunggu kelahiran sepasang buah hati kami yang tinggal menghitung beberapa minggu lagi akan segera terlahir ke dunia.


"Tuan, apa Anda ingin kembali ke villa sekarang?" Roy bertanya padaku.


"Hem," gumamku disertai anggukan.


Setelah berpamitan pada yang lainnya, aku pun akhirnya pulang diantar oleh Roy.


Sekarang ini sudah lewat dari pukul 10 malam. Ini pertama kalinya aku pulang selarut ini. Tadi saat aku menghubungi istriku, dia tidak menjawab panggilanku. Itu artinya, dia sudah tertidur.


.


.


Di tengah perjalanan pulang menuju villa, tiba-tiba saja Roy mengerem mendadak.


"Ada apa Roy?" tanyaku.


Sedari tadi aku tidak memperhatikan keadaan jalanan di depan sana, tapi yang aku yakini saat ini adalah, bahwa sekarang kami sedang berada di jalanan yang sepi pengendara.

__ADS_1


"Tuan, sepertinya di depan sana ada aksi pembegalan," jawab Roy.


"Apa? Begal?" tanyaku, sambil mengalihkan pandanganku ke arah depan.


Di depan sana terlihat seorang wanita berpakaian seperti seorang perawat rumah sakit. Wanita itu berlari mengejar dua orang pria yang melajukan motor dengan sangat cepat. Sepertinya kendaraan wanita itu sudah berhasil dicuri oleh kedua pelaku aksi kejahatan tersebut.


"Tuan, apa saya boleh turun menolong perempuan itu? Kasihan Tuan, seorang wanita seorang diri di tempat sepi dan gelap malam-malam begini," kata Roy.


"Lakukan saja, terserah kamu," ucapku.


Aku lalu memperhatikan Roy bersama wanita itu di depan sana. Dari bahasa tubuhnya, sepertinya wanita itu meminta Roy untuk mengejar pelaku pembegalan tadi sambil menangis. Larut malam begini menjadi korban kejahatan di tempat sepi seorang diri, tentu saja wanita itu sangat sedih dan ketakutan.


Beberapa saat kemudian, Roy bersama wanita itu terlihat mencari sesuatu di semak-semak. Sepertinya wanita itu kehilangan barangnya yang lain. Setelah menemukan apa yang dia cari, wanita itu pun lalu ikut berjalan di belakang Roy menghampiri mobil.


"Hem, tentu saja," jawabku.


"Tuan Kaaran tidak keberatan kamu ikut bersama kami. Ayo masuklah. Nanti aku akan mengantarmu pulang setelah aku mengantar Tuan Kaaran sampai di villa." Roy berkata pada perawat itu.


"Terima kasih banyak Tuan," ucap wanita itu.


.

__ADS_1


Villa


Setelah sebulan lamanya, malam ini aku akhirnya bisa tertidur dengan nyenyak sambil memeluk istriku. Semoga saja ke depannya setelah Johan tidak memiliki apa-apa lagi karena bangkrut, dia tidak bisa lagi mengganggu kehidupanku.


.


.


Pukul 4 pagi.


Saat aku sedang enak-enaknya tertidur, tiba-tiba saja William kembali menghubungiku.


Apa William sedang mabuk? Kenapa dia berani sekali menghubungiku jam segini? Apa dia lupa kalau masalah di perusahaan sudah terselesaikan semuanya? Batinku.


Aku memilih untuk mengabaikan panggilan dari William karena aku pikir bahwa pria itu sedang mabuk, tapi setelah aku tidak menjawab panggilannya sebanyak 3 kali, dia lalu mengirimiku pesan.


šŸ“© William : Tuan, gawat! Peperangan yang sebenarnya akan segera di mulai. Saya baru saja mendapatkan informasi terbaru dari Susan.


Dug.


Seketika detak jantungku berdetak lebih cepat.

__ADS_1


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2