RANIAKU, CANDUKU

RANIAKU, CANDUKU
Bab 83


__ADS_3

Jika satu minggu lagi Johan bersama kawanannya baru akan menyerang, itu artinya aku hanya akan meninggalkan istriku selama setengah bulan lebih. Dan itu artinya, aku bisa kembali menemani Rania berjuang melahirkan calon anak kembar kami nantinya.


Tiba-tiba tanganku terasa gatal untuk menghubungi Roy sendiri, padahal tadinya aku sudah menyuruh William untuk melakukannya.


"Iya Tuan," ucap Roy setelah menjawab panggilan telepon dariku.


"Roy, bagaimana, apakah kamu bersama dokter Santi sudah mempersiapkan semua alat-alat medis yang diperlukan saat Rania lahiran nanti?" tanyaku.


"Alat-alatnya sudah lengkap, Tuan. Kami baru saja menatanya di tempat yang ada mau," jawab Roy.


Yang aku mau, Rania melahirkan anak-anak kami di villa, bukan di rumah sakit. Maka dari itu aku sengaja menyewa jasa dokter Santi, dokter spesialis kandungan yang sangat handal untuk menangani istriku dari awal kehamilan sampai melahirkan nantinya.


"Jika Anda ingin melihat hasilnya, Anda bisa mengeceknya secara langsung lewat rekaman CCTV yang ada di ruangan itu, Tuan. Bukannya semua ruangan di villa sudah terpasang kamera CCTV." Roy kembali berkata.


Yang Roy katakan sangatlah benar. Dengan segera aku mengeceknya sendiri lewat komputer yang ada di hadapanku.


Saat ini ruangan yang berada tidak jauh dari ruang kerjaku itu pun sudah terlihat seperti sebuah klinik.


"Kerja bagus. Apa semuanya sudah benar-benar lengkap dan tidak kurang sesuatu sedikit pun?" tanyaku, ingin memastikan.

__ADS_1


"Kata dokter Santi sudah, Tuan. Anda tidak perlu khawatir," jawabnya.


"Lalu bagaimana dengan dua babysitter-nya. Apa kamu sudah menemukan perawat yang tepat?" tanyaku lagi. Aku benar-benar ingin memastikan anak dan istriku mendapatkan perawatan terbaik.


"Sudah juga Tuan, saya sudah menemukannya. Satu dokter Santi yang merekomendasikannya dan satunya lagi saya yang mencarinya sendiri Tuan."


"Kamu yang mencarinya sendiri? Memangnya kamu punya kenalan di dunia kesehatan?" Aku sedikit meragukan hal itu tentang Roy, karena setahuku selama ini tidak ada.


Dalam hal ini, mencari babysitter untuk kedua anakku tidak boleh asal-asalan. Takutnya orang yang dijadikan pengasuh itu adalah orang-orang dari musuh yang menyamar. Atau memang benar pengasuh tapi bekerja sama dengan musuh untuk menjadi mata-mata. Itu yang paling aku takutkan.


"Oh, itu ... saya ... mm saya ... saya punya kenalan, Tuan."


"Ti-tidak kok Tuan. Saya tidak gugup."


"Jangan coba-coba membohongiku Roy. Aku tidak mau kamu bermain-main dalam memilih seseorang untuk mengasuh anak-anakku nanti."


"Tidak, Tuan. Saya mana berani asal-asalan dalam memilih perawat untuk merawat tuan muda kecil dan nona muda kecil saat lahir nanti.


"Lalu kalau begitu, apakah perawat yang kamu pilih itu benar-benar bisa dipercaya?"

__ADS_1


"Tentu saja, Tuan," jawabnya. Kali ini Roy terdengar sangat yakin. "Tuan, apa Anda masih mengingat perawat yang kita tolong malam itu? Dia orangnya, Tuan. Namanya suster Ria."


Aku mengerutkan kening. Sepertinya ada sesuatu yang mencurigakan. Bagaimana bisa Roy langsung mempercayai orang yang baru dia kenal baru-baru ini untuk menjadi pengasuh si kembar nantinya.


"Roy, ralat ucapanmu. Bukan kita yang menolong perawat itu, tapi lebih tepatnya kamu saja yang menolongnya."


"Ah, iya Tuan. Saya minta maaf. Saya saja yang menolongnya, Anda tidak."


"Jadi apa kamu bisa menjamin bahwa perawat yang kamu pilih itu bisa dipercaya?" tanyaku sekali lagi.


"Tentu saja, Tuan. Jika dia berani berbuat macam-macam, maka saya siap menanggung resikonya. Karena yang memilihnya adalah saya."


"Baiklah. Aku pegang ucapanmu."


B e r s a m b u n g ...


...___________________________________________...


...Guys, apa ada yang ingat dengan suster Ria, belahan jiwa asisten Roy?🤭 Yang sudah baca novel 'One Night Love Devil' sampai tamat pasti tau dong ya😁...

__ADS_1


__ADS_2