
"Ak-aku menangis jug-juga gara-gara ka-mu. Kalau ka-mu sudah tidak sa-yang lagi sama ak-aku, bilang sa-ja. Jangan ja-dikan bisnis se-bagai alasan," ucapnya tersendat-sendat karena menangis tersedu.
"Astaga Sayang ... harus berapa kali aku bilang? Aku mana berani mengkhianati kamu? Aku memang pergi karena ada urusan, bukan karena bosan sama kamu. Apalagi karena ingin mencari perempuan lain."
Bagaimana bisa aku berselingkuh? Timunku saja ogah berdiri jika bukan dengan pawangnya, yaitu dirinya, Raniaku.
"Bo-hong. Aku ti-dak percaya."
"Astaga Rania ... tolong jangan berpikiran yang aneh-aneh Sayang. Aku benar-benar sudah berubah, aku bukan lagi Kaaran Dirga yang playboy seperti dulu," ucapku. "Sayang, please ... jangan menangis. Pikirkan anak-anak kita yang ada di dalam kandungan kamu. Kalau kamu sedih, pasti akan membawa pengaruh pada mereka."
Rania menyeka air matanya sebelum membalas ucapanku. "Lebih sedih lagi kalau mereka lahir tapi daddy mereka tidak ada."
"Sayang, aku mohon. Mengertilah. Pekerjaan ini juga tidak kalah pent-"
"Pokoknya aku tidak mau lagi menerima alasan. Kalau nanti kamu tidak pulang saat aku melahirkan, aku tidak mau bicara lagi sama kamu, Dad."
__ADS_1
Tut tut tut.
Istriku langsung memutus sambungan telepon kami setelah memotong ucapanku. Begitu aku hubungi kembali, nomornya tidak bisa lagi dihubungi. Sepertinya nomorku sudah dia blokir.
Aku mengusap wajahku dengan kasar. Pasti ke depannya aku akan kesulitan untuk membujuk istriku. Aku tahu betul betapa keras kepalanya dia.
Karena tidak punya cara lagi untuk menghubunginya, aku pun memilih untuk mengawasi istriku lewat layar monitor. Ku lihat dia kembali menagis seperti kemarin-kemarin. Kalau dibiarkan begini terus, dia bisa stres dan itu sangat berpengaruh pada kondisi janin yang ada di dalam kandungannya.
"Aku benar-benar minta maaf Sayang. Aku mohon, berhentilah menangis," gumamku, sambil terus menatapnya pada layar.
Karena tidak sanggup melihat pemandangan itu, aku pun memutuskan untuk keluar dari ruangan untuk menghirup udara segar. Belum selesai masalah Johan, sekarang ditambah lagi dengan masalah istriku yang merajuk.
.
.
__ADS_1
Aku baru kembali memeriksa keadaan istriku. Sejak kemarin aku tidak memberanikan diri untuk memeriksa keadaannya takut malah semakin membebani pikirkanku. Dan aku pikir saat ini dia sudah lebih tenang mengingat terakhir kali kami berkomunikasi adalah saat kemarin siang.
Namun, aku sangat terkejut saat melihat baju yang dipakai istriku masih sama seperti kemarin siang. Setelah aku periksa rekaman CCTV hingga lebih dari 10 jam yang lalu, ternyata istriku tidak pernah meninggalkan tempat tidur. Dia tidak pernah makan, tidak pernah minum, dan juga tidak pernah keluar kamar. Yang dia lakukan hanyalah menagis secara terus menerus.
"Astaga Rania .... Kenapa kamu sampai segitunya Sayang?" gumamku frustasi.
Jika saja bahaya tidak mengancam jika aku kembali ke villa, maka detik ini juga aku akan kembali untuk menemui dan menemaninya. Namun apalah daya, yang bisa aku lakukan hanyalah terus mengawasinya lewat layar monitor.
Seketika aku terpikir untuk menghubungi bi Nining, kepala pelayan di villa. Aku ingin meminta bantuan beliau untuk segera naik ke kamar untuk memeriksa keadaan istriku.
"Maafkan saya Tuan, saya yang tidak becus menjaga nona Rania," ucap bi Nining.
"Tidak apa-apa, Bi. Bibi tidak sepenuhnya bersalah kok," ucapku.
"Kalau begitu saya periksa keadaan nona Rania dulu, Tuan."
__ADS_1
"Baik, Bi."
Setelah menghubungi bi Nining, aku pun lalu menghubungi ibu mertuaku. Aku ingin meminta beliau menenangkan putrinya.