RANIAKU, CANDUKU

RANIAKU, CANDUKU
Bab 108


__ADS_3

Setelah Zack tenang, barulah Kaaran membaringkan putranya itu di samping putrinya. Kaaran tersenyum saat menatap kedua buah hatinya dengan tatapan penuh cinta. Dia lalu mencium keduanya dengan gemas secara bergantian.


"Sayang, ini pertama kalinya kalian berdua melihat Daddy, 'kan? Apa selama ini kalian juga sangat merindukan Daddy?" Kaaran bertanya pada kedua bayinya yang masih belum dapat berbicara. "Ya, selama ini Daddy juga sangat merindukan kalian, Nak," ucapnya lagi, seolah-olah kedua bayi itu dapat menjawab dan bertanya balik padanya.


Setelah cukup lama mengobrol, Kaaran pun memanggil suster untuk membuatkan susu untuk si kembar. "Suster, tolong buatkan susu untuk Baby Twins, sepertinya mereka lapar."


"Baik, Tuan."


.


.

__ADS_1


Pagi menjelang. Zoe dan Zack belum juga tertidur, mereka sepertinya keasyikan bermain dan berbicara bersama daddy mereka. Mungkin seperti inilah cara kedua bayi mungil itu melepas rindu pada daddy mereka.


Pagi ini sebelum suster memandikan mereka, Kaaran membawa kedua anaknya itu untuk berjemur di teras.


"Nak, mulai sekarang Daddy akan terus menemani kalian berdua. Daddy berjanji tidak akan pergi lagi. Daddy akan terus berada di sisi kalian bersama mommy kalian. Asal kalian tahu, Nak, kalian bertiga adalah segalanya bagi Daddy. Kalian adalah separuh nyawa Daddy. Tanpa kalian, hidup Daddy tidak akan berarti." Kaaran berkata sambil tersenyum dan menatap kedua bayinya yang sedang berbaring di atas stroller mereka masing-masing. Saat ini kedua bayi lucu itu tengah berjemur hanya mengenakan popok saja.


Setelah selesai berjemur, si kembar lalu diambil alih oleh suster untuk dimandikan dan ditidurkan kembali.


Saat ini Kaaran sedang duduk termenung di teras belakang villa. Dia bingung memikirkan, cara apa lagi yang akan dia lakukan untuk membuat istrinya memaafkannya. Sebelumnya dia memang sudah tahu bahwa pasti akan sulit baginya untuk mendapatkan maaf dari sang istri, mengingat betapa keras kepalanya istrinya itu, tapi tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa jadinya akan seperti ini.


"Tuan." Terdengar suara Roy memanggilnya. Ternyata asistennya itu tengah berdiri di sampingnya.

__ADS_1


Tanpa menjawab Kaaran lalu mendongak menatap Roy. Roy memberikan secangkir kopi hangat untuknya dan dia pun hanya menerimanya tanpa berkata sepatah kata pun.


"Apa Anda sedang ada masalah, Tuan?" tanya Roy, setelah dia duduk di kursi seberang meja Kaaran.


Kaaran mendengus. "Kepalaku sedang pusing, Roy. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk membuat Rania mau memaafkanku."


"Sabar Tuan. Seandainya nona Rania tahu apa sebenarnya telah Anda lalui sebelum akhirnya Anda bisa kembali lagi ke sini, saya yakin, nona Rania pasti tidak akan sampai hati mengabaikan Anda seperti ini, Tuan."


Kaaran kembali mendengus. "Tapi sayangnya aku tidak ingin Rania tahu hal itu sampai kapan pun, Roy."


"Itu terserah Anda, Tuan. Saya juga tidak berhak untuk ikut campur masalah rumah tangga Anda."

__ADS_1


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2