
Untuk langkah penanganan berikutnya aku hanya bisa menyaksikan lewat layar monitor dan tentunya dengan perasaan deg-degan. Aku sangat berharap istri dan anak-anakku selamat agar saat aku pulang nantinya kami berempat bisa berkumpul dan memulai hidup bahagia bersama-sama.
Ku lihat dokter santi bersama asistennya mulai mempersiapkan segala hal yang diperlukan untuk melakukan tindakan operasi proses mengeluaran bayi dari dalam rahim dan perut ibunya.
Kurang lebih 40 menit kemudian setelah operasi dimulai. Aku menyaksikan kelahiran putri pertamaku dengan penuh haru hingga tidak terasa air mata bahagiaku mulai menetes menjauh dari pelupuk mataku.
Sekarang, aku benar-benar sudah menjadi seorang ayah. Aku berkata dalam hati dengan penuh kebanggaan.
Saat aku pertama kali mendengar tangisan bayi cantik nan mungil tersebut, rasanya aku sangat ingin menggendongnya dan membawanya ke dalam pelukanku. Namun sayangnya, saat ini aku masih belum bisa. Yang bisa aku lakukan hanya mengusap wajah mungilnya di layar ponselku. Saat ini perawat yang bertugas menjadi babysitter untuk kedua anakku sedang melakukan panggilan video denganku.
Berselang beberapa saat kemudian, putraku pun juga berhasil dikeluarkan dari perut istriku dengan selamat. Beban berat yang seperti menimpaku sejak beberapa jam yang lalu akhirnya terangkat juga. Aku benar-benar merasa sangat lega dan bahagia melihat kedua anakku lahir dengan selamat. Kini tinggal istriku yang sedang mendapatkan proses penanganan lebih lanjut untuk menyatukan kembali lapis demi lapis kulit yang sudah mendapat luka sayatan pisau bedah sebagai tempat jalan lahir alternatif untuk kedua bayi kami.
__ADS_1
Sembari menunggu istriku ditangani, kini aku dan ibu mertuaku yang melakukan video call. Beberapa saat setelah si kembar dilahirkan, keduanya lalu dimasukkan ke dalam ruang inkubator. Menurut penjelasan suster yang bertugas sebagai babysitter mereka, si kembar dimasukkan ke dalam ruang hangat khusus bayi tersebut karena sebelum keduanya terlahir ke dunia, mereka tadi hampir mengalami gawat janin, jadi mereka berdua memang harus dirawat dulu di dalam sana selama beberapa jam sebelum akhirnya boleh dikeluarkan.
"Nak Kaaran, apakah kamu sudah memiliki nama untuk mereka?" tanya ibu mertuaku dengan nada sangat pelan dan setengah berbisik, takut mengganggu si kembar.
"Iya Bu, saya memang sudah menyiapkan nama untuk mereka sejak jauh-jauh hari," jawabku sambil tersenyum.
"Siapa Nak Kaaran? Kami semua di sini sudah sangat penasaran."
"Nama yang bagus."
.
__ADS_1
.
Sudah 10 jam berlalu semenjak istriku selesai dioperasi, tapi hingga detik ini dia tidak kunjung sadarkan diri juga. Aku yang menyaksikan hal itu di layar monitor tentu saja merasa sangat khawatir dan tidak bisa tidur. Apalagi tadi pagi istriku memang sudah pingsan lebih dulu sebelum akhirnya ditangani oleh dokter Santi. Aku sangat takut terjadi hal-hal yang buruk dan tidak diinginkan menimpa Raniaku.
Karena sudah tidak tahan lagi melihat kondisi istriku yang seperti itu, aku pun memutuskan untuk menghubungi dokter Santi meski pun sekarang ini sudah masuk waktu tengah malam dan sudah waktunya orang beristirahat.
"Dok, kenapa Rania belum sadarkan diri juga hingga sekarang, Dok? Dan kenapa Dokter diam saja dan tidak melakukan apa pun untuk membuatnya siuman secepat mungkin?" tanyaku.
"Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya, Tuan. Seperti yang Anda ketahui sebelumnya, bahwa keadaan nona Rania sebelum saya tangani memang sudah sangat lemah, jadi waktu siumannya membutuhkan waktu yang relatif lebih lama dari pasien normal pada umumnya," jelas dokter Santi.
"Dok, apa Dokter tidak memiliki cara untuk membuatnya siuman lebih cepat?"
__ADS_1
"Saya benar-benar minta maaf, Tuan. Saya sudah berusaha memberikan penanganan terbaik untuk istri Anda. Kita berdoa saja bersama-sama, semoga nona Rania bisa segera terbangun dan melewati masa kritisnya."