
Bug.
Bug.
Bruk.
Setelah beberapa menit kemudian Kaaran membiarkan Rania menghajar Zidan dan Kaaran rasa itu sudah lebih dari cukup. Zidan di dalam sana pasti sudah babak belur karena ulah Rania. Namun, sebelum Kaaran menyuruh anak buahnya untuk mendobrak pintu toilet, dia sempat mendengar sebuah fakta baru tentang istrinya.
"Zidan, apa kamu ingin tahu rahasia terbesarku? Sebuah rahasia besar yang bahkan suamiku pun tidak akan pernah aku beritahu. Aku hanya akan menceritakan rahasia ini padamu. Kenapa? Karena aku takut suamiku akan marah dan cemburu jika mengetahuinya."
Kaaran mengerutkan dahi mendengar ucapan Rania barusan. Seketika dia menjadi penasaran, apa sebenarnya yang istrinya itu sembunyikan darinya. Apakah ada hubungannya dengan Zidan? Kenapa Rania berkata bahwa dia tidak ingin membuat Kaaran marah dan cemburu jika mengetahuinya?
"Sebenarnya, aku belajar ilmu bela diri gara-gara kamu, Zidan. Gara-gara kamu dulu yang pernah membuat aku sakit hati dan kecewa," kata Rania. "Sudah sejak lama aku menantikan moment ini, menggunakan ilmu bela diri yang aku pelajari untuk menghajarmu hingga babak belur. Dan akhirnya, impian itu benar-benar terwujud sekarang. Aku merasa sangat lega dan puas sekali. Hahaha."
__ADS_1
Mendengar penjelasan istrinya, Kaaran justru malah menyunggingkan senyuman lebar. Rupanya hanya rahasia seperti itu. Mana mungkin semacam itu bisa membuatku marah dan cemburu. Kaaran bergumam dalam hati.
"Ryan, Alex, dobrak pintunya sekarang," titah Kaaran pada kedua pengawalnya.
"Baik, Tuan." Kedua pengawal berseragam hitam lengkap itu pun langsung maju ke depan. Hanya dengan dua kali usaha, mereka berdua sudah berhasil merusak pintu toilet hotel.
Bruak!
"Dad-Daddy." Rania berkata dengan gugup. Dia pasti merasa sangat ketakutan. Takut Kaaran akan salah paham dan berpikir yang tidak-tidak tentangnya dan Zidan. Apalagi di dalam toilet itu hanya ada mereka berdua saja, tidak ada orang lain. Tapi melihat kondisi Zidan yang saat ini sudah babak belur cukup membuat Rania merasa lebih tenang. Hal itu pasti bisa membuktikan bahwa dirinya tidak berani macam-macam dengan laki-laki lain di belakang suaminya.
Begitu pintu terbuka lebar, Kaaran langsung berjalan cepat menghampiri istrinya. "Sayang, kamu tidak apa-apa, 'kan?" tanya Kaaran. Setelah memeriksa tubuh Rania dari atas hingga ke bawah, lalu depan dan belakang, Kaaran melihat tidak ada lecet sedikit pun di tubuh Rania, dia pun segera membawa wanita kesayangannya itu ke dalam pelukannya.
"Ak-aku ... tidak apa-apa." Rania baru sempat menjawab setelah beberapa saat kemudian, setelah dia yakin bahwa Kaaran tidak marah padanya.
__ADS_1
"Roy, urus dia. Bawa dia ke tempat biasa," titah Kaaran setelah melepaskan pelukannya pada Rania.
"Baik, Tuan." Tanpa perlu berlama-lama, Roy bersama kedua pengawal itu segera mengambil tindakan untuk menyeret Zidan keluar dari sana.
"Nia, aku minta maaf, Nia! Tolong bujuk Tuan Kaaran untuk mengampuniku!" Zidan berusaha memohon belas kasihan saat kedua pengawal itu dengan kasar memaksanya untuk berdiri.
"Nia, aku benar-benar minta maaf! Aku salah, Nia! Tolong bantu aku! Bicaralah! Bujuk Tuan Kaaran untuk melepaskanku!" teriak Zidan.
"Diam! Jangan berisik!" bentak salah satu pengawal tersebut.
"Nia! Tolong aku, Nia! Kalau kamu mau memaafkanku, aku berjanji tidak akan pernah mengganggu kehidupannya lagi! Aku akan pergi sejauh mungkin, Nia!" teriak Zidan tapi tetap saja tidak ada yang peduli padanya.
B e r s a m b u n g ...
__ADS_1