RANIAKU, CANDUKU

RANIAKU, CANDUKU
Bab 24


__ADS_3

"Baiklah. Tidak apa-apa jika kamu ingin membatalkan surat perjanjiannya, tapi terlebih dahulu kamu harus membaca apa konsekuensinya," ucapku, sembari tersenyum penuh kemenangan.


"Nona, silahkan buka 2 halaman terakhir sebelum Anda mengambil keputusan untuk membatalkan surat perjanjian Anda dengan Tuan Kaaran." Kali ini Roy yang angkat bicara.


Dengan napas yang memburu, dia kembali membaca surat perjanjian itu. Namun, baru beberapa detik saja dia membacanya, dia langsung membanting kembali surat perjanjian itu di atas meja.


"Brengsyek! Kalian sengaja menjebakku, ya?!" teriaknya.


Melihatnya marah seperti itu, aku justru malah tertawa. Entah mengapa wanitaku ini selalu terlihat lucu dan menggemaskan di mataku. Dan satu hal lagi yang membuatku sangat senang, dia akhirnya tahu kalau dirinya tidak akan pernah bisa lepas dariku.


"Bagaimana, apa kamu masih mau membatalkan surat perjanjian kita?" tanyaku.


Saat ini dia terlihat semakin geram dan marah padaku. Mungkin saja saat ini dia tengah memaki dan menyumpahiku dalam hati.


"Kamu pasti sengaja 'kan ingin menjebakku? Mengaku sajalah," ucapnya lagi.


Mendengarnya berkata seperti itu, aku kembali tertawa. Sekarang aku sudah bangkit dari dudukku seraya berjalan menghampirinya.

__ADS_1


"Rania ... Rania. Kamu ini sebenarnya polos apa bo doh? Siapa yang akan memberikanmu uang sebanyak itu secara cuma-cuma? Apa kamu sama sekali tidak pernah memikirkan tentang isi dari surat perjanjian ini?"


"Apa kamu sama sekali tidak curiga, kenapa sebelum kamu keluar dari villa waktu itu, kamu harus menanda tangani surat perjanjian ini terlebih dahulu baru kamu bisa keluar serta membawa sejumlah uang yang kamu minta?"


"Sepertinya kamu bukan polos lagi, tapi cenderung bo-doh," ucapku. Aku memang sengaja membuatnya semakin kesal. Wanitaku ini benar-benar sangat menggemaskan ketika marah. Aku jadi semakin tidak tahan untuk tidak menyentuhnya.


Sekarang ini aku sedang berjalan mengitarinya, aku menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Sepertinya ... kamu terlihat semakin cantik saja, Baby." Aku berkata seraya berusaha menyentuh pipinya, tapi dengan gerakan cepat dia langsung menepis tanganku. Dia terlihat semakin marah dan menatapku dengan tajam.


"Apa? Hahaha. Kamu ini lucu sekali. Jangankan menyentuhmu, memakanmu sekarang pun aku juga bisa," ujarku.


"Coba saja kalau berani. Ciak!!!"


Dengan gerakan cepat dia langsung melayangkan tendangan pada pipiku. Aku yang tidak menyangka akan mendapatkan serangan tiba-tiba seperti itu darinya langsung terhuyung dan jatuh ke lantai.


Plak!

__ADS_1


Bruk!


"Auwh," keluhku saat merasakan pipiku terasa kebas sesaat. Namun setelah itu rasa sakitnya sudah mulai ku rasakan. Kepala dan pinggangku juga ikut terasa sakit.


Aku mengusap sudut bibirku dengan jari, ku lihat darah segar menempel pada ibu jariku. Sial. Aku lupa kalau gadis ini bukan gadis sembarangan. Dia jago bela diri.


"Tuan, Anda tidak apa-apa?" Roy berkata seraya berlari menghampiriku. Dia ingin membantuku untuk bangun, tapi aku langsung menolak.


"Keluar," ucapku, seraya mengibas-ngibaskan tanganku mengusir Roy.


"Tapi, Tuan-"


"Aku bilang keluar!" bentakku. Aku tidak butuh dibantu untuk berdiri hanya gara-gara tendangan dari seorang gadis kecil.


Lihat saja gadis manis, apa yang akan aku lakukan padamu nanti. Kamu harus mendapatkan hukuman berat. Berani sekali kamu mempermalukanku di hadapan Roy. Kamu satu-satunya orang yang berani melawan dan menghajarku. Dan lagi, hukumanmu semakin bertambah berat karena kamu sudah berani bertemu dengan pria lain di belakangku.


B e r s a m b u n g ...

__ADS_1


__ADS_2