
Karena merasa ada yang aneh dengan kondisi Kaaran, dokter Raymond pun memeriksanya kembali. Dia mencoba mengangkat tangan Kaaran, akan tetapi Kaaran terlihat sangat tidak berdaya, tangan dan kakinya juga terasa dingin.
Dokter Raymond mulai merasakan firasat buruk. Dia takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada sahabatnya itu. Sebelum membawa Kaaran ke ruang pemeriksaan, terlebih dahulu dokter Raymond menghubungi profesor Adhulpus, karena dari profesor Adhulpus lah dia mendapatkan obat penawar virus yang ditembakkan oleh musuh hingga bisa masuk dan bersarang di dalam tubuh Kaaran.
"Selamat siang, Prof. Maaf jika saya mengganggu waktu berharga Anda." Dokter Raymond berkata saat profesor Adhulpus menjawab panggilan teleponnya.
"Oh, tidak apa-apa Dokter Raymond, saat ini aku juga sedang tidak sibuk. Apa ada yang bisa ku bantu?" tanya profesor Adhulpus.
"Mm ... begini Prof. Saya ingin menanyakan mengenai kondisi sahabat saya," jawab dokter Raymond.
"Kaaran Dirga?" tanya profesor Adhulpus.
"Ya, Prof."
__ADS_1
"Apa dia sudah siuman? Ini sudah 24 jam lebih kita menyuntikkan obat penawar virusnya."
"Ya, dia sudah siuman, Prof."
"Baguslah jika dia sudah siuman. Lalu apa terjadi suatu masalah?"
"Ya Prof, sepertinya Kaaran mengalami kelumpuhan, tapi ini hanya perkiraan saya saja karena saya juga belum memeriksa keadaannya lebih lanjut."
"Ya ya ya. Aku tahu apa masalahnya. Terjadinya kelumpuhan pada pasien yang terkena virus XOR-22 itu memang wajar, karena sasaran utama virus jenis itu memang berpusat pada susunan syaraf seseorang. Jadi wajar saja jika Kaaran mengalami kelumpuhan setelah terkena virus XOR-22."
"Tentu bisa. Bukankah kita sudah memberinya obat penawar virus? Aku bisa menjamin obat penawar virus temuanku itu pasti sangat manjur. Aku sudah mencoba pada beberapa pasien yang sempat terpapar virus jenis yang sama. Tapi lamanya proses penyembuhan itu tergantung dari kondisi tubuh pasien masing-masing. Dalam beberapa kasus, pasien bisa sembuh total di bulan kedua setelah pemberian obat penawar virus. Di minggu kedua pasien akan mulai bisa menggerakkan anggota tubuhnya, seperti kepala, tangan dan kakinya. Kondisinya akan semakin membaik seiring berjalannya waktu," jelas profesor Adhulpus.
Dokter Raymond akhirnya bisa bernapas dengan lega setelah mendengar penjelasan profesor Adhulpus.
__ADS_1
"Baik Prof, terima kasih banyak atas penjelasannya. Maaf sudah mengganggu waktunya."
Setelah mengakhiri sambungan teleponnya dengan profesor Adhulpus, dokter Raymond pun kembali mendekati Kaaran.
"Bersabarlah Sobat. Kamu pasti akan segera sembuh." Dokter Raymond berkata sembari menggenggam erat tangan Kaaran.
Dokter Raymond pun lalu mengajak asisten Roy untuk bicara di luar. Untuk sementara dia tidak ingin Kaaran tahu mengenai kondisinya yang sebenarnya. Dia takut Kaaran akan shock dan berakhir malah memperburuk kondisinya.
"Dokter Raymond, sebenarnya apa yang terjadi pada tuan Kaaran? Kenapa setelah dia siuman kondisinya malah seperti itu?" Roy bertanya karena penasaran sekaligus khawatir akan kondisi tuannya.
"Saat ini Kaaran sedang mengalami kelumpuhan Roy."
Roy sangat terkejut. "Apa?! Lumpuh? Kenapa tuan Kaaran bisa mengalami kelumpuhan, Dokter? Apa sebenarnya yang terjadi padanya?"
__ADS_1
"Ini semua gara-gara virus mematikan yang berhasil ditembakkan musuh ke dalam tubuh Kaaran. Sepertinya musuh ingin Kaaran menderita dan tidak berdaya karena lumpuh, lalu kemudian meninggal secara perlahan Tapi kamu tenang saja, jangan khawatir. Karena kondisi ini hanya bersifat sementara. Perlahan-lahan nanti kondisi Kaaran akan semakin membaik seiring berjalannya waktu. Kata profesor Adhulpus, pasien yang telah mendapatkan obat penawar virus buatannya akan sembuh total dalam waktu 2 bulan. Tugas kita sekarang adalah, memberinya semangat agar dia bisa sembuh lebih cepat. Kasihan istri dan anak-anaknya, Roy, mereka sudah ditinggal cukup lama. Ditambah lagi nanti dengan proses penyembuhannya yang memakan waktu cukup lama."
"Ya, Anda benar Dokter. Nona Rania memang sudah cukup lama menunggu kepulangan tuan Kaaran."