
Saat aku hendak berangkat ke kantor, seperti biasa, istriku selalu mengantar kepergianku hingga sampai di belakang pintu utama villa.
"Sayang, ingat pesanku, jangan kemana-mana sebelum aku kembali, dan jangan pernah berani keluar dari villa saat aku tidak ada."
Setelah istriku mengangguki ucapanku, aku pun segera berangkat. Sebuah pekerjaan penting tengah menantiku bersama yang lainnya di kantor.
.
.
Kantor Pusat Galaxy Group
Aku berjalan dengan langkah lebar menuju ruanganku, diikuti oleh Roy, William, dan Morgan yanh berjalan tidak jauh di belakangku. Suasana kantor masih sunyi dan sepi, belum ada siapa-siapa selain kami berempat.
"Morgan, sebisa mungkin perkuat keamanan data perusahaan sebelum mereka mulai melakukan pembobolan. Kalau perlu, kita saja yang membobol data perusahaan mereka sebelum mereka yang mulai bergerak duluan. Kita buat pihak musuh kewalahan."
Saat ini, aku tidak bisa lagi menganggap Johan sebagai saudaraku, karena selama ini dia memang tidak pernah memperlakukanku layaknya seperti saudara. Justru sedari dulu aku selalu merasa bahwa setiap Johan menatapku, dia seperti sedang melihat musuh dan saingan terbesarnya.
__ADS_1
"Baik, Tuan," jawab Morgan.
"Will, apa ada informasi baru dari Susan atau pun dari suaminya?" tanyaku lagi.
"Untuk sementara tidak ada lagi Tuan," jawab William.
Begitu kami masuk ke dalam ruanganku, semuanya pun mulai bekerja dengan keras menggunakan laptopnya masing-masing.
Setelah bekerja selama beberapa jam memperkuat keamanan data perusahaan, sesuai rencana awal, kami pun mulai membobol data perusahaan musuh. Orang licik seperti kakak angkatku itu memang harus dilawan dengan cara yang licik pula biar sepadan.
Aku sangat bersyukur karena aku ada Susan bersama suaminya yang menjadi mata-mata kami di sana. Seandainya tidak ada mereka, aku tidak bisa lagi membayangkan apa yang akan terjadi pada perusahaan yang sudah aku rintis sejak lama.
.
.
Saat kami berempat tengah bekerja, tiba-tiba ponselku berdering, panggilan video dari istri tercintaku. Tanpa berlama-lama aku pun segera menjawab panggilannya.
__ADS_1
"Ada apa Sayang? Kenapa kamu belum tidur?" tanyaku. Sekarang waktu sudah hampir menunjuk pukul 9 malam, tapi dia belum juga tertidur.
"Coba putar kameranya," ucapnya. Bukannya menjawab pertanyaanku istriku malah bersikap aneh.
"Aku masih di kantor Sayang. Lihat, itu Roy dan William yang sedang menemaniku bekerja," ucapku, sambil mengedarkan kamera belakang ponselku ke kiri dan ke kanan.
Senyum istriku langsung mengembang, lalu kemudian bertanya padaku dengan manja, "Daddy ... Daddy kapan pulang?"
Sepertinya ada yang aneh. Apa jangan-jangan, istriku tengah menaruh curiga padaku karena sekarang aku belum juga pulang di jam segini?
"Tunggu sebentar Sayang. Sebentar lagi aku akan pulang. Tidurlah, begadang tidak baik untuk kesehatan kamu dan anak kita," ucapku. Istriku langsung menurut, tidak lama kemudian sambungan telepon kami pun terputus.
Aku lalu berjalan ke belakang Morgan dan memperhatikannya bekerja dari arah belakang. Aku, Roy, juga William sebenarnya juga mengerti sedikit tentang IT, tapi Morgan adalah ahlinya, tanpa dia, bisa saja musuh membobol data perusahaanku dalam waktu yang sangat singkat.
"Bagaimana?" tanyaku pada Morgan.
"Aman Tuan, Anda tidak perlu khawatir," jawabnya.
__ADS_1
Mendengar jawaban Morgan, aku pun akhirnya memutuskan untuk pulang dengan tenang ke villa. Istriku di sana sudah pasti sangat kesepian karena sudah aku tinggal sejak tadi pagi.
B e r s a m b u n g ...