
"Ap-apa maksudmu?" tanyanya gugup sembari berjalan mundur.
Namun, dalam sekejap sebelah tanganku langsung melingkar di pinggangnya. Aku menatap lekat manik mata kecoklatan miliknya sambil tersenyum.
"Ka-kamu mau apa?" tanyanya. Dia semakin gugup saat jarak di antara wajah kami semakin menipis.
"Tolong beri aku sedikit energi," jawabku. Tanpa menunggu aba-aba lagi, aku langsung mel***t bi*bir manisnya, yang merupakan salah satu bagian yang sangat aku rindukan selama ini darinya.
Merasa dia tidak melakukan perlawanan sedikit pun, aku menjadi semakin bersemangat untuk melampiaskan segala rinduku yang selama ini sudah sangat membuncah.
Ketika napasnya sudah mulai terengah-engah, aku pun akhirnya melepaskan pang****ku. Irama detak jantungnya juga terdengar begitu merdu di telingaku.
"Terima kasih. Sekarang aku sudah merasa lebih baik," ucapku, sambil tersenyum dan mengusap bibirnya yang basah karena ulahku. Setelah itu aku lalu melepaskan kedua tanganku yang melingkar di pinggangnya.
Rasanya aku masih ingin memeluknya dengan erat, melepaskan segala rindu yang sudah menggunung, tapi sayangnya, aku takut dia akan kembali marah padaku.
Kami lalu berjalan beriringan keluar dari toilet menuju meja makan.
"Duduklah kembali Nak Kaaran," ucap calon ibu mertuaku.
"Saya minta maaf, Bu. Sepertinya saya tidak bisa lagi ikut bergabung di meja makan. Saat ini perasaan saya sangat tidak enak," ucapku.
"Baiklah, kalau begitu istirahatlah Nak Kaaran," ucap ibu. "Bi Lastri, tolong tunjukkan kamar untuknya."
__ADS_1
"Baik, Nyonya," jawab bi Lastri. "Tuan, mari saya antar ke kamar tamu."
"Baik, Bi. Terima kasih."
.
Sesampainya di kamar tamu, aku lalu duduk bersandar di sandaran tempat tidur, sambil menyangga punggungku dengan bantal.
Aku senyum-senyum sendiri saat mengingat kejadian di dalam toilet beberapa menit yang lalu. Rasanya aku ingin melakukan lebih, tapi aku harus ingat batasan, takut wanitaku semakin marah dan membenciku. Aku sudah bertekad untuk tidak melakukan lebih sebelum dia resmi menjadi milikku seutuhnya.
.
.
"Tuan." Roy muncul dari balik pintu. Dia masuk ke dalam kamar seraya berjalan menghampiriku.
"Aku baik-baik saja Roy," jawabku.
"Apa Anda ingin makan sesuatu, Tuan?" tanyanya.
"Tidak ada."
"Dari kemarin Anda belum makan apa-apa, Tuan. Saya takut, Anda bisa jatuh sakit."
__ADS_1
"Tidak Roy, aku tidak mau makan."
"Tuan, katakan saja, Anda ingin makan apa? Saya akan memesankannya untuk Anda sekarang juga."
"Sudah aku bilang, aku tidak mau Roy. Harus berapa kali sih aku bilang?! Aku tidak mau makan, aku tidak berselera!" kesalku pada Roy.
"Tapi Tuan, Anda belum makan apa-apa dari kemarin, Anda bisa jatuh sakit kalau seperti ini terus."
"Roy! Aku bilang aku tidak mau! Kamu mau aku pecat, hah?!" teriakku.
"Baiklah Tuan kalau Anda tidak mau makan. Tapi izinkan saya memanggil dokter untuk memasangkan cairan infus untuk An-"
"ROY!!! Bisa diam tidak?! Atau kamu benar-benar ingin aku pecat!"
Roy ini benar-benar. Berani sekali dia membuat aku kesal.
"Ekhem." Seketika pintu kamar terbuka lebar, bersamaan dengan suara deheman itu.
"Tuan, karena Nona Rania sudah ada di sini, lebih baik saya pamit untuk beristirahat di kamar sebelah. Kalau Anda perlu apa-apa, cepat hubungi saya."
Roy langsung pamit begitu melihat wanitaku datang. Ini yang aku suka dari Roy, dia orangnya sangat pengertian.
B e r s a m b u n g ...
__ADS_1
...___________________________________________...
...2 Bab dulu ya guys,, aku beneran sibuk banget nih belum bisa crazy up🙏...