
Mendapat pesan seperti itu dari William, aku segera masuk ke dalam kamar mandi untuk menghubunginya balik.
"Apa yang terjadi, Will? Kamu sedang serius atau sedang mabuk?" tanyaku.
"Saya serius, Tuan. Saya mengetik pesan itu dalam keadaan sadar seratus persen. Saya baru saja mendapat informasi dari Susan bahwa tuan Johan sangat murka karena kekalahan dan kehancuran perusahaannya. Saat ini tuan Johan bersama anak buahnya sedang bersiap untuk datang kemari. Dan sebaiknya saya sarankan Anda segera meninggalkan villa Tuan, demi keselamatan nona Rania dan calon buah hati Anda, karena menurut informasi yang dapatkan dari Susan, bahwa tuan Johan akan mengejar Anda ke mana pun Anda pergi. Tuan Johan ingin balas dendam," jelas William panjang lebar.
"Johan si*alan." Aku mengepalkan tanganku geram.
Tadinya aku pikir setelah menghancurkan perusahaannya, dia tidak bisa lagi berbuat macam-macam dan mengganggu kehidupanku karena dia sudah tidak punya apa-apa lagi. Dan aku juga berpikir bahwa aku bisa kembali menghabiskan banyak waktuku bersama istri tercintaku karena tidak akan ada lagi gangguan. Nyatanya aku salah, sepertinya hidupku tidak akan bisa tenang sebelum kakak angkatku itu kehilangan nyawanya.
"Ya sudah. Cepat kerahkan puluhan anak buahmu untuk menjaga villa sekarang juga, Will. Sisanya biar ikut bersama kita ke markas," titahku. Selama ini yang aku percayakan untuk mengurus Mawar Biru adalah William. Selain Roy, dia salah satu anak buahku yang paling tangguh dan sangat bisa diandalkan.
"Baik, Tuan."
__ADS_1
Setelah memutus sambungan teleponku dengan William, aku pun segera menghubungi Roy. Aku ingin Roy segera mengetahui berita ini dan segera bersiap-siap untuk datang kemari.
"Halo, Tuan. Saya sudah mengetahui informasinya dari William," ucap Roy saat menjawab panggilanku.
"Baiklah. Kalau begitu cepat datang kemari. Sesegera mungkin kita harus bersiap-siap untuk berangkat ke markas," ucapku.
"Baik, Tuan."
Setelah menghubungi Roy, orang terakhir yang aku hubungi adalah dad Robin. Beliau harus tahu mengenai hal ini.
"Dad, maaf karena aku harus mengganggumu pagi-pagi begini. Mm begini dad, aku tahu kabar yang ingin aku sampaikan ini adalah kabar buruk, tapi aku pikir Daddy berhak untuk tahu," ucapku sedikit berbasa-basi.
"Katakan Kaaran, memangnya apa lagi yang terjadi?" Dad Robin kembali bertanya.
__ADS_1
"Begini Dad, menurut informasi yang aku dapatkan dari mata-mataku, sebentar lagi Johan akan menyerangku. Johan sangat marah karena aku berhasil mengalahkannya dalam perang IT yang telah kami lakukan selama sebulan terakhir," jelasku.
"Ladeni saja dia. Sepertinya dia memang sudah bosan hidup. Selama ini sikapnya memang sudah sangat keterlaluan. Dia tidak tahu bagaimana cara membalas budi. Daddy juga sudah tidak peduli lagi padanya. Kalau perlu, habis saja dia sekalian, barulah setelah itu kamu bisa memikirkan kembali keputusan yang kamu ambil beberapa waktu lalu."
Mendengar dad Robin berkata seperti itu, aku jadi tidak tahu harus berkata apa. Sepertinya dad Robin sudah mendukung keputusanku untuk meninggalkan dunia hitam ini, tapi itu setelah Johan sudah benar-benar lenyap di muka bumi ini.
"Johan memang saudara angkatmu. Kalian sama-sama anak angkat Daddy, tapi kalau sudah seperti ini, sikap Johan benar-benar tidak bisa ditolerir lagi. Saat kamu merendah karena ingin menghargai dan menghormatinya sebagai kakakmu, dia malah seperti ingin menginjak-injakmu. Orang seperti Johan memang tidak pantas hidup."
Aku kembali terdiam. Tidak tahu harus berkata apa untuk menanggapi semua ucapan dad Robin. Sepertinya beliau juga sangat geram dengan sikap anak angkat tertuanya itu.
"Mm ... Dad, kalau begitu aku bersiap-siap dulu," ucapku.
"Ya, berhati-hatilah, Nak. Jangan sungkan-sungkan untuk meminta bantuan Daddy saat kamu dalam kesulitan."
__ADS_1
"Baik, Dad. Terima kasih banyak."
B e r s a m b u n g ...